Peselancar dunia sedang menikmati gelombang Bono Pelalawan. (RB/Advertorial)

Selasa, 21 November 2017 - 10:42 WIB 117610000

Gelombang Bono, Destinasi Wisata Alam yang Mendunia dan Unik di Kabupaten Pelalawan

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Kabupaten Pelalawan yang merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kampar terbentuk berdasarkan Undang-Undang, Nomor 53 Tahun 1999, tentang pembentukan 8 kabupaten/kota di Provinsi Riau yang diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 12 Oktober 1999.

Kabupaten yang hanya berjarak sekitar 60 Kilometer ini dapat ditempuh sekitar 1,5 Jam perjalanan darat dari ibukota Provinsi Riau, Pekanbaru mempunyai ibukota kabupaten yakni Pangkalan Kerinci.

Sebagai kabupaten berusia sangat muda kabupaten ini tidak ingin ketinggalan dari kabupaten lain yang sama-sama menjadi kabupaten pemekaran.

Dengan terbentuknya menjadi sebuah Kabupaten otonomi Kabupaten Pelalawan segera melakukan pembenahan dengan melakukan berbagai terobosan demi mengejar ketinggalannya.

Kabupaten yang saat ini dibawah kepemimpinan periode kedua Bupati HM Harris, saat diperiode pertama kepemimpinannya telah mengucurkan 7 program andalan Pelalawan masing-masing Pelalawan Cerdas, Pelalawan Sehat, Pelalawan Terang, Pelalawan Lancar melalui Program Percepatan Pembangunan Infrastruktur Desa/Kelurahan (PPIDK), Pelalawan Makmur melalui Program Peningkatan Ketahanan Pangan dan Perkebunan, Pelalawan Eksotis melalui Pengembangan Objek Wisata Bono, dan Program Pembangunan Kawasan Teknopolitan Pelalawan.

Untuk Pelalawan Eksotis Pemerintahan Kabupaten Pelalawan telah mempersiapakan sebuah destinasi wisata yang ada di Kecamatan Teluk Meranti dan Kuala Kampar yaitu Gelombang Bono. Selain itu masih ada objek wisata lainnya seperti Istana Sayap Pelalawan, Tugu Equator di Pangkalan Lesung, Pusat Budaya Petalangan di Betung, Taman Nasional Tesso Nilo di Ukui, serta pemandian air panas di Pangkalan Lesung dan lain-lainnya.

Mengapa Gelombong Bono menjadi target pengembangan karena memang wisata ini mempunyai satu keunikan yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia juga di dunia, dimana disebuah semenanjung sungai dapat melakukan surfing atau berselancar seperti halnya di laut.

Selain itu juga Gelombang Bono atau yang lazim disebut Bekudo Bono oleh warga masyarakat tempatan ini diduga juga mempunyai unsur magis dengan mempunyai 7 tingkat gelombang.

"Seven Ghost," ujar peselancar top dunia saat menjajal kemampuannya di Gelombong Bono Sungai Kampar setiap tahunnya.

Melihat hal tersebut tentunya Pemerintah Kabupaten Pelalawan mulai memikirkan untuk dapat menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara agar dapat berkunjung sekaligus menyaksikan kemolekan dan keindahan fenomena yang terjadi di alur sungai ini.

Dengan ini Pemerintah Kabupaten Pelalawan terus melakukan berbagai upaya untuk mempromosikan gelombang bono dimulai dari dalam negeri hingga ke mancanegara. Setiap ada kesempatan gelombang bono tetap menjadi prioritas pemerintah untuk ditawarkan.

Salah satu cara promosi yang dilakukan pemerintah kabupaten pelalawan dengan secara berkala menggelar even seni dan budaya guna menambah daya tarik pengunjung. Promosi yang setiap tahun dilaksanakan disaat pasang mati, dimana air laut naik menuju daratan terjadi saat bulan-bulan November dan Desember adalah dengan menggelar "Bekudo Bono".

Acara ini meramu sejumlah kegiatan dengan ikon wisata seperti menampilkan seni dan budaya kabupaten/kota Se-Provinsi Riau, kemudian acara lomba mancing dan tentu saja lomba berselancar dengan berbagai kategori, baik tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, ada juga lomba fotografi yang diharapkan menghasilkan momen-momen eksotik dari gelombang bono nan asri dan memukau.

Dengan segala usaha dan upaya pemerintah kabupaten pelalawan dalam promosi wisata yang dalam pengelolaan akhirnya wisata gelombang bono mendapat pengakuan dari pemerintah pusat dengan masuknya wisata bono menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang mendapat prioritas pengembangan dan promosi keseluruh mancanegara.

Hal ini dibuktikan dengan menerimanya Bupati HM Harris sebuah penghargaan dalam promosi dan pengelolaan objek wisata dari pemerintah pusat berupa penghargaan Citra Pesona Award 2013 yang termasuk dalam 10 besar terbaik pengelolaan objek wisatanya di seluruh Indonesia.

Demi mewujudkan itu semua itu, HM Harris sebagai Bupati Pelalawan sangat menyadari bahwa itu bukan hal mudah. Perlu dukungan dari semua pihak, baik dari internal pemerintahan, masyarakat, stakeholder juga termasuk insan media.

"Pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri-sendiri dalam mewujudkan target-target tersebut tanpa dukungan semua pihak," ujar Bupati HM Harris diruang kantornya saat ditemui insan pers terkait pencalonannya menuju Riau Satu, beberapa waktu yang lalu.

Masih menurutnya, Pelalawan punya potensi yang besar untuk sumber daya alam dan sumber daya manusia. Seluruh keunggulan tersebut, merupakan potensi besar untuk bisa memajukan Pelalawan. Namun demikian, pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri mewujudkan target-target tersebut tanpa dukungan masyarakat.

"Sebab, pencapaian kemandirian, pencapaian kesejahteraan masyarakat dan pencapaian kemajuan daerah tidak akan dapat terwujud jika hanya mengandalkan kemampuan pemerintah daerah tanpa dukungan semua pihak termasuk dunia usaha," sebut Harris lagi.

Harris mengakui, saat ini dukungan berbagai pihak untuk kemajuan pembangunan Kabupaten Pelalawan sangat dirasakannya. "Untuk itu, saya menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh masyarakat Pelalawan yang sudah mendukung kemajuan pembangunan Pelalawan selama ini," tambahnya.

Saat ditanyakan terkait pengembangan objek wisata Bono sebagai upaya dalam mewujudkan salah satu program Bupati, yakni Pelalawan eksotis, dengan gamblang Harris memaparkan bahwa seluruh program tersebut saling dukung mendukung. "Tentunya pelalawan eksotis harus didukung dengan program Terang, dan Pelalawan Lancar," ungkap Bupati Harris.

Dalam terwujudnya pelalawan terang, di Kecamatan Teluk Meranti dan Kuala Kampar tentunya akan memudahkan setiap masyarakat maupun pengusaha untuk melakukan investasi usaha dalam menyambut kedatangan para wisatawan.

Tentu banyak potensi daerah yang selama ini tersimpan akan dapat digali dalam meningkatkan taraf hidup yang lebih baik lagi bagi warga sejalan dengan program pelalawan makmur.

Selain itu, pembenahan infrastruktur dalam program Pelalawan Lancar akan berdayaguna mendukung masuknya arus wisatawan yang lebih banyak lagi kedaerah tujuan wisata. Program ini harus menjadi perhatian pemerintah guna menarik pengunjung objek wisata, karena dengan tidak baik dan bagusnya infrastruktur sarana dan prasarana sebagus dan seindah apaun itu objek wisata tidak akan dapat menarik perhatian para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Mengantisipasinya, pemerintah Provinsi Riau pun juga tidak mau ketinggalan dengan Pelalawan dalam mengelola dan memajukan destinasi wisata bono yang sudah cukup dikenal masyarakat dunia internasional. Dengan menggulirkan perbaikan dan pembenahan jalur tranfortasi jalan darat bunut tujuan kuala kampar yang saat ini lagi dalam taraf perbaikan akan membuat gelombang bono akan semakin dikenal luas masyarakat.


Dengan mulainya pemerintah Provinsi memperbaiki sarana dan prasarana ke lokasi gelombang bono, pemerintah kabupaten pelalawan juga terus berupaya membenahi sarana lokasi dengan melakukan pengadaan penginapan maupun kerajinan usaha rakyat. Begitu juga dengan pengangkutan air serta dermaga yang telah dibangun pemerintah pusat. Semua itu membuktikan bahwa gelombang bono diprioritaskan dalam mengejar pendapatan pemerintah dari sektor wisata.

"Insyaallah, dalam waktu tidak begitu lama lagi, masyarakat tidak kesulitan lagi dalam menyaksikan gelombang bono yang eksotis," terang Bupati Harris dengan bersemangat.

Kemudian Bupati yang telah memasuki periode kedua dalam memimpin Kabupaten Pelalawan ini dengan 7 program andalan menuju Pelalawan Emas 2021, juga menerangkan bahwa banyak potensi wisata kabupaten ini yang dapat diandalkan dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.

"Butuh perhatian dan keinginan dalam promosi juga pembenahan infrastruktur pendukung," katanya lagi.

Seperti halnya Danau Tajwid atau kajuid yang berlokasi di Kecamatan Langgam. Menurut pandangan Bupati Harris, objek wisata ini memiliki potensi besar menjadi salah satu destinasi wisata alternatif di Kabupaten Pelalawan. Selain memiliki pesona alam yang terbilang asri, Danau Tajwid juga memiliki potensi perikanan yang sangat baik bila dikembangkan.

"Pemerintah mulai melihat Danau Tajwid layak dan pantas untuk menjadi derah kunjungan wisatawan lokal," jelas Harris.

Langkah awal upaya pemerintah kabupaten pelalawan dalam mengexplotasi danau tajwid adalah dengan segera membangun sejumlah fasilitas penunjang untuk melengkapi kebutuhan wisatawan yang akan berkunjung.

"Kita persiapkan seluruh fasilitas sarana dan prasasrana pendukung sehingga kemudahan dalam menjangkau serta kenyamanan dalam menikmati pesona leindahan danau dapat dinikmati warga sehingga akan membuat keinginan warga untuk kembali datang," ujar Bupati.

Apalagi dengan telah diserahkannya Pengelolaan Danau Tajwid kepada pemerintah kabupaten pelalawan, tentunya diharapkan dapat membuat pengelolaannya sesuai dengan platform yang telah digariskan dalam program pelalawan eksotis. Bagi warga masyarakat sekitanya akan mendapatkan nilai tambah dalam hal ekonomi dan kemajuan.

"Jelas dengan telah menjadi daerah tujuan wisatamaka secara perlahan akan membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar, seperti usaha cenderamata, kuliner dan peluang lainnya. Jelas hal ini akan memberikan dampak peningkatan ekonomi bagi masyarakat," disampaikan Bupati dengan jelas.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati HM Harris yang merupakan putra asli daerah Langgam menceritakan asal dari Tajwid atau Kajuid yang sering disampaikan warga. Menurut HM Harris, Danau Tajwid atau Kajuid diambil dari sebuah nama pohon di sekitar lokasi pinggiran danau. Pohon itu berbuah asam dan akan gugur bila musim banjir tiba. Buahnya akan jatuh menjadi makanan berbagai jenis ikan air tawar dan mengundang kehadiran berbagai jenis ikan dari Sungai Kampar yang tersambung ke danau tersebut.

"Bila musim gugur, buah pohon Tajwid menjadi pertanda dan biasanya akan banyak ikan di sekitar Danau Tajwid," terangnya.

Foto: Danau Tajwid

Masih menurut Harris, Danau Tajwid milik masyarakat adat yang selama ini di kelola oleh kaum adat bathin dan ninik mamak. Kemudian dilelang setiap tahun menjadi salah satu tempat mencari ikan yang dikelola secara adat. Hasilnya untuk kebutuhan adat dan keagamaan warga masyarakat langgam.

"Danau ini sudah menjadi salah satu sumber mata pencarian masyarakat dalam mendapatkan ikan dengan cara lelang," sebut Dia kembali.

Danau Tajwid harus di kelola untuk menjadi destinasi wisata pendukung Wisata Gelombang Bono dan sekaligus dapat menjadi nilai tambah bagi masyarakat sekitarnya. Dari hanya sebuah danau tempat mencari ikan dirubah menjadi tempat wisata pelestarian alam sekaligus dapat menjadi suaka margasatwa dan fauna. Tentunya bisa juga menjadi ajang tempat olahraga dan belajar maupun bermain.

"Apabila semua ini dapat diwujudkan maka akan memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat yang nantinya ikut berusaha di lokasi danau tajwid. Bisa buat kuliner, cendramata maupun penyewaan tempat," katanya lagi.

Potensi Danau Tajwid yang sangat luar biasa akan dapat menarik wisatawan lokal dari seluruh daerah di Indonesia, khususnya Riau. "Danau Tajwid ini akan menjadi daerah kunjungan wisata mengimbangi wisata alam yang ada di provinsi tetangga kita," imbuhnya.

Disamping itu danau tajwid akan memasuki promosi sekala riau dan akan mulai dilempar ke investor yang tertarik untuk mengelolanya. "Maka dari itu kita berencana mempersiapkan sarana dan prasarana untuk menarik minat investor," jelasnya lagi.

Danau Tajwid tidak akan menjadi mentimun bungkuk. Dimana tidak diperhitungkan. "Kita menggagas Danau Tajwid menjadi destinasi skala nasional pendukung wisata Bono. Jika hanya melihat dan bermain di gelombang bono rasanya belum lengkap bila tidak mengunjungi pesona alam nan asri, Danau Tajwid," beber Bupati yang cukup ramah ini.

Lalu dijelaskannya lagi, babwa melalui program ketujuh andalan Pemkab Pelalawan yakni Program Pembangunan Kawasan Teknopolitan Pelalawan yang juga berpusat di Kecamatan Langgam. Akan membuat Hutan dan panorama alam sekitarnya yang belum termanfaat secara maksimal karena lokasi rawa dan belum ada fasilitas pendukung sebagai sarana prasarana akan mulai dibenahi seiring dimulainya promosi.

"Pemerintah sudah membuat masterplan Danau Tajwid yang akan dikembangkan dalam Zona Botanikal (tanam tanaman pertanian), Zona Perikanan (Konservasi Perikanan Air Tawar), Zona Kehutanan (Keasrian Hutan Alam dan kearifan lokalnya), Zona Edukatif ( Kepentingan Pendidikan)," Bupati Harris mengakhiri. (RB/ton/ADVERTORIAL)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
redaksi riaubook

Berita Terkini

Gubernur Riau Mengajak Masyarakat Gemar Makan Ikan

Kamis, 09 November 2017 - 21:41 WIB

Sah, APBD Perubahan Pekanbaru Rp2,6 Triliun

Kamis, 12 Oktober 2017 - 13:20 WIB

Potensi Kerang Melimpah, Rohil Gesa Program Pengalengan

Senin, 09 Oktober 2017 - 10:15 WIB

Tunjukkan Keberagaman dan Persatuan

Minggu, 10 September 2017 - 18:33 WIB

Pekanbaru Menuju Bebas Kawasan Kumuh

Rabu, 02 Agustus 2017 - 10:02 WIB

Realisasi Program Pelalawan Sehat

Rabu, 31 Mei 2017 - 13:27 WIB

Pekanbaru Menuju Ketahanan Pangan Rumah Tangga

Kamis, 13 April 2017 - 14:34 WIB

Bank Riau Kepri Raih Award Media Relations 2017

Senin, 27 Maret 2017 - 00:11 WIB

BRK Dipercaya Pemkab Lingga Kelola PBB-P2

Kamis, 23 Februari 2017 - 21:24 WIB

PKPU Pekanbaru Terus Berkarya Membangun Masyarakat Riau

Jumat, 17 Februari 2017 - 00:23 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia