Prof. Dr. Adler Haymans Manurung sebagai pembicara saat memaparkan materi Peranan Obligasi Sebagai Penguatan Pembiayaan Jangka Panjang dan IPO (Initial Public Offering) Untuk Peningkatan Daya Saing Sebagai "Corporate Action" dalam Era Globalisasi di Hotel Pangeran, Jumat (24/6/16).

Senin, 27 Juni 2016 - 05:57 WIB 12330000

Adler: Untuk Eksis BRK Sanggup Terbitkan Obligasi 5 Triliun Segera Dirancang

Share ke BBM

Riau Book - Prof. Adler Manurung adalah President Assosiasi Analisis Pasar Investasi dan Perbankan (AAPIP) dan juga sebagai Ketua Asosiasi Pengelola Reksa Dana serta Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter KADIN Indonesia.

Selain itu beliau juga lulusan Lemhanas RI — PPSA 20 dan juga guru besar dalam bidang Pasar Modal dan Perbankan secara gamblang menyatakan bahwa BRK sebenarnya sanggup dan memenuhi syarat untuk menerbitkan obligasi senilai 5 Triliun, hal itu berdasarkan hasil kajian singkatnya di laptop milik pribadinya yang diliatkan keada insan media. Pernyataan dari Adler berdasarkan hasil dari PT. Fitch Rating Indonesia yang berwenang utk menilai rating perusahaan indonesia menyatakan bahwa BRK memiliki nilai "A".

Ditemui terpisah usai acara workshop mari kita simak wawancara ekslusif bersama Prof. DR. Adler Heymans Manurung.

alam paparannya Prof. Dr. Adler Haymans Manurung meyampaikan hasil kajian yang pernah dilakukannya berdasarkan laporan keuangan BRK tahun 2015 sepatutnya BRK telah memenuhi syarat untuk menerbitkan obligasi sebesar 5 triliun.

Selanjutnya ia menguraikan bahwa Obligasi BRK merupakan obligasi yang menguntungkan bagi bank tersebut, dikarenakan bank tersebut tidak meyiapkan singking fund setiap tahunnya. Bila BRK harus menyiapkan singking fund maka bank tersebut akan mengalami yang lebih besar dari 10,4%.

Singking Fund adalah dana yang dipersiapkan sebuah perusahaan/bank penerbit obligasi setiap tahunnya yang dipergunakan nantinya untuk membayar pokok dari obligasi tersebut. Dana yang dipersiapkan setiap tahun harus dibuat di escrow account dari bank sebagai wali amanat (Trustee) dengan bunga yang kecil. Artinya menurut Adler BRK memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi di pasar modal sehingga tidak memerlukan back up singking fund.

Pembayaran pokok obligasi BRK tidak membuat bank tersebut akan menemukan permasalahan, ditambah lagi menurut Adler cash flow BRK sangat baik saat ini. BRK bisa menerbitkan obligasi lagi dengan nilai yang lebih tinggi untuk pendanaan di masa mendatang. Pengalaman bank-bank sejenis juga melakukan hal yang sama seperti Bank Jatim, Bank Sumut, Bank Jabar dan Bank Jateng. Sebagai contoh yang menarik, pegadaian sudah melebihi 10 kali menerbitkan obligasi dan obligasi berikutnya selalu lebih besar dari obligasi sebelumnya agar bisa membiayai bisnis pegadaian.

Lebih dalam Adler memaparkan, Bank sebagai lembaga perantara maka bank mengoperasikan bisnisnya dikenal dengan pendekatan Asset Liability Management (ALM). Pendekatan ALM ini menyatakan bahwa pembiayaan bank dari berbagai sumber termasuk dari saham (sering disebut ekuitas).

Bank bisa mendapatkan pembiayaan dari variasi biaya yang dibayarkan, misalkan deposito sebesar 6 %, obligasi 10% dan saham lebih tinggi lagi. Sebuah bank untuk tumbuh harus memerlukan pembiayaan dari berbagai sumber sehingga ditemukan biaya rata-rata.

Selanjutnya, bank menyalurkan kredit kepada pihak lain dari dana yang dikumpulkan dari berbagi pihak diman rata-rata bunga yang dikenakan harus lebih tinggi dari rata-rata baiaya bunga yang didapatkannya.

Dalam teori pendanaan perusahaan yang optimal diperkenalkan oleh MM (1961), Myers and Majluf (1984) dan sebagainya menyatakan bahwa eamings aset lebih tinggi dari biaya dikeluarkan maka perusahaan bisa menerbitkan hutang, BRK memiliki pendapatan bunga (neto) masih terus berlangsung selama obligasi diterbitkan maka tidak ada yang salah dilakukan oleh BRK.

Jadi, menurut Adler untuk menghitung tingkat keuntungan dari obligasi tidak bisa dihitung berdasarkan dana hasil obligasi disalurkan head to head kepada salah satu jenis pembiayaan, dan juga menurut Adler obligasi merupakan salah satu bagian pendanaan dari BRK secara menyeluruh dan tidak bisa dihitung sebagai dasar cost of fund tersendiri melainkan untuk menghitung cost of fund tersebut biaya kupon obligasi itu harus digabungkan (Blanded) dengan biaya dana dari deposito, giro dan tabungan. (RB/rls)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM

100000000
Fazar Muhardi

Berita Terkini

Buat Pasar Murah, PLN Jual 500 Paket Sembako

Sabtu, 25 Juni 2016 - 03:13 WIB

Bank Riau Kepri Rencanakan GoPublic 2 Tahun Kedepan

Jumat, 24 Juni 2016 - 07:53 WIB

Hanya Rp50 Ribu, Warga Dapat Paket Sembako Murah

Jumat, 24 Juni 2016 - 06:51 WIB

Pengaduan THR ke Disosnakertrans Rohul, Nihil

Jumat, 24 Juni 2016 - 06:26 WIB

Menteri Keuangan Pastikan THR PNS Cair Hari Ini

Kamis, 23 Juni 2016 - 07:30 WIB

Tak Bayar THR, Pemkab Siak Cabut Izin

Rabu, 22 Juni 2016 - 04:57 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia