Ilustrasi. (net)

Rabu, 25 Oktober 2017 - 11:11 WIB 2660000

Nasib Arief Cuba, 2 Tahun Penantian Perkara Tanah di Polda Riau yang Muncul SP3

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Arief Cuba tidak muda lagi, umurnya sudah lebih 60 tahun, pandangan matanya sudah kabur, fikirannya kini terpaku pada penyelesaian tanah miliknya yang diserobot orang-orang tak bertanggung jawab.

"Tanah inilah yang harusnya menjadi warisan dari saya untuk anak-anak saya," kata Arief, ditemui di rumahnya di Jalan Kapau Sari, Kecamatan Tenayan Raya, Pekanbaru, Riau, akhir pekan lalu.

Pria tua berambut gondrong itu sudah sakit-sakitan, penyakit itu datang saat kondisi fisiknya mulai renta.

"Masya Allah," Arief Cuba selalu menyebut nama tuhan setiap kali bertemu seseorang. Mengumbar persoalan tanah miliknya yang tak kunjung tuntas, sudah lebih dua tahun di Polda Riau.

Penderitaan Arief diawali ulah sekelompok orang yang juga membawa-bawa nama Tuhan untuk memanfaatkan kelemahan hukum. Kata mereka; "tanah ini milik tuhan, dan bukan milik siapa-siapa".

Dengan "menjual" nama Tuhan, mereka lantas melakukan upaya bertentangan dengan hukum, melakukan penyerobotan tanah hak orang lain dengan "membabi buta".

Lihat saja, kawasan di Jalan Gunung Salak, Kelurahan Kulim, Tenayan Raya, Pekanbaru. Di sepanjang jalan yang terlihat hanyalah pepohonan kelapa sawit.

Para pelaku atas nama Tuhan itu menanaminya sejak belasan tahun silam, tanpa ada perlawanan penegak hukum.

"Hukumnya sudah buta," kata Arief Cuba.

Memasuki Jalan Gunung Salak lewat kawasan Parit Indah, di pinggir jalur sepanjang lebih 6 kilometer, hanya tampak perkebunan sawit.

Di sela-selanya terdapat beberapa kedai papan dan beberapa rumah yang telah ditinggal penghuninya.

Pinggir kanan, tertanam plang kepemilikan tanah atas nama Yayasan Muhammadiyah. Di plang tersebut juga dituliskan bakal ada rencana pembangunan Universitas Muhammadiyah.

Berjarak sekitar 300 meter berikutnya, masih di pinggir jalan sebelah kanan, juga terpampang plang kepemilikan tanah atas nama Herman Abdullah. Dia adalah mantan Wali Kota Pekanbaru dua periode.

Di atas tanah tersebut, rencananya keluar Herman Abdullah akan mendirikan Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU).

Tepat di seberangnya, juga ada gubuk yang tekah dikelilingi bagar beton, dahulu di dalamnya adalah lokasi pemakaman umum.

Sejumlah tanah berplang nama dan tempat pemakaman umum tersebut adalah kawasan yang menjadi sasaran penyerobotan lahan. Para pelaku menjualnya ke Yayasan sekelas Muhammadiyah dan bahkan mantan Wali Kota Pekanbaru dua periode Herman Abdullah.

Yang mengejutkan, malah tanah yang tadinya tempat pemakaman umum, kini telah diratakan oleh para pelaku dan dijual ke pihak yang kini menjadi korban perselisihan umat.

Berjalan lagi sekitar 200 meter dari kawasan tanah korban penyerobotan, baru tampak sejumlah bangunan yang mulai ramai penduduk, bahkan sudah berdiri sejumlah rumah toko bertingkat tersebut dikabarkan juga berdiri di atas tanah milik orang lain.

Tepat di belakang ruko bertingkat sebelah kiri milik Janter Siahaan, mantan Ketua RW setempat, adalah Jalan Sipiso-piso yang di dalamnya, masuk sekitar 300 meter, ada tanah seluas 9.000 meter persegi milik Arief Cuba.

Sebagian besar di atas tanah itu telah ditanami sawit dengan perkiraan umur 5 hingga 10 tahun. Di seberang Jalan Sipiso-piso terdapat juga rumah permanen. Di dalamnya ada satu keluarga. Kepala rumah tangganya adalah Tobok Limbong, mantan Ketua RT setempat.

Rumah papan di atas tanah Arief Cuba itu memang tak berpenghuni. Namun setiap senja, lampu yang tergantung di bagian luar selalu menyala. Listriknya dialiri lewat kabel hitam yang tersambung ke rumah Tobok Limbong.

"Dialah yang selalu menghalangi saya untuk menguasai lahan milik saya. Masya Allah," kata Arief Cuba, pria sangar itu tampak murka.

Kasus penyerobotan lahan yang dialami Arief Cuba sudah berlangsung bertahun-tahun tanpa ada kepastias hukum.

Terakhir, dia juga sudah melaporkannya ke Polda Riau. Proses di kepolisian telah berjalan lebih 2 tahun sejak 2015.

Parahnya, setelah penantian lebih 2 tahun, kabar buruk diterima Arief. Tanpa mengundang Arief saat gelar perkara terakhir, pihak kepolisian menerbitkan Surat Pemberhentian Penyidikan Perkara (SP3).

Ketika itu, terlapor Sondik Manulang, tidak mampu menunjukkan bukti yang kuat. "Dia hanya pegang SKD (Surat Keterangan Desa) yang legalitasnya tidak jelas," kata Arief.

Demi tuhan, demikian Arief, ini adalah murni kasus penyerobotan tanah dari mereka yang kerap mengatasnamakan tuhan sebagai dalih, memebangun rumah-rumah ibadah di atas tanah yang mereka 'curi'.

Korban penyerobotan lahan di sekitar kawasan Jalan Gunung Salak atau Jalan Pesantren tidak hanya Arief Cuba.

Sudah ada ratusan orang lainnya yang mengadukan nasib ke aparat berwenang, termasuk satu perusahaan, PT Panca Belia.

Modus para pelaku dalam upaya tindakan pelanggaran hukum tersebut dilakukan dengan cara menumpang berkebun, kemudian menguasai dan lantas menjualnya.

Sebagian juga membangun rumah-rumah ibadah di atas tanah yang diduga milik orang lain.

Sebagian dari korban adalah mereka yang membeli tanah tersebut lewat para pelaku yang telah mengurus surat di tingkat kecamatan (SKGR).

Pihak Kecamatan Tenayan Raya telah menerbitkan puluhan SKGR atas tanah yang bukan milik pelaku. Perdagangan tanah secara ilegal tersebut berlangsung selama belasan tahun.

Saat ini ada ratusan bangunan di hamparan lahan sekitar kawasan Gunung Salak yang terancam penggusuran. Kebanyakan dari mereka adalah para korban yang membeli tanah atas perampasan yang dilakukan kelompok Jaunur Simanjuntak dan Limbong.

Jaunur dan Limbong, keduanya dikabarkan merupakan ketua kelompok penyerobotan tanah dengan membawa-bawa nama Tuhan. Dia bahkan telah beberapa kali keluar masuk sel tahanan atas kasus perampasan hak tanah milik orang lain.

"Tanah ini milik tuhan, bukan milik siapa-siapa," kata seorang dari kelompok Jaunur Simanjuntak dan Tobok Limbong.

Bahkan dilaporkan, telah ada puluhan korban dari kelompok ini, mereka menjual tanah tersebut dengan harga miring dan hasil keuntungan itu dibawa mereka ke kampung halaman.

Diperkirakan sudah miliaran rupiah uang yang mereka raup.

"Saya sudah capek mengadu ke sana-sini, termasuk melapor ke Lurah, ke Camat bahkan ke Polda Riau tapi nggak ada kejelasan. Menangis batin ini. Mereka yang menyerobot tanah saya juga membawa-bawa nama Tuhan. Tapi ini adalah hak, sampai kapanpun akan saya perjuangkan, jika saya mati, tujuh keturunan saya akan memperjuangkannya," kata Arief Cuba. (RB/fzr)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
Fazar Muhardi

Berita Terkini

4 Teroris Ditangkap di Kampar Diduga Jemaah Anshar Daulah

Selasa, 24 Oktober 2017 - 14:30 WIB

Foto-foto Demonstrasi Karyawan RAPP dan Tuntutannya

Senin, 23 Oktober 2017 - 16:40 WIB

Fraksi PKB Bingung dengan LPJ APBD 2016 Pemkab Inhil

Senin, 18 September 2017 - 15:05 WIB

Selatpanjang Kota Tanah Jantan yang Mulai Menggeliat

Kamis, 19 Oktober 2017 - 08:23 WIB

Pelabuhan Sungai Duku Pekanbaru Mulai Bersih

Rabu, 18 Oktober 2017 - 08:41 WIB

Banyak Legislator yang 'Sakit', Biar Sehat Pakai Sepeda

Selasa, 17 Oktober 2017 - 06:46 WIB

Ini Bandara Paling Tak Berguna di Dunia

Senin, 16 Oktober 2017 - 12:13 WIB

Hukum, Tanah dan Pemerintah

Minggu, 15 Oktober 2017 - 23:00 WIB

Target Meranti 4.000 Haktera Lahan untuk Padi

Kamis, 12 Oktober 2017 - 23:43 WIB

Cegah Korupsi di Inhil, Bupati Wardan Bilang Ini Baik

Kamis, 12 Oktober 2017 - 13:39 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia