Bumerang imitasi produski Chanel

Rabu, 17 Mei 2017 - 15:47 WIB 1490000

Jual Bumerang Aborigin Seharga Rp 20 Juta, Rumah Mode Chanel Tuai Kecaman

Share ke BBM

Follow RIAUBOOK.COM - Inovasi di bidang fashion memang sering kali terinspirasi dari adat dan budaya tertentu. Namun inovasi yang dilakukan rumah mode asal Perancis, Chanel justru menuai kecaman.

Dilansir dari Kompas.com, Rabu (17/5/2017), Chanel, mendapat kecaman karena memanfaatkan budaya Aborigin, dengan menjual bumerang yang seharga hampir 2.000 dollar Australia atau hampir Rp 20 juta.

Bumerang berwarna hitam yang terbuat dari kayu dan resin ini dijual di harga 1.930 dollar atau lebih dari Rp 19 juta.

Bumerang ini tersedia di kategori aksesori untuk koleksi musim semi dan musim panas 2017.

Dalam koleksi ini juga terdapat raket tenis senilai 2.220 dollar lebih dari Rp 22 juta, raket dan bola untuk tenis pantai senilai 4.860 dollar atau lebih dari Rp 49 juta, dan papan dayung yang harganya bisa diketahui setelah ditanyakan.

Bumerang ini menjadi ramai di jejaring sosial, ketika Jeffree Star, penata rias dan blogger asal Amerika Serikat (AS) mengunggah foto barang tersebut.

Pengguna jejaring sosial mencemooh karena harga koleksi yang mahal-mahal, namun penggunaan bumerang justru mendapat kecaman lebih karena dianggap memanfaatkan budaya milik penduduk asli Australia, suku Aborigin.

Seorang pengguna jejaring sosial menulis, "Memanfaatkan budaya mencapai titik terendah, saya sangat berharap Chanel menyumbangkan semua keuntungannya kepada komunitas Aborigin yang kurang mampu."

Penulis dan aktivis Nayuka Gorrie berkicau, "Saya memutuskan untuk menabung selama tiga tahun ke depan, sehingga bisa terhubung dengan budaya saya melalui Chanel."

Museum Nasional Australia menggambarkan bumerang memiliki "peranan penting dalam budaya Aborigin, sebagai objek karya dan permainan", namun setelah kedatangan orang Eropa di Australia, bumerang menjadi populer sebagai suvenir pada akhir abad ke-19.

Sejak saat itu bumerang imitasi yang murah telah membanjiri pasaran, namun kini ada dorongan untuk melindungi produsen lokal.

Ganti rugi

Profesor Matthew Rimmer, pakar kekayaan intelektual dan inovasi dari Queensland University of Technology, mengatakan kontroversi ini menyoroti perlunya reformasi hukum.

"Sistem hukum hanya menanggapi sebagian masalah ini," kata Prof Rimmer.

"Landasan undang-undang hak cipta, yang diajukan pada tahun 1990an adalah soal mencontek dan penjualan seni Aborigin yang dijual lebih mahal ... namun perlu reformasi lebih lanjut."

"Pada tingkat internasional, lebih banyak yang harus dilakukan untuk mengimplementasikan Deklarasi PBB tentang Hak-hak Masyarakat Adat sehubungan dengan kekayaan intelektualnya."

Ia juga mengatakan Chanel harus menawarkan ganti rugi kepada masyarakat Aborigin.

"Sebagai korporat yang baik, Chanel harus meminta maaf sepenuhnya, menarik bumerang dari penjualan, dan membuat ganti rugi yang sesuai untuk warga asli benua Australia."

Chanel merilis sebuah pernyataan yang menyebutkan "sangat berkomitmen untuk menghormati semua budaya dan menyesal telah membuat beberapa pihak tersinggung."

Bumerang masih tersedia di situs Chanel. Ini bukan pertama kalinya Chanel memproduksi bumerang. Sebelumnya ada versi monogram dari perak yang dijual di situs penjualan barang bekas mewah, TheRealReal seharga 295 dollar atau hampir Rp 3 juta.

Sejumlah label fesyen telah dikritik dalam beberapa tahun terakhir, karena memanfaatkan budaya.

Pada tahun 2015, Valentino dikecam karena menggunakan model berkulit putih dengan gaya kepang khas Afrika, cornrows, saat memamerkan koleksi terbarunya yang diakui terpengaruh budaya Afrika.

Victoria's Secret pernah dipaksa meminta maaf di tahun 2012, karena seorang modelnya mengenakan hiasan kepala khas suku Indian, penduduk asli benua Amerika di salah satu peragaan busananya.

Pakain yang diperagakan pun dikritk, karena dianggap mengabaikan budaya dan sejarah kesukuan.

Pada tahun 2011, umat Hindu menggelar aksi demonstrasi, setelah perancang busana Byron Bay memamerkan pakaian renang dengan gambar Dewi Lakshimi, di pekan fesyen Australia. (kcm)

News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM

100000000
muhardi

Berita Terkini

Tiga Rumah Dinas TNI AL Terbakar di Dumai

Rabu, 17 Mei 2017 - 13:07 WIB

Balada Cinta Terlarang Sopir Truk Berujung Maut

Rabu, 17 Mei 2017 - 08:52 WIB

Lagi, Tahanan Kabur dengan Cara Jebol Dinding

Minggu, 14 Mei 2017 - 01:23 WIB

Polisi Selidiki Kematian Pasien Pemilik Ringgit

Sabtu, 13 Mei 2017 - 20:25 WIB

Seorang WNI Tewas Ditembak Polisi Malaysia

Jumat, 12 Mei 2017 - 18:55 WIB

Cari Judul Berita







Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia



Banner

Socialize