Aksi buruh RAPP di kantor Gubernur Riau, Senin (23/10/2017)

Selasa, 24 Oktober 2017 - 11:09 WIB 2200000

BI Riau Berharap Jalan Keluar Kasus RAPP

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Demo ribuan buruh sektor kehutanan yang terjadi Senin di Pekanbaru membuat Kantor Bank Indonesia Provinsi Riau angkat bicara dan berharap ada jalan keluar bagi kasus PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) yang menguntungkan semua pihak baik pemerintah,perusahaan,pekerja dan masyarakat guna menjaga kondusivitas iklim ekonomi setempat.

"Kita berharap bantuan semua pihak mencari "win-win solution" sehingga tidak ada lagi aksi serupa untuk berikutnya, " kata Kepala Divisi Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI Riau Irwan Mulawarman di Pekanbaru,Selasa (24/10).

Irwan menjelaskan kalau demonstrasi ini berlanjut dan berulang kedepan sangat berpotensi menggangu stabilitas ekonomi Riau.

Karenanya ia berharap semua pihak terkait dapat bersama-sama mencarikan jalan keluar yang baik bagi semua.

Bahkan ia menilai jika aksi demo sebesar ini terus mewarnai Riau, berpotensi mengganggu pasar, iklim investasi dan kepercayaan investor untuk menanamkan modal di Pekanbaru.

"Walau yang tahu dan faham perhitungannya itu Badan Penanaman Modal Daerah, " ujarnya.

Sementara itu Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman (Andi) saat menemui ribuan buruh sektor kehutanan yang berunjuk rasa di Kota Pekanbaru Senin, berjanji akan meneruskan aspirasi para demonstran kepada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terkait kebijakan yang dinilai akan membuat pekerja kehilangan pekerjaan.

Ia mengatakan Pemprov Riau juga tidak ingin ada kebijakan yang malah menambah jumlah pengangguran.

"Keinginan kita sama. Apa keinginan Pemprov Riau juga sama, jangan sampai mengakibatkan pengangguran," kata Andi.

Demonstran yang semuanya adalah pekerja dan kontraktor dari PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia atau K-SPSI, meminta Menteri LHK menghormati dan menjalankan putusan uji materiil Mahkamah Agung terhadap Peraturan Menteri LHK Nomor 17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017 tentang Pembangunan Hutan Tanaman Industri (HTI).

Dalam putusan MA disebutkan bahwa Pasal 1 angka 15 d, Pasal 7 huruf d, Pasal 8A, Pasal 8B, Pasal 8C ayat (1), Pasal 8D huruf a, Pasal 8E ayat (1), Pasal 8G dan Pasal 23A ayat (1) Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.17/MENLHK/SETJEN/KUM.1/2/2017, bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi yakni Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan dan Undang-Undang Nomor 26 Tahun.

Dengan begitu, MA sudah menyatakan pasal-pasal tersebut tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat dan tidak berlaku umum.

"Areal tanaman pokok dijadikan kawasan fungsi lindung gambut. Jika tidak tersedia land swap dan kami harus revisi RKU, maka areal tanaman pokok kami dan mitra akan berkurang kurang lebih 50 persen untuk sumber bahan baku Utama PT RAPP," kata Djarot dalam pernyataan persnya. (RB/Vera)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
Yopi Pranoto

Berita Terkini

BI Riau Dorong Pesantren Kembangkan Ekonomi Syariah

Minggu, 22 Oktober 2017 - 17:36 WIB

FKIJK Riau Luncurkan Website Sebagai Media Informasi

Kamis, 19 Oktober 2017 - 15:45 WIB

Harga Sawit Riau Tembus Rp2.000 Per Kilogram

Selasa, 17 Oktober 2017 - 20:48 WIB

Tekan Masalah Perbankan, BI Riau Sosialisasikan SID

Senin, 16 Oktober 2017 - 15:56 WIB

Harga CPO Turun, Harga Sawit Riau Ikut Turun

Kamis, 12 Oktober 2017 - 10:45 WIB

Pemprov Riau Setujui Penambahan Modal untuk BRK Syariah

Selasa, 10 Oktober 2017 - 17:08 WIB

Cara Mudah Dapat Modal Usaha

Minggu, 08 Oktober 2017 - 00:18 WIB

5 Kiat Sukses Agar Cepat Kaya

Sabtu, 07 Oktober 2017 - 19:18 WIB

Kiat Jitu Dapat Modal Usaha dari Bank

Sabtu, 07 Oktober 2017 - 18:57 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia