Para pimpinan DPR RI. (net)

Selasa, 21 November 2017 - 17:12 WIB 1830000

Teman Adalah Teman dan Kita Bersamai Sekalipun Dalam Kesusahan

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Oleh Fahri Hamzah

Setelah SN dipaksa menjadi tersangka ada bagusnya saya menulis kesan saya kepada situasi sekarang.

Sebab ada banyak orang yang menelpon saya atau bertemu saya meminta agar saya berhenti berbicara tentang Setya Novanto.

Sebab katanya itu membuat saya nampak membelanya. Dan membela Setya Novanto hari ini adalah kejahatan luar biasa.

Saya dinasehati agar menjaga nama baik dan memikirkan masa depan yang bisa hancur oleh sesuatu yang nampak bersimpati kepada orang yang dianggap koruptor kelas kakap ini.

Lama saya memikirkan ini, karena teguran bahkan juga masuk melalui rumah. Luar biasa pikiran saya, padahal memang saya tidak mengenal siapa SN sampai saya menjadi pimpinan DPR bersamanya sejak akhir 2014.

Kata teman saya, "Menjadi anggota DPR saja sudah merusak citramu apalagi kemudian menjadi pembela ketua DPR bernama Setya Novanto, bisa hancur lu ri", demikian nasehat bernada kecaman.

Tapi bismillah, saya percaya kepada hati saya. Saya percaya bahwa setelah pengadilan manusia dan negara, ada yang lebih penting yaitu pengadilan Allah di akhirat kelak.

Pengadilan yang lebih akurat dan adil serta tempat ketika kita tidak bisa mengelak dan berbohong.

Karena mana mungkin juga saya berhenti berbicara tentang Setya Novanto. Semua orang sedang membicarakannya.

Pertama dia pimpinan DPR dan sampai sekarang dia masih pimpinan DPR. Saya juga pimpinan DPR dan sebagai wakil saya juga merasa bahwa situasi harus dijelaskan.

Kalau dalam penjelasan saya nampak membela semata-mata karena azas praduga tak bersalah masih berlaku. Dia sudah tersangka dan ditahan tapi azas itu berlaku sampai ujung waktu.

Kedua, dia telah menjadi teman saya. Dan saya harus terima dia dengan segala kelemahan dan kelebihannya.

Teman adalah teman dan kesetiaan ditunjukkan dalam keadaan susah. Orang susah jangan ditinggal. Paling tidak kita temani dengan doa.

Saya tidak pernah hadir sekalipun dalam pesta Setya Novanto kecuali pesta anaknya menikah.

Saya tidak punya bisnis dan saya tidak punya urusan keuangan dengan Setya novanto. Berkali dia ingin membantu saya secara keuangan saya kembalikan.

Karena sejak awal saya tidak mau pekerjaan kita melampaui profesionalisme. Saya juga sering memberikan masukan sebab saya merasa beliau banyak salah menempatkan posisi bisnisnya dan teman bisnisnya dari masa lalu.

Saya nasehati persoalan aturan dan etika agar dia membatasi diri. Tetapi saya tidak tahu asalkan itu tidak terjadi di tempat kerja saya maklumi. Itulah hidup dia dulu.

Jangan lupa, dia pengusaha bukan pegawai negeri.

Orang lupa, politisi adalah jabatan yang diisi oleh rakyat pada umumnya. Ada mantan guru, polisi, TNI, dokter, pegawai, pensiunan, juga pengusaha dan pedagang. Maka gaya hidup politisi memang tidak bisa dibuat standar seperti pegawai negeri.

Apalagi anggota legislatif, jumlahnya banyak karena mewakili seluruh rakyat Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke berwarna warni.

Di seluruh dunia, kamar legislatif tercipta untuk itu, mewakili wajah seluruh rakyat tanpa terkecuali. Ada yang kiri ada yang kanan. Ada yang progresif ada lamban, ada yang modern ada yang tradisional dan ada yang konservatif juga liberal. Semua ada.

Mungkin secara moral juga demikian. Maka wajah legislatif adalah wajah rakyat yang sempurna. Tidak bisa disederhanakan karena akan mengurangi makna representasi sekaligus keindahannya. Demokrasi adalah tentang mengelola kerumitan.

Di negara demokrasi, azas representasi ini sangat disadari bahkan menjadi sumber kekuatan. Ini adalah daulat rakyat karena siapapun mereka adalah pilihan rakyat untuk merepresentasikan apapun yang ada pada mereka.

Di negara demokrasi, azas representasi ini sangat disadari bahkan menjadi sumber kekuatan. Ini adalah daulat rakyat karena siapapun mereka adalah pilihan rakyat untuk merepresentasikan apapun yang ada pada mereka.

Tradisi ini dijaga kekuatannya dan keunggulannya sampai-sampai kepada mereka diberikan kekuatan dan kekebalan. Kamar ini bertugas menjaga dan menyeimbangi jalannnya negara.

Kamar legislatif lahir oleh kesadaran bahwa di sebelah sana ada eksekutif yang mengelola hampir 100% uang dan kekuasaan serta sumberdaya negara. Jika tidak ada wakil rakyat yang berdaulat maka korupsi dan kesewenangan akan lahir dan mengancam kehidupan bersama.

Inilah awalnya, demokrasi kita mengirim orang-orang melalui pemilu dalam satu seleksi yang ketat. Setya Novanto adalah salah satu yang terpilih, berkali-kali dan akhirnya menjadi ketua DPR juga menjadi ketua umum partai terbesar nomor 2 di negeri ini.

Sampai terjadi tragedi ini, ia menjadi tersangka dan incaran berkali-kali. Pernah disadap secara ilegal lalu bangun. Itulah politisi SN. Itu kekuatannya juga kelemahannya. Tapi ini menjadi tragedi. Panjang ceritanya. (Bagian 1)

*Penulis adalah Wakil Ketua DPR, tulisan ini diambil dari akun facebook milik @fahrihamzahpage, 19 jam yang lalu, Selasa (21/11/2017). (RB/yopi)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
Yopi Pranoto

Berita Terkini
Opini

Ini Bukan Soal SN

Selasa, 21 November 2017 - 17:04 WIB

Mafia Negara, 'Shame on You'

Selasa, 21 November 2017 - 00:28 WIB

Masukkan Aku Dalam Daftarmu

Minggu, 19 November 2017 - 22:57 WIB

Menawar Harga untuk Satu NKRI

Minggu, 19 November 2017 - 20:00 WIB
Opini

Manuver Politik KPK

Jumat, 17 November 2017 - 23:36 WIB
Dunia Islam

Sedikit Tentang Ilmu

Jumat, 17 November 2017 - 09:17 WIB

Jangan Sampai Hukum seperti Sarang Laba-laba

Jumat, 17 November 2017 - 07:07 WIB

Benang Menang Merah Antara HAM dan Kebebasan

Kamis, 16 November 2017 - 13:34 WIB

Cerdas Memilih di Tengah Kemajuan Teknologi

Senin, 13 November 2017 - 13:36 WIB

Pancasila dan Orang Indonesia

Jumat, 10 November 2017 - 21:59 WIB

Catatan Gilang Mahardika untuk Sumpah Pemuda

Minggu, 29 Oktober 2017 - 22:46 WIB

Catatan Najwa untuk Sumpah Pemuda

Minggu, 29 Oktober 2017 - 21:46 WIB

Peran Sentral Pemuda

Sabtu, 28 Oktober 2017 - 09:26 WIB
Opini

Aditya dan Gelora Gerakan Mahasiswa

Sabtu, 21 Oktober 2017 - 21:38 WIB

Niat KPK Memang Merusak Citra Peradilan

Senin, 09 Oktober 2017 - 10:19 WIB

Propaganda Anti Korupsi Seperti Cara Kerja PKI

Minggu, 08 Oktober 2017 - 11:19 WIB

Organ-organ Jaringan Narkoba di Riau, Mana Jantungnya?

Jumat, 06 Oktober 2017 - 23:09 WIB

Bangsa Paling Dermawan

Rabu, 04 Oktober 2017 - 13:55 WIB

Polemik E-KTP dan Licinnya Setya Novanto

Rabu, 04 Oktober 2017 - 11:12 WIB

Manusia yang Mencipta Sejarah

Rabu, 04 Oktober 2017 - 09:17 WIB

Tips Memilih Pengacara Biar Enggak Rugi

Rabu, 04 Oktober 2017 - 08:22 WIB

Sunnah Sedirham Surga

Senin, 02 Oktober 2017 - 17:55 WIB

Isu PKI dan Pilpres 2019, Apa Kaitannya?

Senin, 02 Oktober 2017 - 10:26 WIB
Opini

Nasib 300 Desa Pasca-Perda RTRWP Riau Diketok Palu

Senin, 02 Oktober 2017 - 10:17 WIB

Kedaulatan Ekonomi Digital

Kamis, 28 September 2017 - 09:54 WIB

Menanti Calon Independen Pilgubri 2018

Kamis, 21 September 2017 - 22:53 WIB
Opini

Menelisik Gagalnya Pengesahan Perda RTRWP Riau

Kamis, 14 September 2017 - 11:29 WIB
Opini

Berebut Berteduh di Pohon Beringin

Selasa, 12 September 2017 - 12:26 WIB

Di Balik Berkah dan Musibah Dana Desa

Senin, 04 September 2017 - 09:51 WIB

Perubahan Iklim Lingkungan

Minggu, 06 Agustus 2017 - 10:18 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia