Kepala Bidang Kesehatan Hewan Provinsi Riau, drh. Sri Mulyati. (RB/Dwi)

Kamis, 23 November 2017 - 21:31 WIB 3620000

Mulai 2018 Pemerintah Larang Penggunaan Antibiotic Growth Promoter (AGP) pada Sektor Peternakan

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Kementrian pertanian sudah mengeluarkan Permentan No.14/2017 tentang klasifikasi obat hewan yang melarang penggunaan antiotik sebagai imbuhan pakan ternak (feed additive) dan penggunaan hormon Sintetik.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan Provinsi Riau, drh. Sri Mulyati mengatakan bahwa pemakaian antibiotik harus sesuai dengan dosis aturan tertentu dan terukur.

"Kalau dengan pakan, dia tidak terukur, kalau tidak terukur, nanti sasaran pengobatannya tidak tercapai, dapat menimbulkan resisten, nanti kalau ada penyakit yang harusnya dapat diobati dengan antibiotik nanti tidak mempan lagi," kata Sri Mulyati kepada RiauBook.com saat ditemui dikantornya, Kamis (23/11/2017).

Sri juga mengatakan kalau antibiotic tidak boleh dipakai dalam pencegahan atau proteksi terhadap peyakit, karena dapat menimbulkan residu apabila nanti daging tersebut di konsumsi dan dapat mengakibatkan gangguan hormonal dan efek imunitas terhadap antibiotik.

"Antibiotik itu hanya diberikan saat kondisi sakit, dalam jumlah dosis tertentu dan jumlah hari tertentu, minimal satu minggu sebelum dipotong, hewan tidak boleh diberikan antibiotik" kata Sri.

Sri Mengatakan bahwa manajemen dari pemeliharaan ternak merupakan cara yang paling efektiv dalam menjaga kesehatan hewan.

"Dijagalah kesehatan, divaksinasi, diberi pakan yang cukup, dijaga kebersihan kandang," ujar Sri.

Sri mengatakan, pada pengawasan, pihaknya juga melakukan pengambilan sampel daging hewan ternak untuk dilakukan pemeriksaan.

"Pertama, setelah hewan itu dipotong, kita mengambil sampel , untuk dilakukan pemeriksaan, daging ayam, daging sapi, sejauh ini sebarannya masih dibawah ambang batas," Sri mengatakan.

Jika nantinya terdapat produsen obat hewan atau toko obat-obatan hewan yang menjual obat kepada peternak tanpa mengikuti prosedur yang berlaku, akan diberikan pembinaan cara persuasiv sampai pada sanksi administrasi dengan pencabutan izin.

Sri juga menghimbau kepada peternak agar melibatkan dokter hewan serta tidak mengambil tindakan sendiri dalalm menangani hewan ternak yang sakit.

"Pemakaian obat itu jangan sembarangan, terutama antibiotic, ada aturannya, dan jangan pandai-pandai mengobati ternaknya sendiri, apalagi dalam pemakaian obat keras seperti njeksi, karena nanti efeknya kemasyarakat sendiri, untuk keselamatan masyarakat," demikian Sri. (RB/Dwi)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
redaksi riaubook

Berita Terkini

Meski Air Sungai Surut, KPBD Inhu Tetap Waspada Banjir

Kamis, 23 November 2017 - 21:24 WIB

Jurnalis di Siak Ini Terpilih Nahkodai PK KNPI Tualang

Kamis, 23 November 2017 - 19:56 WIB

Polisi Gerebek Rumah Pengedar Narkoba di Rengat

Kamis, 23 November 2017 - 10:31 WIB

RAPBD Inhu 2018 Capai 1,2 Triliun

Rabu, 22 November 2017 - 13:16 WIB

Jokowi Hadiri Konsultasi Tahunan RI-Malaysia

Rabu, 22 November 2017 - 11:49 WIB

Sidang Perdana Bandar Narkoba, Alex Didakwa Pasal Berlapis

Selasa, 21 November 2017 - 21:48 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia