Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H.
(Dosen Kajian Ketatanegaraan Fakultas Hukum Universitas Islam Riau/
Anggota MDI Kota Pekanbaru)
Umat Muhammad itu seperti lebah. Mereka tidak mau mengganggu. Tapi, kalau mereka diganggu, maka mereka akan menggigit. Mereka tidak akan tinggal diam. Mereka akan melawan. Mereka akan memberontak. Mereka akan bersatu. Tapi lagi-lagi, bersatunya mereka tidak akan merusak. Memberontaknya mereka, pastinya akan mendatangkan kebaikan dan kedamaian. Kondisi inilah yang terjadi di Indonesia beberapa waktu belakangan ini.
Luar Biasa. Luar dugaan. Bagaimana pula tidak. Umat yang mayoritas secara sosiologis, namun minoritas secara politis ini karena sudah terbiasa berpecah belah, "tiba-tiba" mereka bersatu dalam satu ikatan, yaitu dalam naungan ikatan keimanan. Jutaan orang mereka turun ke jalan. Hal itu begitu indahnya terlihat pada waktu 4 November yang lalu. Tak tanggung-tanggung, bersatunya umat ini di hari tersebut membawa dampak yang begitu terasa yaitu, Ahok ditetapkan sebagai tersangka. Tanpa itu, tidak mungkin. Sebab, lembaga negara sekaliber BPK saja sudah merilis bahwa terdapat kerugian negara sejumlah Rp191 miliar di Sumber Waras yang melibatkan Ahok, namun KPK tak mampu berbuat apa-apa. KPK tidak merujuknya. Begitu besar dan kuatnya posisi politis dan ekonomi Ahok itu. Temuan BPK saja diabaikan KPK. Kalau begitu, bubarkan saja BPK itu. Namun, melalui Al-Maidah 51, Ahok ternyata bukan siapa-siapa.
Begitu juga dengan bersatunya umat Muhammad ini tertanggal 2 Desember yang lalu. Aksi 2 Desember ini bahkan lebih besar dari aksi 4 November itu. Banyak rintangan dan hambatan. Umat ini berangkat ke Jakarta dihalang-halangi. Umat ini diisukan akan makar. Umat ini diperlakukan seperti warga kelas dua saja, padahal umat ini mayoritas. Umat ini dibilang anti keberagaman. Umat ini dibilang merusak NKRI. Namun itu semua, sedikit pun tidak menghalangi umat ini berangkat dan bersatu dengan saudara seiman yang lainnya di Jakarta. Bahkan, di antara mereka pun ada yang rela berjalan kaki walaupun sesungguhnya itu tidak layak untuk menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Luar biasa umat Islam dari Ciamis itu. Luar biasa. Semangatmu itu layak itu dijadikan contoh. Allahu Akbar.
Kendatipun banyak pihak yang sinis bahwa aksi tersebut dapat merusak NKRI, dan keberagaman, namun yang terjadi adalah sebaliknya. Faktanya berbeda 360 derajat dari apa yang mereka prediksikan itu. Melalui tulisan ini saya berucap, umat Muhammmad tidak seperti yang kalian tuduhkan wahai kalian yang selalu bilang cinta NKRI dan keberagaman itu.
Setelah aksi umat Muhammad tertanggal 2 Desember itu, umat inipun kembali bersatu melalui aksi 1212, 12 Desember, yaitu Gerakan Shubuh Berjamaah Nasional. Luar biasa. Sungguh luar biasa. Belum pernah terjadi semasif ini sebelumnya. Allahu Akbar. Saya yakin, musuh-musuh Islam di republik ini pastinya makin menangis. Pastinya mereka semakin khawatir. Bukankah di sisi yang lain juga orang-orang Yahudi selalu berucap, bahwa kemenangan umat Islam masih jauh manakala jamaah shalat Shubuh umat ini tidak sebanyak jamaah shalat Jumat? Dan, kita telah buktikan, kita hari ini sudah berubah. Semoga ini adalah awal yang baik untuk Islam dan untuk Indonesia.
Dari semua ini, mari kita ambil pelajaran. Ternyata kita bisa bersatu. Tak peduli apa latar belakang kita. Tak peduli ormas kita apa. Tak peduli latar belakang pendidikan kita apa. Tak peduli pergerakan kita apa. Tak peduli organisasi kita apa. Tak peduli strata sosial kita. Dan, juga tak peduli perbedaan semu lainnya dari kita. Namun lagi-lagi, semua itu hadir dan mengalir dengan derasnya, tak lain dan tak bukan adalah karena Allah. Allah memberi umat ini hadiah melalui Al-Maidah 51. Alhamdulillah. Terimakasih Allah. Terimakasih hadiahnya. Engkau begitu baik. Engkau berikan hadiah yang terindah untuk kami umat Muhammad ini. Inilah penantian kami selama ini wahai Allah. Kembali Engkau buktikan kepada kami, semuanya akan indah tepat pada waktunya.***
Allah Berikan Hadiah Melalui Al-Maidah 51
3 Ancaman Berbahaya Bagi NKRI, Saatnya Revolusi Mental Bagi Generasi Muda
Sidang Perdana Ahok, Harga Perhiasan Emas Kembali Turun
Biodata Penulis
Wira Atma Hajri, lahir di Bangkinang (Riau), 11 Maret 1990. Penulis adalah Abituren Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang (2008). Meraih gelar Sarjana Hukum Kajian Ketatanegaraan dari Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) sebagai lulusan terbaik (2012), dan Magister Hukum kajian yang sama dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dengan predikat Pujian (Cumlaude) dalam waktu 13 bulan (2013). Saat ini adalah Dosen Tetap Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Riau pada Fakultas Hukum UIR. Di samping itu juga dipercayakan oleh Rektor UIR sebagai Pengelola UIR Press. Sampai saat ini tercatat sebagai Anggota Majelis Dakwah Islamiyah Kota Pekanbaru dengan Nomor Indeks/Keanggotaan 628.
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…