Pancasila dan Orang Indonesia

Dewasa ini, negeri ini kembali mengalami berbagai macam polemik-polemik lama yang justru sebenarnya telah tuntas dan disepakati kesepakan finalnya oleh para tokoh bangsa, baik itu dari kalangan ulama maupun dari kalangan pemuka pemerintahan diawal-awal kemerdekaan, tentu saja dengan adanya ini sama dengan mnghidupkan kembali bara api yang sebenarnya telah dipadamkan dengan bijaksana oleh para tokoh bangsa pada saat awal-awal kemerdekaan dahulu.

Pancasila pada hakikatnya adalah system nilai (Value Sistem) yang merupakan kristalisasi nilai-nilai luhur kebudayaan bangsa Indonesia sepanjang sejarah, yang berakar dari unsur-unsur kebudayaan luar yang sesuai sehingga secara keseluruhannya terpadu menjadi kebudayaan Indonesia dan hal itu dapat dilihat dari proses terjadinya Pancasila yaitu melalui suatu proses yang disebut Kausa Materalisme karena nilai-nilai Pancasila telah hidup sejak zaman dulu yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari. (lihat, M. Alpi Syahrin, Pendidikan Pancasila, 70:2013).

Ada beberapa aspek setidaknya yang dapat membuat isu ini muncul kembali, dan salah satu aspek yang paling menonjol adalah kedangkalan segolongan pemahaman tentang sejarah pancasila itu sendiri sehingga mereka membenturkan Pancasila dengan nilai-nilai agama. Dalam suatu perkuliahan dan diskusi ilmiah penulis melihat dan mencermati dalam Undang-Undang Dasar 1945 tepatnya pada Bab XI Tentang Agama Pasal 29 ayat (1) menyatakan, "Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa". (Lihat, Wira Atma Hajri, Living Constitution Cara Menghidupkan UUD 1945, 98:2017).

Kenyataan-kenyataan yang dikemukakan diatas merupakan bukti konkrit bahwa dari sejarah sebelum berdirinya negara Republik Indonesia ini, orang-orang yang telah hidup lama di tanah pertiwi ini juga telah menerapkan secara langsung nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila, seperti hidup dengan saling bergotong royong dan saling tolong menolong dan perkembangan selanjutnya sejatinya Pancasila mengikuti dan sesuai dengan nilai-nilai agama, terutama agama Islam yang dianut oleh mayoritas bangsa Indonesia sendiri. Prof Kaelan menyebutkan dalam bukunya, setidaknya ada tiga dimensi, karena Pancasila merupakan Hasil pemikiran dan didalamnya terdapat cita-cita yang luhur, dimensi yang pertama adalah:

1.Dimensi Idealistis, yaitu nilai-nilai yang terkandung didalam Pancasila yang bersifat sistematis, Rasional dan menyeluruh, yaitu hakikat nilai-nilai yang terkandung dalam sila-sila pancasila, diantaranya ketuhanan yang maha esa, kemanusia, persatuan, kerakyatan dan keadilan.

2.Dimensi Normatif, yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila perlu dijabarkan dalam suatu sistem norma, sebagaimana terkandung dalam norma-norma kenegaraan. Dalam pengertian ini Pancasila terkandung dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan norma tertip hukum tertinggi dalam negara Indonesia yang merupakan staats fundamental norm (pokok kaidah negara yang fundamental).

3.Dimensi Realistis, yaitu suatu ideology harus mampu mencerminkan realitas yang hidup dan berkembang dalam masyarakat, dengan demikian Pancasila sebagai ideology terbuka tidak bersifat "utopis" yang hanya berisi ide-ide yang bersifat mengawang, melainkan suatu ideology yang bersifat "realistis" artinya mampu menjabarkan dalam segala aspek kehidupan nyata. (Lihat, Kaelan, Pendidikan Pancasila, 121-122:2010).

Sehingga pada dasarnya Pancasila yang merupakan telah dan diAnggap sesuai dengan budaya bangsa Indonesia, tentu saja tidak seorangpun dapat mengklaim dirinya mengaku bahwa "saya atau kami yang paling Pancasilais dan berbhineka sedangkan yang lain adalah anti kebhinekaan", dan menurut hemat penulis justru orang-orang seperti inilah yang anti kebhinekaan dan memicu perselisihan dikarenakan menuduh secara sepihak segolongan orang serta menjastifikasi kemungkinan-kemungkinan buruk yang mereka tuduhkan yang belum tentu dan tidak pernah mereka lakukan.

Tidak ada dasar untuk seorang politisi mengklaim dirinya paling Pancasilais dari pada yang lain karena jabatan dan lain sebagainya, karena Pancisilais atau tidak Pancasilais nya seseorang itu tidak dinilai dari ucapannya akan tetapi dinilai dari apa yang telah ia perbuat dan mamfaatnya secara umum.

Lalu bagaimana dengan para ulama dan ormas Islam, yang belakangan ini sering dikait-kaitkan dengan sikap-sikap anti Pancasila, penulis bertanya, bukankah ajaran Islam mengajarkan hidup bertuhan, bukankah Islam mengajarkan hidup harus bersatu, bukankanh Islam mengajarkan setiap putusan dan perbuatan harus adil, bukankah Islam mengajarkan bahwa sesama manusia harus saling tolong menolong dan lain-lain sebagainya, tidak ada satu point pun dalam sila-sila Pancasila yang berlawan dengan Islam, dan bahkan Pancasila adalah merupakan suatu rumusan yang mengikuti ajaran Islam dan hal ini dapat dilihat dari aspek sejarah dan materi muatan dari isi Pancasila itu sendiri, hingga akhirnya, setiap orang Islam memiliki hak untuk berpendapat dan menyebarkan ataupun berdakwah dengan agamannya dan ini merupakan suatu kewajiban untuk umat Islam dengan menegakkan yang benar dan memerangi yang salah, karena segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Islam itu bukanlah maksud dari rumusan dan keberadaan Pancasila

Pancasila diharapkan dijadikan sebagai jembatan perekat persatuan dan kesatuan bangsa ini, karena pada kenyataannya bangsa Indonesia terdiri dari berbagai macam agama ataupun kepercayaan dan bukan dijadikan sebagai penindas salah satu, Pancasila bukan dijadikan sebagai peniadaan hak konstitusional dan diskriminasi terhadap agama serta ormas-ormas yang didirikan oleh masyarakat yang bermaksud untuk menjalankan perintah agamanya, akan tetapi Pancasila itu ada sebagai perekat rasa se bangsa dan se tanah air di bumi pertiwi Indonesia sehingga menimbulkan sikap saling tolong-menolong dan toleransi.

Oleh: Jufri Hardianto Zulfan, SH

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

foto

Terkait

Foto

Tebak Siapa yang Paling Bodoh di Gambar, Ini Menentukan Kepribadian Kamu

RIAUBOOK.COM - Setiap orang memiliki pilihan dalam menjalani hidup, termasuk kamu, dan semua keputusan tentu menentukan masa depan.Nah, coba lihat…

Foto

Aspal Plastik Bukan Solusi Penanganan Sampah yang Tepat

Bangsa Indonesia sudah merdeka selama 72 tahun. Namun, proses menjadikan negara Indonesia agar lebih maju tentunya sudah dilakukan jauh…

Foto

Catatan Gilang Mahardika untuk Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda dahulu yang menyatukan perbedaan antara Papua, Jawa, Minang, Bugis, Bali, Batak, Tionghoa, Dayak, Arab dan lainnya sehingga…

Foto

Catatan Najwa untuk Sumpah Pemuda

Para pemuda pernah bersumpah kepada Indonesia, akan bersatu dalam tumpah darah bangsa dan bahasa.Bahwa pemuda akan selalu menghaturkan bakti,…

Foto

Peran Sentral Pemuda

Pemuda harus aktif dalam perubahan bangsa ini dan menjadi orang terdepan dalam membangun bangsa ini untuk lebih baik, Pemuda adalah…

Foto

Hari Sumpah Pemuda, Ketua KNPI Inhil: Pemuda-pemudi Tetap Berkarakter

RIAUBOOK.COM - Peringatan hari sumpah pemuda ke - 89 Tahun 2017, Ketua DPD KNPI Inhil, Hidayat Hamid, S.Pd.I berharap pemuda-pemudi…

Foto

Aditya dan Gelora Gerakan Mahasiswa

Mahasiswa Riau tersentak mendengar kabar tertahannya salah satu mahasiswa Universitas Riau dari jurusan PPKn, Aditya Putra Gumesa (Menteri Sosial…

Foto

3 Tahun Kepemimpinan Jokowi - JK, Menagih Nawacita di Bidang Pendidikan

Sebelum melenggang menjadi Presiden dan Wakil Presiden RI, Joko Widodo dan Muhammad Jusuf Kalla (Jokowi-JK) mengungkapkan visi misinya jika terpilih…

Foto

Fokuslah pada Isu-isu Besar, Jangan Terkecoh dengan Isu Kecil

Strategi perang Cina kuno dalam buku memancing Harimau turun gunung, 36 Strategi Perang Cina Kuno GAO YUAN yakni 'Mengecoh…

Foto

Niat KPK Memang Merusak Citra Peradilan

Ijinkan saya menyampaikan fakta tentang peradilan kita pasca reformasi. Jangan percaya KPK dan antek-anteknya soal keadaan pengadilan kita karena memang…

Foto

Propaganda Anti Korupsi Seperti Cara Kerja PKI

Mereka menyerang orang yang mengkritik cara mereka bekerja sebagai koruptor.Buat mereka, lebih baik Anda korup tetapi memuji cara kerja mereka…

Foto

Organ-organ Jaringan Narkoba di Riau, Mana Jantungnya?

Menjadi topik hangat, kabar tentang Badan Narkotika Nasional menembak mati satu dari dua tersangka yang berkonvoi membawa sabu 25 kilogram…

Foto

Apa dan Siapa yang Salah dari Lahirnya Oknum Mahasiswa Brutal

Millenial ini, perkembangan teknologi, sains dan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Di Universitas, Lembaga Penelitian, dan Komunitas Mandiri (swasta). Perkembangan teknologi,…

Foto

Bangsa Paling Dermawan

Membanggakan, Indonesia kembali masuk dalam jajaran negara paling dermawan di dunia. Dalam daftar World Giving Index 2017 yang baru saja…

Foto

Polemik E-KTP dan Licinnya Setya Novanto

Polemik berkepanjangan kasus korupsi dalam proyek E-KTP semakin berlarut-larut. Upaya mengungkap tabir misteri di balik kasus ini seakan mustahil dilakukan…

Foto

Manusia yang Mencipta Sejarah

An idea starts to get interesting when you get scared of taking it to its logical conclusion. (Nassim Nicholas Taleb).…

Foto

Tips Memilih Pengacara Biar Enggak Rugi

RIAUBOOK.COM - Hampir setiap orang tentu memiliki masalah, tidak sedikit yang kemudian berhadapan dengan hukum atau melakukan gugatan secara perdata…

Foto

Sunnah Sedirham Surga

RIAUBOOK.COM - Adalah Imam Abu Dawud, penulis Kitab Sunan, demikian Al-Hafidz Ibnu Hajar menukil riwayat dari Ibnu 'Abdil Barr. Berada…

Foto

Isu PKI dan Pilpres 2019, Apa Kaitannya?

RIAUBOOK.COM, JAKARTA - Benarkah PKI itu ada? Siapa saja orang-orangnya kini, dan Apa tujuan akhir mereka? Ini adalah pertanyaan dasar…

Foto

Nasib 300 Desa Pasca-Perda RTRWP Riau Diketok Palu

Agenda Rapat paripurna pengesahan Perda Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi (RTRWP) Provinsi sempat tertunda 2 kali. Bersyukur, akhirnya bisa bernafas…

foto

Pendidikan