ilustrasi persidangan

Kamis, 18 Mei 2017 - 10:54 WIB 3760000

Hari ini, Adik Gamawan Fauzi Bersaksi di Sidang e-KTP

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Sidang dugaan kasus korupsi proyek KTP elektronik (e-KTP) kembali digelar di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat hari ini, Kamis (18/5/2017).

Juru bicara KPK, Febri Diansyah seperti dikutip dari merdeka.com mengkonfirmasi delapan orang saksi dipanggil. Termasuk melakukan teleconference dengan direktur PT Sandipala Arthapura Paulus Tannos yang saat itu tercatat sebagai salah satu anggota konsorsium PT PNRI.

"Iya kurang lebih ada delapan orang (saksi)," ujar Febri.

Salah satu saksi termasuk adik kandung mantan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi, Azmin Aulia. Pada pertengahan Juni 2011, Azmin Aulia pernah menerima uang dari pengusaha Andi Agustinus alias Andi Narogong sebesar 2.500.000 dollar AS. Uang tersebut sebenarnya diperuntukan Gamawan Fauzi.

Saksi lain, Afdal Noverman dipanggil karena Gamawan mengaku pernah menerima uang dari pengusaha yang ia kenal sebagai Afdal Noverman. Namun, Gamawan mengaku uang tersebut sebagai pinjaman.

Dalam surat dakwaan, pada Maret 2011, Afdal Noverman pernah menerima uang dari Andi Narogong sejumlah 2 juta dollar AS. Uang yang sebenarnya ditujukan kepada Gamawan itu bertujuan agar lelang pekerjaan proyek e-KTP tidak dibatalkan oleh Gamawan.

Saksi Ruddy Indrato Raden merupakan Panitia Penerima dan Pemeriksa Hasil Pengadaan dalam proyek e-KTP. Ruddy pernah diperintah oleh para terdakwa untuk untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Hasil Pengadaan sesuai dengan target sebagaimana dalam kontrak, yakni seolah-olah konsorsium PNRI telah menyelesaikan target pekerjaannya 100 persen.

Padahal, sampai dengan akhir masa pelaksanaan pekerjaan yakni pada tanggal 31 Desember 2013, konsorsium PNRI hanya dapat melakukan pengadaan blangko KTP Elektronik sebanyak 122.109.759 keping, dari target pekerjaan sebagaimana ditentukan dalam kontrak awal yakni sebanyak 172.015.400 keping.

Seperti Ruddy, Endah Lestari merupakan Panitia Penerima dan Pemeriksa Hasil Pengadaan dalam proyek e-KTP. Endah juga pernah diperintah oleh para terdakwa untuk untuk membuat Berita Acara Pemeriksaan dan Penerimaan Hasil Pengadaan sesuai dengan target.

Saksi Junaidi merupakan bendahara pembantu proyek e-KTP. Ia pernah menerima uang sejumlah Rp 30 juta dari terdakwa II, yakni Sugiharto.

Sedangkan Zudan Arif Fakhrulloh merupakan Dirjen Dukcapil Kemendagri. Saat proyek e-KTP berlangsung pada 2011, Zudan menjabat sebagai kepala biro hukum Kemendagri. Dalam persidangan sebelumnya, Zudan disebut pernah diminta oleh Sekretaris Jenderal Kemendagri, Diah Anggraini, untuk menyampaikan pesan dari anggota DPR Setya Novanto, kepada terdakwa I Irman.

Selain nama-nama tersebut, jaksa KPK juga akan menghadirkan dua orang yang namanya tidak tercantum dalam surat dakwaan, yakni Amilia Kusumawardani Adya Ratman dan Paultar Paruhum Sinambela.

Sedangkan terhadap Paulus Tannos, jaksa penuntut umum merasa penting melakukan teleconference lantaran yang bersangkutan kerap kali disebut beberapa kali oleh saksi persidangan. Paulus beberapa kali memberikan sejumlah uang dengan nilai Dollar kepada Yosef Sumartono, orang kepercayaan salah satu terdakwa dari kasus ini, Sugiharto. Uang tersebut diduga diperuntukkan kepada sejumlah pihak guna melancarkan proyek e-KTP.

Dalam surat dakwaan milik dua terdakwa Irman dan Sugiharto, Paulus juga merupakan anggota tim Fatmawati, yang beberapa kali melakukan pertemuan dengan Andi Narogong di ruko miliknya di Graha Mas Fatmawati Blok B No 33-35, Jakarta Selatan.

Sebelumnya pada sidang kedelapan, Senin (10/4/2017) jaksa penuntut umum KPK menghadirkan sejumlah saksi di persidangan kasus e-KTP. Salah satu saksi yang dihadirkan adalah Dedi Prijono, kakak kandung Andi Agustinus.

Saat itu jaksa mencecar Dedi dengan pertemuan sejumlah anggota konsorsium di Fatmawati. Pasalnya, selain melibatkan adiknya, Vidi Gunawan, Andi juga melibatkan Dedi untuk mewakili pertemuan dengan anggota konsorsium. Diakui Dedi, pertemuan dilakukan karena sang adik ingin meminta jatah dalam menggarap proyek senilai Rp 5.9 Triliun itu.

Tidak hanya di Fatmawati, pertemuan anggota konsorsium juga dilakukan di rumah Andi di Kemang Pratama, Bekasi. Pertemuan itu juga dihadiri oleh staf Kemendagri, Drajat Wisnu Setyawan dan staf BPPT Husni Fahmi, keduanya diperintahkan Sugiharto untuk hadir pada pertemuan di Kemang Pratama sebagai kompensasi pemberian uang dari Andi untuk Gamawan Fauzi sebesar USD 2 juta agar pelelangan pekerjaan penerapan e-KTP tidak dibatalkan. (mdk/kcm)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
muhardi

Berita Terkini

Polisi Sebar Foto Ratusan Napi Sialang Bungkuk

Sabtu, 13 Mei 2017 - 15:33 WIB

Pagi ini, Miryam Diperiksa KPK

Jumat, 12 Mei 2017 - 11:24 WIB

Subuh-subuh Ahok Dipindahkan ke Mako Brimob

Rabu, 10 Mei 2017 - 08:57 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia