DAKWAH JUMAT

Islam dan Etika Debat

Tradisi debat yang disinyalir menandakan kemampuan berpikir kritis sebenarnya dimiliki setiap bangsa dan peradaban. Namun, sebagian kalangan menganggap tidak setiap bangsa mempunyai kualitas perdebatan skolastik, yang menumbuhkan kemampuan berpikir kritis.

Olga Wiejers dalam buku In Search of The Truth (2013) mengklaim, perdebatan skolastik merupakan kemampuan yang hanya dimiliki Barat. Peradaban lain mungkin juga mempunyai tradisi debat dan diskusi, tetapi tidak pernah mencapai level perdebatan skolastik.

Perdebatan skolastik meniscayakan keterampilan berargumentasi, yang memenuhi kaidah logika dan dipakai menemukan kebenaran atau minimal jawaban yang benar atas sebuah masalah.

Seorang peserta debat dalam konteks perdebatan skolastik harus mampu memberi penjelasan yang baik untuk dua pendapat saling bertentangan sekaligus. Termasuk alasan, bukti, dan cara pengambilan kesimpulan dari pendapat yang bertentangan dengan pendapatnya.

Pada zaman pertengahan, tradisi perdebatan semacam ini dipakai untuk tujuan pengajaran, penelitian, dan pengujian argumen atau kompetensi seseorang. Tradisi berpikir kritis tumbuh dari kualitas perdebatan yang semacam ini.

Namun, jika melihat iklim dan kualitas perdebatan di dunia Islam, khususnya Indonesia belakangan ini, klaim Wiejers seakan mendapatkan pembenarannya. Di dunia maya, terutama media sosial, siapa saja berkesempatan beradu argumen tanpa harus menguasai ilmu logika.

Setiap orang yang mempunyai akses internet dapat berpartisipasi dalam kontestasi gagasan dan pendapat secara merdeka. Tradisi debat sebagai aktivitas beradunya dua pendapat berbeda memang terjadi, tetapi tak beranjak dari debat kusir.

Perdebatan di dunia maya bahkan sering kali berujung adu meme, tautan berita atau bahkan satir dan cacian. Tentu itu jauh dari kualitas perdebatan skolastik. Dalam konteks ini, kita dapat belajar dari khazanah intelektual Islam untuk dua tujuan sekaligus.

Pertama, meningkatkan kualitas perdebatan kita di ruang publik, terutama di dunia maya. Kedua, memberikan bantahan terhadap tesis Wiejers bahwa peradaban selain Barat tidak memiliki tradisi debat skolastik.

Pada masa pra-Islam (baca: Jahiliyah), perdebatan biasanya terjadi di antara penyair yang mewakili dua kabilah yang saling berperang. Mereka menggunakan genre puisi yang dinamakan al-hija', berarti cemoohan atau cercaan.

Pada zaman awal Islam, tuntunan tentang etika debat mulai diperkenalkan. Alquran menggunakan kata jidal, jadal, atau mujadalah yang berarti, debat atau perdebatan sebanyak 29 kali.

Pesan utamanya, meninggalkan jenis debat yang hanya untuk debat itu sendiri dan menganjurkan penggunaan debat yang baik (jadal hasan) untuk berargumen dengan lawan. Ayat paling terang menganjurkan hal ini adalah surah al-Nahl ayat 125.

Saat itu tuntunan normatifnya telah ada, tetapi format, struktur, dan sistematika debat belum matang. Perdebatan yang terjadi masih dalam bentuk sederhana, kadang dalam bentuk tanya jawab dan di saat lain dalam bentuk dua klaim yang saling beradu.

Dalam konteks keagamaan, perdebatan yang awalnya juga masih disemangati fanatisme golongan beranjak lebih sistematis ketika para ulama mengompilasikan perbedaan pandangan mereka dalam karya-karya, yang bergenre ilmu khilaf atau ikhtilaf (perbedaan pendapat).

Imam al-Shafi'i (w 820), mengumpulkan perbedaan pendapat antara dirinya dan al-Syaibani (w 805) dan ulama lainnya dalam Kitab al-Umm. Qadi Abu Yusuf (w 798), murid Imam Abu Hanifah (w 767), juga mengumpulkan perbedaan pendapat antara gurunya dan ulama lain yang bernama Ibn Abi Layla dalam buku Ikhtilaf Abi Hanifah wa Ibn Abi Layla.

Tradisi perdebatan yang berkembang dalam kesarjanaan Islam ini mendapatkan sentuhan teoretik dan sistematika baru saat sarjana Muslim bersentuhan dengan karya dari Yunani. Terutama karya-karya Aristoteles soal dialektika, yakni Topics dan Sophistical Refutations.

Kalangan filsuf, seperti al-Farabi dan Ibn Sina menerjemahkan dialektika Aristoteles dalam karya-karya filsafatnya tanpa banyak modifikasi. Mereka memandang jadal tidak lebih dari terjemahan dari teori dialektika Aristoteles dalam bahasa Arab.

Namun, kalangan ulama teologi dan hukum banyak memodifikasi teori dialektika Aristoteles. Pertanyaan-pertanyaan dialektis Aristoteles yang hanya membutuhkan jawaban "ya" atau "tidak" dimodifikasi menjadi empat pertanyaan dialektis yang penting.

Pertama, pertanyaan tentang apakah seseorang mempunyai pendapat. Kedua, tentang apa pendapatnya. Ketiga, tentang apa bukti dari pendapat tersebut, dan keempat, tentang apakah bukti tersebut sahih atau tidak.

Keempat pertanyaan dialektis-jadal itu memungkinkan seorang pendebat mengerti posisi dan bukti yang dimiliki lawannya. Setelah mengerti, kemudian dia melancarkan bantahan terhadap bukti dan argumen lawannya tersebut dengan cermat.

Jadi, fokus bantahan dalam jadal bukan langsung pada tesis atau pendapat lawan. Fokusnya pada premis atau bukti yang digunakan lawan untuk menopang pendapatnya.

Dalam khazanah kesarjanaan Islam, jadal dipraktikkan di lingkaran istana, institusi pendidikan, majelis ilmiah, bahkan di khalayak umum sebagai pertunjukan. Dari tradisi debat tersebut, pendapat-pendapat yang lemah tereliminasi.

Mazhab keagamaan yang mengadopsi pendapat lemah tersebut bahkan tersingkir, punah, atau meleburkan diri dengan mazhab lebih mapan. Sampai di sini, perdebatan dalam khazanah intelektual Islam mencapai level skolastik sebelum Eropa mengenal tradisi skolastisisme.

Perdebatan keagamaan kita hari ini memang masih jauh dari model skolastik, yang pernah berkembang dalam tradisi Islam. Apalagi, jika yang dilihat hanya perdebatan di media sosial. Di sana infomasi, gosip, hoax, umpatan, keluhan, argumen, dan opini bercampur menjadi satu.

Dengan belajar pada sejarah perkembangan tradisi debat dalam Islam, kita dapat melihat bagaimana orang terdahulu mampu beranjak dari debat bersifat celaan ke level lebih tinggi. Salah satu kunci tradisi debat dalam Islam adalah orientasinya mencari kebenaran yang konklusif.

Perdebatan yang berfokus pada pengujian premis dan bukti diharapkan dapat meningkatkan level perdebatan kita. Dari kelas adu tautan berita, meme, dan sanjungan atau celaan menuju kelas lebih tinggi, yakni perdebatan yang mengadu bukti dan penalaran.

Hal ini lebih mendorong terciptanya budaya ilmiah, akademis, skolastik, dan kedalaman berpikir. Selain itu, kita juga dapat membuktikan bahwa pendapat Wiejers salah. Ternyata, peradaban selain Barat juga memiliki tradisi perdebatan skolastik dalam rentang sejarah yang panjang dan masih terjaga hingga kini. Wallahu A'lam bi al-shawab. (sumber dari republika.co.id)

Oleh: Mohammad Syifa A Widigdo

Dosen Program Magister HES, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

foto

Terkait

Foto

Aparat Radikal, Kepalanya Penuh Doktrin yang Tak Sejalan dengan Kesatuan

Riau Book - Duta Besar Rusia untuk Turki Andrei Karlov ditembak mati saat sedang berpidato. Pembunuhnya, Mevlut Mert Aydintas, anak…

Foto

Menghakimi yang Zahir: Lagi Pula Niat Ahok Siapa yang Tahu?

Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H.(Dosen Departemen Ketatanegaraan Fakultas Hukum Universitas Islam Riau/Anggota MDI Kota Pekanbaru)"Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati..."…

Foto

Masyarakat Padati Halaman Kantor Gubernur Riau, Nobar dengan Gubri

Riau Book - Ribuan masyarakat memadai halaman kantor Gubernur Riau untuk menyaksikan laga panas antara Timnas Indonesia melawan Thailand di…

Foto

Menjaga Ukhuwah Islamiyah Dalam Bingkai NKRI

Ukhuwah yang biasa diartikan sebagai "persaudaraan", terambil dari akar kata yang pada mulanya berarti "memperhatikan". Makna asal ini memberi kesan…

Foto

Perdamaian Lintas Agama Menyatu dalam Bineka Tunggal Ika

SEPERTI dalam agama-agama Abrahamik lainnya, perdamaian adalah konsep dasar dalam pemikiran Islam. Istilah bahasa Arab "Islam" itu sendiri biasanya diterjemahkan…

Foto

Allah Berikan Hadiah Melalui Al-Maidah 51

Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H.(Dosen Kajian Ketatanegaraan Fakultas Hukum Universitas Islam Riau/Anggota MDI Kota Pekanbaru)Umat Muhammad itu…

Foto

Mar'ie Muhammad, Berpulangnya 'Mr. Clean'

Riau Book - Saya masih menyimpan foto dari upacara kecil tiga belas tahun lalu ini, akad nikah saya di pagi…

Foto

Saatnya Pejabat Profesional di OPD Baru

RENDAHNYA serapan anggaran belanja daerah Provinsi Riau dibawah 70 persen pada tahun 2015, 2016 sehingga mencatat silPa Rp 3 triliun…

Foto

Perginya George Junus Aditjondro

Riau Book - Perginya George Junus Adidjondro mengingatkan kembali tulisannya yang merangkai aneka fakta berjudul ORANG-ORANG JAKARTA DI BALIK TRAGEDI…

Foto

30 Jam Menanti Cahaya Listrik PLN, Padam Tak Berkesudahan

Riau Book - Pulau Kijang bagai kota mati, terlihat gelap gulita di malam hari. Ya ibukota dari Kecamatan Reteh (salah…

Foto

Mengupas Aksi 4 Desember: Sebuah Aksi Tandingan

Oleh: Wira Atma HajriSeusai aksi damai umat Islam tertanggal 2 Desember lalu, aksi lainpun tak ketinggalan yaitu parade budaya kita…

Foto

Ini Terkait Ahok, Hukum Adil Demi Persatuan Bangsa

Riau Book - Nusantara Bersatu yang digelar di Lapangan Blang Padang ini bertujuan untuk menjaga Nusantara tetap Bersatu, kita bangga…

Foto

Catatan Gagalnya Ketuk Palu APBD Riau Tahun 2017

Oleh : Bagus Santoso, anggota DPRD Provinsi RiauRabu, tanggal 23, minggu keempat bulan November, Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman bersama 4…

Foto

Islam dan Indonesia Butuh FPI

Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H.(Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau/Pengelola UIR Press)"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang…

Foto

Kejamnya Politik, Semakin Tinggi Jabatan Bisa Berarti Meninggikan Tempat Jatuh!

Riau Book - Ade Komaruddin berencana tak hadir di rapat badan musyawarah pimpinan DPR dan fraksi yang digelar hari ini.…

Foto

Belajar Kedamaian Lewat Tari Kecak di Pulau Dewata

LEBIH 71 tahun umur bangsa ini, berbagai terpaan masalah telah dilalui, dan kini kembali dihadapkan dengan kondisi politik yang carut…

Foto

Musim Interupsi di Masa Septina Primawati

ADA dua hal yang perlu dicermati sekaligus juga menarik untuk disimak kalau membuka catatan sejak dilantiknya Septina Primawati sebagai ketua…

Foto

Opini - Mimpinya Kesejahteraan, Diskriminasi dalam Kenyataan

Riau Book - Di sebuah koran harian ternama pada tahun 2009, Kunjana Rahardi (2012) menulis sebuah artikel opini dengan tema…

Foto

Gajah Datang Bertarung, Pelanduk Mati Terjepit!

Riau Book - Gajah-gajah yang bertarung, pelanduk yang mati terjepit. Itulah nasib 63 pekerja pasukan oranye Jakarta Pusat yang dihukum…

Foto

Beda Jokowi dan Tito dengan Umar bin Khattab

Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H.(Dosen Fakultas Hukum Universitas Islam Riau/Pengelola UIR Press)"Wahai masyarakat! Orang-orang sebelum kita telah melakukan kekeliruan…

Wisata dan Gaya Hidup

Foto

Tiga Pemenang Duta Muslimah Preneur Riau 2026 Resmi Terpilih, Siap Gerakkan Ekonomi Lokal

RIAUBOOM.COM - Pengurus Wilayah Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (PW IPEMI) Provinsi Riau sukses menggelar puncak pemilihan Duta Muslimah…

Foto

Ini Cara Orang Pekanbaru Sambut Ramadan, SF Hariyanto: Dengan Hati Bersih Jiwa Lapang

RIAUBOOK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, secara resmi membuka rangkaian perayaan tradisi Petang Belimau Kota Pekanbaru yang…

Foto

Tari Zapin 6 Ribu Peserta Pecah Rekor Dunia, Plt Gubernur: Riau Memilih Untuk Maju Tanpa Tercerabut

RIAUBOOK.COM - Sebanyak 6.000 penari menyatu dalam satu denyut nadi, mempersembahkan Tari Zapin Masal yang bukan sekadar tarian,…

Pendidikan