Ilustrasi buah impor. (net)

Kamis, 12 Oktober 2017 - 23:50 WIB 1160000

Harga Buah Impor Melambung Tinggi, Ini Masalah Masyarakat Tionghoa di Meranti

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Masyarakat Kepulauan Meranti, beberapa tahun terakhir mengeluh bahkan cemas karena kian sulitnya mendapatkan buah segar di pasaran, terutama untuk kebutuhan ritual keagamaan.

Sementara tak lama lagi, warga Tionghoa juga akan menghadapi perayaan tahun baru Imlek.

Bagi masyarakat Meranti khususnya warga keturunan Tionghoa, buah tidak hanya sebagai konsumsi sehari-hari. Tapi juga untuk kebutuhan yang lebih penting yakni bagian dari ritual keagamaan.

Sedangkan tertutupnya keran masuk barang dari Tanjung Balai Karimun dan juga dari Kepulauan Riau dari negara tetangga, sangat memukul perekonomian masyarakat Meranti.

Sementara buah dengan jenis yang sama masuk lewat Belawan hingga ke Pekanbaru atau lewat Dumai, memaksa harga buah itu melonjak tinggi di Meranti. Hal ini cukup menyulitkan masyarakat, khususnya warga Tionghoa.

Ada sedikit perbedaan konsumsi buah di tengah masyarakat. Kalau kebutuhannya untuk dimakan saja, pasti bisa diganti dengan buah lokal. Tapi untuk ritual sembahyang buah yang digunakan adalah buah tertentu seperti jeruk sankis maupun apel impor.

Sedangkan buah dengan jenis yang sama itu tidak sesegar yang datang dari Tanjung Balai Karimun atau Kepri. Dan buah yang datang dari Medan itu juga dengan harga yang cukup mahal.

Inilah kata dia, salah satu persoalan yang dihadapi masyarakat suku Tionghoa di Kepulauan Meranti, terkait tertutupnya pintu keluar dari Tanjung Balai Karimun, terhadap berbagai kebutuhan rumah tangga di Meranti.

"Persoalan ini harus dicari solusinya. Sehingga pelaksanaan ritual sembahyang bagi masyarakat Meranti tidak sampai terkendala," kata Awie, warga Selatpanjang kepada Riaubook.com, Kamis, (12/10/2017).

Awie berharap ada kebijakan atau solusi konkrit dari pemerintah kabupaten, sehingga setidaknya untuk kebutuhan buah segar bagi masyarakat Meranti itu mendapat dispensasi.

Apalagi tak lama lagi kita akan menghadapi tahun baru Imlek. Seperti biasa, kebutuhan buah akan menjadi berlipat ganda dibanding dari bulan-bulan biasa.

"Kita berharap ada kebijakan strategis dari pemerintah untuk mengusulkan kepada Pemkab Tanjung Balai Karimun, atau Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Sehingga ada kemudahan atau pengecualian memberi izin keluar khusus buah segar untuk kebutuhan masyarakat Tionghoa di Meranti.

"Sebab di provinsi tetangga tersebut itu juga sama halnya dengan di Meranti, buah tertentu itu tetap dijadikan sebagai bahan untuk sembahyang," kata dia lagi.

"Kalau perlu kepada pemerintah pusat hal ini juga layak dimintakan. Sehingga mata hati pemerintah pusat terbuka melihat kondisi di daerah pesisir seperti Meranti ini" sebut dia lagi.

Kepala Dinas Perdagangan Perindustrian Koperasi dan UKM Kabupaten Kepulauan Meranti, M Azza Faroni hingga berita ini diturunkan belum dapat dikonfirmasikan. (RB/jos)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM

100000000
Fazar Muhardi

Berita Terkini

Target Meranti 4.000 Haktera Lahan untuk Padi

Kamis, 12 Oktober 2017 - 23:43 WIB

Cegah Korupsi di Inhil, Bupati Wardan Bilang Ini Baik

Kamis, 12 Oktober 2017 - 13:39 WIB

Bupati Inhil Sampaikan Ranperda Pertanggungjawaban APBD 2016

Selasa, 05 September 2017 - 09:42 WIB

Bupati Inhil Lepas Pawai Takbir Idul Adha

Jumat, 01 September 2017 - 08:21 WIB

Olahraga Suatu Kebutuhan Dalam Kehidupan

Selasa, 19 September 2017 - 16:03 WIB

TNI Bangun Toilet di Rohul, Berharap Warga Sehat

Selasa, 10 Oktober 2017 - 14:00 WIB

Semangat Bupati Inhil Upayakan Penyelamatan Kebun Kelapa

Minggu, 17 September 2017 - 11:22 WIB

Bupati Inhil Narasumber Diskusi Nasional Tentang Kelapa

Jumat, 15 September 2017 - 11:10 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia