net

Kamis, 15 Juni 2017 - 04:05 WIB 5470000

Lihat, Mereka yang Ribut Saat Diam-diam Listrik Mahal dan Padam

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Perusahaan Listrik Negara (PLN) Wilayah Riau dan Kepulauan Riau (WRKR) sedang ribut-ribut terkait banyaknya kasus pencurian listrik, namun diam-diam saat menaikkan tarif dasar energi yang menjadi kebutuhan pokok jutaan masyarakat.

Malam yang tenang saat penantian Lailatul Qadar, tiba-tiba Mas Wit keluar rumah sambil 'ngoceh'. "Token listrik baru dibeli kemarin sudah habis, kenapa ini".

Bang Jup, tetangga samping rumah Mas Wit menyahuti dengan keluhan. "Harga listrik sudah naik, tapi diam-diam saja, tak ada kabar berita".

Baca berita terkait:

Siapkan 'Kantong' awas 'Bolong', Bentar Lagi Tarif Listrik Naik Nyaris 3 Kali Lipat

Beberapa hari kemudian, masih dalam harapan akan Lailatul Qadar, saat bentuk bulan nyaris sempurna bundar, tiba-tiba mas Wit kembali 'ngoceh'.

Tanpa mengenakan pakaian atasan, dia menghampiri kerumunan orang yang sedang kepanasan akibat kipas angin di rumah tak bisa menyala.

"Listrik padam, sudah tambah mahal, sekarang sering padam, di bulan puasa lagi. Huh...," Mas Wit menarik nafas.

Mas Wit, dia kepala keluarga yang sehari-hari kerjanya serabutan, kadang menjadi kuli bangunan, dan berusaha untuk bisa apa saja. Terakhir, dia menebang pohon tetangga dengan upah Rp60 ribu. Sudah termasuk membersihkan mulai dahan hingga akar.

Mas Wit hidup bersama seorang isterinya, hanya seorang ibu rumah tangga. Mereka dikaruniai dua orang putra, satu sudah sekolah dasar, yang satu lagi masih balita.

Kondisi Mas Wit lebih banyak susahnya, terlebih katika dia sakit, usai menebang pohon justru 'kerasukan', setelah sembuh malah terserang demam.

Isterinya sempat menangis, histeris, saat Mas Wit dalam kondisi tak sadar, matanya memerah sambil melotot menatap hampa langit-langit rumah kontrakannya yang kumuh setelah sering ditembus air hujan.

Mas Wit terbaring di depan televisi 14 inci yang tak lagi menampilkan gambar. Dia terkulai beralas tikar, dibentang di atas lantai yang bolong-bolong akibat kerumunan semut bersarang.

Kursi panjang di ruang keluarga bahkan tak lagi laik, seorang rekan yang datang yang mencoba duduk merasakan bunyi 'ngilu'.

Jam dinding yang terpasang menghadap ke pintu depan rumah Mas Wit menunjuk pukul 12.00 WIB, sementara Shalat Isya baru saja selesai.

"Beginilah kondisinya, harap maklum," kata wanita berambut panjang yang setia duduk di samping Mas Wit.

Beruntung, malam ketika Mas Wit sakit, listrik tidak padam, namun bunyi 'titit... titit...' yang berasal dari sebuah meteran di teras rumahnya, terus berdering, lampu merah terlihat berkedip.

"Mas, sadar mas, bangun, ntar kalau sakit bagaimana anak-anak. Kasihan anak-anak," kata Neng sambil menggendong seorang balita laki-laki.

Sementara anak Mas Wit yang besar hanya melihat-lihat kondisi bapaknya dari atas kursi yang lapuk. Beberapa orang di dalam rumah berusaha menyadarkan, seorang Ustadz membacakan doa-doa. Namun meteran listrik di rumah Mas Wit tetap berbunyi laiknya bom waktu.

Mas Wit hanya satu dari ratusan keluarga di Kompleks Perumahan Bertuah Sejahtera yang kerjanya juga sama, serabutan.

Perumahan tipe sederhana, 36 tanpa dapur. Awalanya, perumahan ini diperuntukkan untuk para PNS Ibu Kota Pekanbaru, namun mereka tidak minat karena lokasinya yang teramat jauh dari pusat kota. Lebih dekat dengan perbatasan wilayah, Pekanbaru-Pelalawan.

Ratusan warga di perumahan ini 'saban' hari mengeluh kondisi ekonomi yang 'tak bersahabat', mengeluh karena sulitnya lapangan kerja. Dan kini ditambah listrik yang 'diam-diam' naik.

Kondisi yang mirip Mas Wit, berjarak tiga rumah, namanya Mang Suheb. Hampir setiap hari dalam sepekan ini, dia bahkan lebih sering di rumah. Untuk menutupi kebutuhan sehari-hari, isteri mengajar mengaji anak-anak tetangga.

"Soal bayaran terserah saja," kata Mang Suheb.

Nasib sedikit beruntung untuk Bang Jup dan Mas Didit. Bang Jup bekerja sebagai tukang bersih-bersih di Bank Rakyat Indonesia (BRI). Sementara Mas Didit juga tukang bersih-bersih di sebuah hotel berbintang di pusat kota.

Keduanya menerima gaji setiap bulan, namun Bang Jup hanya mampu mengurusi satu dari dua anaknya yang sudah bersekolah.

"Anak saya yang kecil saya titipkan sama kakak yang kebetulan belum punya anak," kata Bang Jup.

Sementara Mas Didik, seorang anak laki-lakinya juga telah bersekolah masih tingkat dasar. Namun di rumahnya, sudah ada seorang bayi yang baru saja dilahirkan sang isteri. Setiap bulan dia harus memenuhi kebutuhan besar untuk bayinya yang mungil. Mulai dari popok hingga susu.

Di blok lain dalam kompleks Perumahan Bertuah Sejahtera juga ada Fijai, pria keturunan India yang juga bernasib tak jauh beda. Kemudian masih ada Nur, yang setahun lalu kehilangan suami yang wafat karena sakit.

Masih ada ratusan keluarga lainnya dengan kondisi yang tak jauh berbeda di kompleks pojok Kota Madani. Mereka yang kesal, berkeluh karena beban biaya listrik kian mahal.

Beruntungnya, kini sekitar 300 keluarga di kompleks perumahan sangat sangat sederhana sudah memiliki musallah setelah lebih 8 tahun tanpa mendengar kumandang Azan.

Allah hu Akbar...

Oleh Fazar Muhardi

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
Fazar Muhardi

Berita Terkini

Iseng Puasa Ramadan, Perempuan Ini Masuk Islam

Rabu, 14 Juni 2017 - 10:13 WIB

Tips Agar Mudik Selamat Sampai Tujuan

Selasa, 13 Juni 2017 - 19:31 WIB

Rizieq Shihab Pulang, Hoax

Minggu, 11 Juni 2017 - 21:04 WIB

Cara Membuat Ayam Goreng Bumbu Bacem

Sabtu, 10 Juni 2017 - 13:29 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia