Foto @Fahrihamzah

Jumat, 17 November 2017 - 23:36 WIB 4270000

Manuver Politik KPK

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Oleh Fahri Hamzah

Saya berada di tengah politik yang bergoncang, maka jika pun tidak semua, sedikit banyak saya paham.

Ijinkan saya menulis soal dua sahabat saya yang tumbang di jalan. Dari kursi ketua umum partai.

Pertama Anas Urbaningrum yang sekarang mendekam dalam penjara. Dicopot dari ketum Partai Demokrat.

Anas adalah politisi muda yang cemerlang. Mantan ketua umum HMI yang yang gemilang. Saya kenal sejak muda.

Rutenya menuju kursi panas cepat sekali. Maafkan saya menyebutnya demikian. Sebab memang panas.

Dari KPU masuk partai, masuk DPR dan lalu menjadi ketua umum sambil mengundurkan diri dari anggota DPR

Waktu mundur jadi ketua umum saya anggap dia hebat luar biasa. Tahu meletakkan diri supaya tidak konflik kepentingan.

Bagaimanapun dia memimpin partai pemenang pemilu dan berkuasa dalam pemerintahan. Mundur adalah baik dan benar.

Tapi politik tak membuatnya langgeng, konflik membuatnya harus pecah dan terbelah. Sebuah siasat menjatuhkannya berjalan.

Adalah Nazaruddin yang dipakai menjatuhkannya. Nazar memang rawan, saya tahu sejak awal.

Nazar ini ingin membeli semua orang. Dengan alasan sebagai partai penguasa dia peras semua orang.

Dan KPK seperti jumpa mitra untuk menghancurkan semua orang. Nazar disuruh bernyanyi lagu tentang Anas

Keluarlah semua semua karangan dan KPK segera bereaksi, politisi muda itu ditumbangkan. Entahlah oleh apa.

Tidak ada kesaksian yang secara materiil menyebutkan AU melakukan pidana dengan 2 alat bukti. Tidak ada.

Tapi nyanyian nazar merdu sekali, sebagai bendahara umum dia hanya menyanyi tentang ketum, sekum, dll tidak.

Saya terpukul suatu hari diundang oleh isteri beliau berjumpa mertua sang kyai besar. Pesantren besar.

Tanah pesantren diberi garis polisi, seolah pesantren tua itu hasil korupsi. Saya minta doa pak kyai bagi kami yang muda.

Kyai Attabik menghadiahi saya 2 kamus bahasa Arab yang besar. "Allah maha adil". Bismillah.

Saya tak pernah berjumpa Anas lagi. Tapi kerinduan selalu datang tentang anak muda muslim yang jadi pemimpin.

Anak muda seperti Anas dibuat secara susah payah. Ditempa sejak muda dalam LK dan kompetisi yang ketat.

Sekarang, kasusnya tidak jelas. Tapi KPK tetap mau memakai Nazar untuk mematikan lawan-lawannya, ada apa?

Ada banyak yang saya tidak katakan tetapi semoga tak perlu dikatakan. Agar semua sadar dan bertaubatlah.

Demikianlah.

Sosok ketua umum kedua, kami di PKS menyebutnya Ustadz, karena Luthfi Hasan Ishaq memang anak pesantren.

Waktu beliau ditangkap, beliau sedang memimpin rapat. Seharian penuh tidak bisa menelepon siapapun.

Tapi Fatonah memakai namanya untuk meminta uang kepada seorang importir daging. Uang itu tak pernah sampai.

KPK memaksa Fatonah mengakui bahwa uang itu untuk LHI tapi tidak mau mengakuinya. Hampir 24 jam KPK tak ketemu alasan.

Akhirnya KPK memaksa sopir Fatonah mengakui. Sesuatu yang tidak berhubungan. Jadilah ia tersangka.

Saya tidak ada di Jakarta saat LHI dijemput dengan bentakan-bentakan penyidik yang menciutkan nyali. Darahku mendidih.

Aku pulang dari Manila, aku menangis mendengar pidato Anis Matta, presiden baru PKS. Segera dilantik atasi krisis.

Dalam pidatonya, ia mengatakan bahwa ia mencintai LHI, dan ia ingin LHI mengetahui bahwa ia mencintainya.

Dengan kalimat itu semangat persatuan kami kembali, ALHAMDULILLAH partai terkonsolidasi dan PKS tidak jatuh.

Meski pemilu hanya hitungan 4 bulan lagi saat LHI divonis tapi PKS berhasil bertahan. Persatuan membuahkan hasil.

Apa salah LHI tidak terlalu jelas dan memang tidak penting buat KPK. Sebab mempermalukan politisi adalah yang utama.

Bayangkan saja, mantra yang dipakai adakah "skandal daging berjenggot" padahal tidak se-sen pun kerugian negara.

Tidak ada satu pemberi ijin Import pun terlibat bagaimana dia menjadi skandal Import?

Tapi 75 orang diperiksa dan KPK menciptakan orkestra siang malam. Ramai luar biasa.

Itulah dua anak bangsa, aktifis Islam yang dihancurkan hidupnya oleh KPK. Tanpa jelas apa salahnya.

Tapi itulah cara bangsa kita saling melukai... sebab nanti pimpinan KPK juga akan jatuh sebagaimana yg lalu.

Korban manuver KPK sudah banyak dan saya tidak tahu ini untuk kepuasan siapa?

Saya hanya berdoa agar permainan ini berhentilah. Tidak ada untungnya bagi bangsa kita.

Mari kita tutup dengan salawat ajaran KH Abdullah Syafi'i , agar kita terhindar dari bencana orang zalim. Wallahualam.

*Penulis adalah Wakil Ketua DPR RI, tulisan ini diambil dari akun facebook pribadi milik Fahri Hamzah, 36 menit yang lalu, Jumat (17/11/2017). (RB/yopi)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
Yopi Pranoto

Berita Terkini
Dunia Islam

Sedikit Tentang Ilmu

Jumat, 17 November 2017 - 09:17 WIB

Jangan Sampai Hukum seperti Sarang Laba-laba

Jumat, 17 November 2017 - 07:07 WIB

Benang Menang Merah Antara HAM dan Kebebasan

Kamis, 16 November 2017 - 13:34 WIB

Cerdas Memilih di Tengah Kemajuan Teknologi

Senin, 13 November 2017 - 13:36 WIB

Pancasila dan Orang Indonesia

Jumat, 10 November 2017 - 21:59 WIB

Catatan Gilang Mahardika untuk Sumpah Pemuda

Minggu, 29 Oktober 2017 - 22:46 WIB

Catatan Najwa untuk Sumpah Pemuda

Minggu, 29 Oktober 2017 - 21:46 WIB

Peran Sentral Pemuda

Sabtu, 28 Oktober 2017 - 09:26 WIB
Opini

Aditya dan Gelora Gerakan Mahasiswa

Sabtu, 21 Oktober 2017 - 21:38 WIB

Niat KPK Memang Merusak Citra Peradilan

Senin, 09 Oktober 2017 - 10:19 WIB

Propaganda Anti Korupsi Seperti Cara Kerja PKI

Minggu, 08 Oktober 2017 - 11:19 WIB

Organ-organ Jaringan Narkoba di Riau, Mana Jantungnya?

Jumat, 06 Oktober 2017 - 23:09 WIB

Bangsa Paling Dermawan

Rabu, 04 Oktober 2017 - 13:55 WIB

Polemik E-KTP dan Licinnya Setya Novanto

Rabu, 04 Oktober 2017 - 11:12 WIB

Manusia yang Mencipta Sejarah

Rabu, 04 Oktober 2017 - 09:17 WIB

Tips Memilih Pengacara Biar Enggak Rugi

Rabu, 04 Oktober 2017 - 08:22 WIB

Sunnah Sedirham Surga

Senin, 02 Oktober 2017 - 17:55 WIB

Isu PKI dan Pilpres 2019, Apa Kaitannya?

Senin, 02 Oktober 2017 - 10:26 WIB
Opini

Nasib 300 Desa Pasca-Perda RTRWP Riau Diketok Palu

Senin, 02 Oktober 2017 - 10:17 WIB

Kedaulatan Ekonomi Digital

Kamis, 28 September 2017 - 09:54 WIB

Menanti Calon Independen Pilgubri 2018

Kamis, 21 September 2017 - 22:53 WIB
Opini

Menelisik Gagalnya Pengesahan Perda RTRWP Riau

Kamis, 14 September 2017 - 11:29 WIB
Opini

Berebut Berteduh di Pohon Beringin

Selasa, 12 September 2017 - 12:26 WIB

Di Balik Berkah dan Musibah Dana Desa

Senin, 04 September 2017 - 09:51 WIB

Perubahan Iklim Lingkungan

Minggu, 06 Agustus 2017 - 10:18 WIB
Opini

Bangsa Cakap Indonesia

Minggu, 23 Juli 2017 - 14:09 WIB
Dirgahayu KNPI ke 44

Bangkit Pemuda Indonesia

Minggu, 23 Juli 2017 - 12:18 WIB
Opini

Nasihat Hukum untuk Presiden PKS

Kamis, 20 Juli 2017 - 00:00 WIB
Opini

Demokrasi Kita Terancam

Rabu, 19 Juli 2017 - 12:34 WIB
Opini

Setya Novanto Tersangka, Hadiah atau Musibah?

Selasa, 18 Juli 2017 - 18:25 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia