Hamidun Majid. (foto dok. pribadi)

Senin, 13 November 2017 - 13:36 WIB 1950000

Cerdas Memilih di Tengah Kemajuan Teknologi

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM- Oleh Hamidum Majid

Hidup di negara yang demokrasi, tentu saja kita sebagai warga negara Indonesia tidak asing lagi dengan pemilihan umum. Mulai dari pemilihan kepala desa, kepala daerah dan wakil kepala daerah, sampai kepada pemilihan presiden dan wakil presiden serta pemilihan anggota legislatif.

Tentunya dalam pesta demokrasi ini banyak bakal calon yang bermunculan untuk bertarung pada setiap pemilihan umum yang dilaksanakan, baik di tingkat desa, daerah, maupun pusat. Hal ini sesuai dengan amanat pasal 43 undang-undang no 39 tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia bahwa "setiap warga negara berhak untuk dipilih dan memilih dalam pemilihan umum berdasarkan persamaan hak melalui pemungutan suara yang langsung, umum, bebas, rahasia, jujur, dan adil sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan".

Tentunya sebagai pemilih kita harus cermat dalam memilih calon atau pasangan calon mana yang layak untuk kita pilih.

Mungkin untuk memilih calon kepala desa kita tidak perlu repot-repot mencari tahu tentang siapa yang akan kita pilih, karena mungkin para calon kepala desa tersebut kita kenali semuanya, hal ini dikarenakan seringnya kita bertemu dengan mereka, sehingga kita dapat menilai mereka secara langsung.

Akan tetapi akan berbeda halnya dengan pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah, presiden dan wakil presiden, serta anggota legislatif. Mungkin saja para calon yang bermunculan bukanlah orang yang kita kenal, karena mungkin saja semua calon tersebut berasal dari daerah di luar tempat tinggal kita, dan kita pun tidak pernah kenal dengan mereka.

Lalu bagaimana cara kita menentukan pilihan?

Seperti yang telah saya sampaikan di atas bahwa bagi kita yang kenal dengan calon yang akan pilih, tentu kita dapat menilai secara langsung layak atau tidaknya calon tersebut untuk kita pilih. Akan tetapi bagi orang-orang yang sama sekali tidak mengenali para calon tersebut, dapat menetukan calon mana yang layak untuk dipilih dengan cara mencari tahu tentang siapa para calon tersebut, salah satu caranya adalah dengan memanfaatkan teknologi, misalnya dengan melakukan pencarian di internet tentang profil masing-masing calon yang akan kita pilih, sehingga kita dapat menentukan calon yang mana yang layak kita pilih.

Memang sebelum proses pemilihan dilaksanakan, para calon diberikan kesempatan untuk melakukan kampanye untuk memperkenalkan siapa mereka, dan juga menyampaikan visi dan misi mereka. Akan tetapi perlu kita garis bawahi bahwa, dalam proses kampanye, para calon atau pun tim suksesnya tentunya hanya akan menyampaikan hal-hal yang positif tentang calon yang akan dipilih, hal ini tentunya untuk menarik perhatian masyarakat agar mau memilih calon yang berkampanye tersebut.

Akan tetapi sebagai pemilih yang cerdas, tentu kita tidak akan menerima mentah-mentah apa yang disampaikan oleh para calon atau pun tim suksesnya pada saat kampanye, kita perlu mengetahui sisi lain dari apa-apa yang telah disampaikan pada saat kampanye. Sekali lagi saya tegaskan bahwa salah satu cara yang dapat kita lakukan adalah dengan mencari tahu tentang siapa calon yang akan kita pilih tersebut melalui media, kita perlu tahu siapa dan bagaimana calon tersebut sebelum ia mencalonkan diri, di mana ia bekerja, dan apa saja hal-hal yang pernah dilakukannya. Selain itu, kita juga dapat membandingkan antara satu calon dengan calon yang lainnya dengan cara membandingkan profil masing-masing calon tersebut.

Dengan usaha kita dalam menggali informasi tersebut, mudah-mudahan kita menjadi pemilih yang cerdas, yang memilih bukan karena omongan orang, akan tetapi hasil pilihan sendiri berdasarkan bertimbangan-pertimbangan setelah kita berusaha untuk mencari tahu tentang siapa calon yang akan layak kita pilih.

Menentukan pilihan mungkin bukanlah perkara mudah bagi kita, karena sudah pasti bahwa dalam memilih kita harus menentukan yang terbaik dari yang terbaik.

Mengapa saya katakan demikian? Hal ini dikarenakan para calon tersebut tentulah orang yang terbaik menurut partai yang mengusung mereka masing-masing, sudah pasti partai pengusung tidak akan sembarangan untuk mencalonkan seseorang, tentunya ada tahapan-tahapan yang dilalui oleh sesorang untuk layak dicalonkan oleh partai pengusung.

Artinya, kita bukanlah memilih sembarang orang, kita akan memilih satu yang terbaik dari seluruh calon terbaik yang ada.

Mari cerdas memilih

Jangan sampai kita memilih hanya karena ajakan saudara atau pun teman kita untuk memilih salah satu calon, padahal kita tidak tahu pasti tentang siapa calon yang akan kita pilih tersebut.

Selain itu jangan sampai kita memilih berdasarkan siapa yang banyak memberi kita uang. Jangan sampai hak memilih kita dibeli dengan harga yang murah oleh oknum-oknum yang mencari keuntungan pada pelaksanaan pesta demokrasi ini.

Kita harus menyadari bahwa hak untuk memilih calon mana yang akan kita pilih merupakan hak kita sebagai warga negara indonesia. Jangan sampai kita menyia-nyiakan hak memilih kita, karena pilihan kita akan menetukan masa depan negara kita.

Di penghujung tahun 2017 ini kita akan dihadapkan dengan dua kali pesta demokrasi berturut-turut. Yaitu pemilihan kepala daerah dan wakil kepala daerah serentak pada tahun 2018 dan pemilihan presiden dan wakil presiden serta anggota legislatif pada tahun 2019 nanti. Marilah kita gunakan hak suara kita untuk memilih siapa yang patut untuk memimpin di daerah kita dan juga siapa yang berhak duduk di kursi RI 1 dan siapa-siapa saja yang layak untuk duduk di kursi legislatif. Jangan sampai kita golput, karena golput bukanlah pilihan, orang yang golput berarti ia tidak mengambil haknya sebagai warga negara.

Betapa hinanya kita jika pada saat mendapatkan bantuan sosial yang merupakan hak kita sebagai warga miskin kita berbondong-bondong untuk mengambil hak kita tersebut, akan tetapi pada saat pemilihan umum kita ogah-ogahan untuk mendatangi TPS, bahkan ada yang tidak melaksanakan haknya untuk memilih (golput).

Jika kita memilih berdasarkan siapa yang memberikan uang terbanyak, ataupun memilih karena ikut pilihan orang, bahkan jika kita lebih memilih untuk golput, maka untuk apa negara mengeluarkan dana yang besar untuk melaksanakan pemilihan umum kalau pada akhirnya pesta demokrasi tersebut cacat ataupun rusak oleh oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab.

Sekali lagi saya tegaskan, mari kita cerdas memilih, manfaatkan teknologi untuk membantu kita dalam mencari tahu tentang siapa yang pantas kita pilih, mudah-mudahan dengan kita cerdas memilih, masa depan demokrasi di negara kita semakin baik. Amin yaa rabbal'alamin.

Tentang penulis: Hamidum Majid adalah alumni Pondok Pesantren Islamic Center A-Hidayah Kampar Timur ( tamat tahun 2014 ), saat ini penulis sedang kuliah di Jurusan Hukum Tata Negara ( Siyasah ) Fakultas Syari'ah dan Hukum UIN SUSKA RIAU. (RB/yopi)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
Yopi Pranoto

Berita Terkini

Pancasila dan Orang Indonesia

Jumat, 10 November 2017 - 21:59 WIB

Catatan Gilang Mahardika untuk Sumpah Pemuda

Minggu, 29 Oktober 2017 - 22:46 WIB

Catatan Najwa untuk Sumpah Pemuda

Minggu, 29 Oktober 2017 - 21:46 WIB

Peran Sentral Pemuda

Sabtu, 28 Oktober 2017 - 09:26 WIB
Opini

Aditya dan Gelora Gerakan Mahasiswa

Sabtu, 21 Oktober 2017 - 21:38 WIB

Niat KPK Memang Merusak Citra Peradilan

Senin, 09 Oktober 2017 - 10:19 WIB

Propaganda Anti Korupsi Seperti Cara Kerja PKI

Minggu, 08 Oktober 2017 - 11:19 WIB

Organ-organ Jaringan Narkoba di Riau, Mana Jantungnya?

Jumat, 06 Oktober 2017 - 23:09 WIB

Bangsa Paling Dermawan

Rabu, 04 Oktober 2017 - 13:55 WIB

Polemik E-KTP dan Licinnya Setya Novanto

Rabu, 04 Oktober 2017 - 11:12 WIB

Manusia yang Mencipta Sejarah

Rabu, 04 Oktober 2017 - 09:17 WIB

Tips Memilih Pengacara Biar Enggak Rugi

Rabu, 04 Oktober 2017 - 08:22 WIB

Sunnah Sedirham Surga

Senin, 02 Oktober 2017 - 17:55 WIB

Isu PKI dan Pilpres 2019, Apa Kaitannya?

Senin, 02 Oktober 2017 - 10:26 WIB
Opini

Nasib 300 Desa Pasca-Perda RTRWP Riau Diketok Palu

Senin, 02 Oktober 2017 - 10:17 WIB

Kedaulatan Ekonomi Digital

Kamis, 28 September 2017 - 09:54 WIB

Menanti Calon Independen Pilgubri 2018

Kamis, 21 September 2017 - 22:53 WIB
Opini

Menelisik Gagalnya Pengesahan Perda RTRWP Riau

Kamis, 14 September 2017 - 11:29 WIB
Opini

Berebut Berteduh di Pohon Beringin

Selasa, 12 September 2017 - 12:26 WIB

Di Balik Berkah dan Musibah Dana Desa

Senin, 04 September 2017 - 09:51 WIB

Perubahan Iklim Lingkungan

Minggu, 06 Agustus 2017 - 10:18 WIB
Opini

Bangsa Cakap Indonesia

Minggu, 23 Juli 2017 - 14:09 WIB
Dirgahayu KNPI ke 44

Bangkit Pemuda Indonesia

Minggu, 23 Juli 2017 - 12:18 WIB
Opini

Nasihat Hukum untuk Presiden PKS

Kamis, 20 Juli 2017 - 00:00 WIB
Opini

Demokrasi Kita Terancam

Rabu, 19 Juli 2017 - 12:34 WIB
Opini

Setya Novanto Tersangka, Hadiah atau Musibah?

Selasa, 18 Juli 2017 - 18:25 WIB
Editorial

'Mati Suri' Pembangunan Daerah

Rabu, 12 Juli 2017 - 10:56 WIB
Editorial

Kembali Beraktivitas dengan Semangat Fitri

Senin, 03 Juli 2017 - 11:23 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia