foto

Riau dan Yogyakarta

RIAUBOOK.COM - Daerah Istimewa Yogyakarta mulai mengembangkan kreativitas anak muda untuk membangun sektor pariwisata, salah satu hasil karya mereka adalah 'Upside Down World' atau dikenal Wisata Dunia Serba Terbalik.

Arena wisata yang berlokasi di Jalan Ring Road Utara, Sleman, ini menawarkan tempat berfoto yang berbeda pada umumnya, pengunjung berfoto dengan prabot yang ditata dalam posisi terbalik. Hasilnya, fotonya seolah menunjukkan pengunjung dalam posisi terbalik di ruangan tersebut.

Riau tentu tidak kalah, namun ada tempat wisata di sana yang sepertinya benar-benar membuat dunia menjadi terbalik, namanya wisata korupsi.

Wisata korupsi di Riau memiliki cerita tersendiri, layaknya dongeng tentang asal muasal Candi Prambanan dari sebuah kerajaan dengan pangeran yang memiliki kesaktian tingkat tinggi.

Sebelum keris menancap terbalik di atas tugu integritas, tiga 'raja' dengan tahta Gubernur Riau telah lebih dulu menamatkan kisah mereka di balik jeruji.

Salah satunya kisah Saleh Djasit.

Alkisah, Saleh adalah Gubernur Riau ke 10, dia menggantikan Soeripto, untuk masa jabatan 1998 hingga tahun 2003.

Pada tahun 1986 hingga tahun 1996, Saleh pernah menjabat sebagai Bupati Kampar. Dia juga merupakan tokoh yang dianggap sangat berjasa bagi perkembangan dunia pendidikan dan kebudayaan di Bumi Lancang Kuning, Riau.

Namun, 'keharuman' Saleh tidak bertahan lama setelah dia terjerat kasus korupsi yang membuat citranya memudar.

Peninggalan Saleh Djasit yang dikenang hinggga kini adalah 20 unit mobil pemadam kebakaran.

Puluhan kendaraan itu dianggarkan dari APBD Riau 2003 sebesar Rp4,719 miliar saat ia menjabat Gubernur Riau (1998-2003).

Perjalanan Saleh Djasit, pria kelahiran Pujut Rokan Hilir, Riau pada 13 November 1943 yang juga sempat menjadi anggota DPR dari Partai Golkar untuk periode 2004-2009 diawali keinginannya untuk kemandirian Riau.

Pada Desember 2002, Saleh Djasit sebagai Gubernur Riau menyampaikan nota draf APBD tahun 2003 tentang penjabaran, kegiatan dan proyek anggaran pendapatan dan belanja daerah.

Dalam nota tersebut, mencantumkan pengadaan tiga unit mobil pemadam kebakaran dengan harga perunit Rp 725 juta yang akan dialokasikan untuk Kabupaten Indragiri Hilir, Indragiri Hulu, Rokan Hilir dengan total anggaran Rp 2,175 miliar.

Setelah menyampaikan nota keuangaan di hadapan DPRD Riau, Saleh dihubungi Hengky Samuel Daud yang menawarkan agar masing-masing kabupaten dan kota mengadakan dua unit mobil damkar. Saleh Djasit pun menyetujui dan mengarahkan Hengky Daud untuk menemui panitia anggaran eksekutif dan legislatif. Saleh Djasit pun juga mengatur agar tawaran tersebut dianggarkan dalam APBD 2003.

Untuk melaksanakan arahan Saleh Djasit, Hengky Daud yang juga Direktur PT Istana Sarana Raya (ISR) menemui Panitia Anggaran Legislatif yakni Sudarman Ade.

Sudarman Ade pun lantas menemui Saleh Djasit. Dalam pertemuan tersebut, Saleh menegaskan bahwa kembali persetujuannya agar Panitia Anggaran menanggarkan mobil damkar Type V80 ASM.

Selanjutnya, Panitia Anggaran menanggarkan pengadaan mobil damkar dengan dua tipe yakni Type V80 ASM sebanyak 13 unit dan Type Forcer TLF 8/30 sebanyak 13 unit yang telah disepakati Saleh Djasit dan Hengky Daud. Melihat penganggaran tersebut, DPRD Riau telah menyampaikan peringatan kepada Saleh Djasit melalui surat nomor : 903/KEU/2003- 3/192 tanggal 20 Maret 2003. Isinya, agar proyek yang belum dianggarkan pada tahun 2003, agar ditunda pelaksanaannya dan dibicarakan pada perubahan anggaran tahun 2003.

Dalam APBD 2003 dan Keputusan Gubernur Riau Nomor 06 Tahun 2003 tentang Penjabaran Anggaran Pendapatan, Kegiatan dan Proyek Anggaran APBD Tahun 2003 yang dikeluarkan tanggal 24 Maret 2003, pengadaan mobil damkar dirubah menjadi sebanyak 26 unit. Untuk Type Forcer TLF 8/30 dengan harga perunit Rp 800 juta, total anggarannya Rp 10,4 miliar.

Dan 13 unit Type V80 ASM dengan harga perunit Rp 750 juta dengan anggaran Rp 9,880 miliar. Total pengadaan 26 unit mobil damkar Rp 20,280 miliar. Namun dalam penjabaran APBD 2003 tersebut diberi tanda bintang dengan maksud bahwa kegiatan pengadaan mobil damkar tersebut belum dapat dilaksanakan.

Saleh Djasit yang tahu tanda bintang tersebut, tetap mengupayakan mempercepat pengadaan mobil damkar. Caranya, yakni memerintahkan Kepala Bapedda Riau Zulkifli Saleh untuk merubah jumlah unit mobil damkar dari masing-masing 13 unit menjadi 10 unit.

Saleh Djasit memberikan disposisi kepada surat penawaran Hengky Daud yang bertuliskan 'Supaya segera dilaksanakan PL'. Padahal, Saleh Djasit mengetahui bahwa penunjukkan langsung PT Istana Sarana Raya milik Hengky Daud tersebut bertentangan dengan pasal 3 Keppres RI Nomor 18 Tahun 2000.

Berbekal disposisi dari Saleh Djasit, Hengky Daud dan Sudarman Ade menemui Kepala Biro (Karo) Perlengkapan yang juga Ketua Panitia Pengadaan Azwar Wahab dan Sekda Riau Arsyad Rahim. Pada pertemuan itu Arsyad memerintahkan Azwar agar pengadaan mobil damkar tersebut dilakukan dengan tender atau lelang.

Namun Hengky Daud tetap menekan Azwar Wahab dengan alasan Saleh Djasit telah menyetujui. Sebagai pelaksanaan disposisi Saleh Djasit, pada 7 Juli 2003 Azwar Wahab membuat surat kepada Hengky Daud yang intinya menyetujui pengadaan 10 mobil damkar Type V 80 ASM.

Siang harinya, Hengky Daud dan Sudarman Ade mendatangi ruang kerja Azwar untuk mengambil surat persetujuan. Saat melihat hanya 10 mobil damkar yang disetujui Azwar, Hengky Daud marah dan mengancam Azwar Wahab untuk melaksanakan pembelian 20 unit mobil damkar.

Tak lama kemudian, Saleh Djasit memerintahkan ajudannya yakni Zulkafli untuk memanggil Azwar Wahab. Saat Azwar menghadap Saleh, di ruang tersebut sudah ada Sekda Arsyad Rahim. Arsyad kembali mengingatkan agar pengadaan mobil tersebut ditenderkan saja.

Pada 8 Juli 2003, Saleh melakukan pertemuan dengan Hengky Daud bersama Sudarman Ade. Hasilnya, mereka sepakat untuk mengadakan mobil damkar satu tipe yakni Type V 80 ASM yang merupakan produk Hengky Daud.

Saleh lalu memerintahkan Azwar Wahab untuk melaksanakan persetujuan pengadaan 20 unit mobil dengan Type V 80 ASM dan langsung menulis disposisi pada surat nomor :024/PP/185 tanggal 8 Juli 2003.

Tanggal 9 Juli 2003, Saleh menerbitkan surat nomor : 050/PP/1035. a perihal persetujuan prinspip penunjukkan langsung pengadaan 20 unit mobil damkar Type V 80 ASM dengan harga Rp 760 juta per unit. Sebagai pelaksanaan disposisi Saleh Djasit, lalu Azwar Wahab memerintahkan Zul Effendi untuk melengkapi seluruh proses pengadaan mobil pemadam kebakaran sebagai formalitas untuk memenuhi persyaratan administrasi saja.

Atas persetujuan Saleh, pada 23 Juli 2003 ditandatangani surat perjanjian pelaksanaan pekerjaan atau kontrak pengadaan 20 unit mobil damkar yang ditandantani T Izazan selaku pimpro dan HS Daud selaku Direktur Utama PT Istana Sarana Raya.

Saleh Djasit pada 22 Oktober 2003 memerintahkan Karo Keuangan Nazaruddin untuk memproses surat perintah membayar uang (SPMU) kepada Hengky Daud sebesar Rp 15,2 miliar atas pengadaan 20 unit mobil damkar.

Padahal, sesuai hasil penelitian tim tenaga ahli dari Institut Teknologi Bandung (ITB), bahwa secara fisik teknis pompa Tohatso V 80 ASM adalah identik dengan pompa Tohatsu V 75 GS dengan harga perunit hanya Rp 444.594.454. Akibatnya, terdapat kemahalan harga sebesar Rp 4,719 miliar.

Atas dugaan korupsi tersebut, Saleh Djasit akhirnya didakwa di pengadilan hingga divonis bersalah dengan hukuman penjara selama empat tahun dan denda sebesar Rp200 juta.

Mobil-mobil pemadam kebakaran itu harusnya bisa menjadi objek wisata korupsi yang mampu mengingatkan kita tentang masa kejayaan Saleh Djasit di masa itu. Namun tiap unit mobil pemadam penginggalan Saleh, bak hilang ditelan bumi, tidak diketahui hingga kini keberadaannya.

Peninggalan Rusli Zainal

Persis dongeng Joko Bandung dan Roro Jonggrang di Yogyakarta yang menjadi kisah muasal candi-candi di daerah istimewa ini. Di Riau, juga terdapat gedung-gedung modern bekas Pekan Olahraga Nasional (PON) peninggalan Gubernur Rusli Zainal.

Satu bangunan megah, namanya Stadion Utama Riau agaknya menjadi ikon dari kejayaan Rusli Zainal sewaktu masih memegang tampuk kekuasaan.

Rusli Zainal merupakan Gubernur Riau ke-11. Ia diangkat sebagai gubernur menggantikan Saleh Djasit.

Sebelum menjabat sebagai gubernur, Rusli Zainal pernah menjabat sebagai Bupati Kabupaten Indragiri Hilir periode 1999-2003.

Rusli Zainal menjabat sebagai Gubernur Riau selama 2 periode, yaitu 2003-2008 dan 2008-2013.

Alkisah, Rusli sebelumnya sempat dinobatkan sebagai Bapak Pembangunan Riau oleh sejumlah kelompok masyarakat di daerah penghasil minyak.

Hal itu tidak lepas dari banyaknya pembangunan yang dilakukan Rusli diera kepemimpinannya, mulai dari jalan layang, hingga gedung-gedung megah yang kini menjadi pusat pemerintahan daerah.

Terakhir pada 2012, Rusli berhasil membawa Riau menjadi tuan rumah pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON).

Sebelum pelaksanaan event nasional itu, pusat mengucurkan triliunan anggaran untuk membangun banyak arena olahraga, salah satunya adalah stadion utama sepak bola.

Tidak tanggung-tanggung, stadion mewah pun didirikan di Ibu Kota Riau, Pekanbaru, dengan nilai Rp1,3 triliun, rumput yang ditanam di stadion itu bahkan didatangkan dari Brasil.

Hal itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi masyarakat Provinsi Riau. Hanya saja, sejak dipergunakan pada Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-18 pada 2012 lalu, Stadion Utama di Jalan Nagasakti ini menyisakan masalah.

Setiap tahunnya, dimulai dari 2012 hingga sekarang, Pemerintah Provinsi Riau punya utang hingga ratusan miliar rupiah terhadap kontraktor, yaitu PT Adhi Karya. Bahkan, bunganya saja sejak tahun tersebut sudah mencapai Rp50 miliar dan wajib dibayarkan.

Selain stadion utama, Riau juga banyak peninggalan bersejarah dari Rusli Zainal, termasuk Stadion Tenis yang sempat rubuh, kemudian arena menembak yang kini dikabarkan sudah menjadi 'sarang hantu'.

Seperti halnya Candi Prambanan di Jogja, sejumlah bangunan bekas PON Riau terutama Stadion Utama kini juga telah menjadi lokasi wisata bagi kebanyakan warga lokal.

Tugu hitung mundur setinggi 6 meter yang berada di tengah-tengah antara Kantor Gubernur Riau dan Perpustakaan Wilayah Soeman HS di Pekanbaru seakan jadi monumen bersejarah tentang kejayaan Rusli di masa lalu.

Tugu 'countdown', sekaligus menjadi simbol pertama tentang kondisi kronis 'penyakit' korupsi di Bumi Melayu, ditandai Rusli yang akhirnya harus menjalani hukuman bersama belasan legislator dan sejumlah anak buahnya setelah divonis terbukti sebagai pelaku koruptor berjemaah atas proyek-proyek PON 2012.

Gagalnya Jalan Annas Maamun

Alkisah, Annas Maamun adalah gubernur terpilih pada periode 2014, dia berpasangan dengan Arsyadjuliandi Rachman.

Annas semasa kepemimpinannya juga akrab dengan sapaan Atok, yang artinya kakek, hal tersebut tidak lepas dari umurnya yang memang sudah di atas 70 tahun ketika menjabat.

Perjalanan karir Atok Annas menuju tahta gubernur tidaklah muda, sebelumnya dia merupakan seorang guru sekolah dasar dan SMP di Bagansiapiapi.

Ketokohannya kemudian membawa dia menempuh jalur politik, hingga kemudian berhasil menjadi anggota DPRD Bengkalis sejak tahun 1999 hingga tahun 2001.

Kemudian ia menjadi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Rokan Hilir dari tahun 2001 hingga tahun 2005. Pada tahun 2006 Annas terpilih sebagai Bupati Rokan Hilir dan menjabat hingga tanggal 29 Januari 2014.

Annas kemudian diberhentikan sebagai Bupati Rokan Hilir karena terpilih dalam pemilihan umum Gubernur Riau 2013 sebagai Gubernur Riau yang baru, dia dilantik sebagai gubernur pada tanggal 19 Februari 2014.

Beberapa bulan menjabat sebagai gubernur, Atok Annas kemudian membangun dinasti keluarga dengan menempatkan sejumlah keluarganya di posisi-posisi birokrat yang strategis.

Annas juga mewacanakan namanya untuk dijadikan sebagai nama jalan protokol di Pekanbaru, samahalnya seperti yang dilakukan dia di Ibu Kota Rokan Hilir, Bagansiapapi.

Namun belum lagi terwujud wacana itu, Annas terbelit kasus dugaan suap pengesahan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) bersama kalangan anggota DPRD Riau.

Annas akhirnya lengser dari jabatannya dalam waktu yang sangat singkat, bahkan belum genap setahun dia menduduki tahta gubernur.

Peninggalan Annas Maamun yang paling berkesan di masyarakat adalah prilakunya, dia juga membawa Riau dalam catatan sejarah kelam sampai ada plesetan memilukan yang populer bahwa RIAU adalah akronim dari "Rusak Iman Akibat Uang".

Ikon Tugu Antikorupsi

Setelah tiga gubernur terjerat, badai korupsi di Provinsi Riau tidak kunjung usai.

Kali ini, terpaan cobaan itu lebih dahsyat lagi, tugu megah yang dibangun sebagai simbol pengingat akan pentingnya integritas untuk melawan korupsi, justru menghasilkan skandal rasuah berjamaah.

Monumen tinggi menjulang berbentuk keris yang diberi nama Tugu Integritas Antikorupsi itu, awalnya membawa kebanggaan bagi masyarakat Riau yang sudah jengah dengan stigma buruk korupsi di daerah tersebut.

Ketika Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman yang menggantikan Annas Maamun mengusulkan pembangunan tugu antikorupsi, itu seperti membawa harapan bahwa pemerintahan yang sekarang berkomitmen kuat untuk melawan korupsi, yang sudah menjalar bagai kanker di daerah berjuluk "Bumi Lancang Kuning" itu.

Apalagi tugu itu di kelilingi dengan taman indah di Jalan Ahmad Yani, Kota Pekanbaru, yang diberi nama Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas. Tempat itu setiap hari membuat warga setempat gembira karena bisa digunakan untuk berolahraga dan tempat rekreasi gratis.

Rasa bangga itu makin membuncah ketika Kota Pekanbaru menjadi tuan rumah peringatan Hari Anti Korupsi Internasional (HAKI) pada Desember 2016.

Ketua KPK Agus Rahardjo, Jaksa Agung HM Prasetyo, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo serta sejumlah utusan dari kementerian, utusan berbagai BUMN, BUMD, dan sejumlah bupati dan wali kota, bahkan sempat meninjau tugu antikorupsi itu dan berfoto-foto di sana.

Namun, sejarah tampaknya akan mencatat lain akan keberadaan tugu itu. Pada awal November 2017, Kejaksaan Tinggi Riau mengungkap adanya skandal korupsi dan menetapkan 18 tersangka proyek RTH Tunjuk Ajar Integritas termasuk tugu antikorupsi.

Salah satu tersangka merupakan staf ahli Gubernur Riau, Dwi Agus Sumarno. Saat kasus itu bergulir, Dwi Agus menjabat Kepala Dinas Cipta Karya dan Bina Marga Provinsi Riau, yang berperan sebagai pejabat pengguna anggaran. Dwi juga merupakan menantu dari mantan Gubernur Riau Annas Maamun, yang kini menjalani hukuman penjara akibat kasus korupsi.

Kemudian 17 tersangka lain terdiri dari 12 Aparatur Sipil Negara (ASN), dan lima dari pihak swasta. Lima orang tersangka dari pihak swasta adalah dua orang kontraktor berinisial K dan ZJB, kemudian tiga orang dari konsultan pengawas, yaitu RZ, RM dan AA.

Sementara itu, lima PNS dari kelompok kerja unit layanan pengadaan (ULP), yaitu Ketua Pokja IS, Sekretaris Pokja H, dan tiga anggota, DIR, RM, dan H. Lima tersangka lain masih berasal dari pegawai negeri, yang berperan sebagai pejabat penerima hasil kerja di Dinas Cipta Karya dan Bina Marga, yaitu Ketua Tim PHO berinisial A serta dua anggotanya, S dan A, lalu dua dari anggota panitia Tim PHO, R dan ET. Dua tersangka lain adalah pejabat pembuat komitmen berinisial Z dan kuasa pengguna anggaran, HR.

Penyidik kejaksaan menaksir kerugian negara mencapai Rp1,23 miliar dari proyek senilai Rp8 miliar tersebut. Anggaran untuk proyek tersebut berasal dari APBD Riau tahun 2016. Proyek itu diduga telah direkayasa dalam proses tender dan indikasi pengaturan "fee" proyek, sehingga ada kerugian negara sebesar itu.

Saat ini tugu antikorupsi layaknya candi prambanan, bisa juga menjadi objek wisata tentang pentingnya integritas yang tidak sebatas monumen kejayaan para penguasa.

Oleh Fazar Muhardi

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

foto

Terkait

Foto

Atas Nama NKRI dan Pancasila

RIAUBOOK.COM - Oleh Ustad Felix SiauwIntoleransi yang selama ini dicari, ada pada mereka yang menolak @UstadzAbdulSomad di Bali. Mereka tak…

Foto

Baitul Maqdis Pusat Negeri Mukmin

RIAUBOOK.COM - Oleh Ustad Felix SiauwSepenuh makar dilakukan musuh-musuh Islam untuk membuat kaum Muslim terpecah-belah, namun persatuan adalah tabiat mereka…

Foto

Antara Mengaku dan Diakui Berbhineka

RIAUBOOK.COM - Oleh Jufri Hardianto Zulfan, S.H Dewasa ini, banyak sekali orang-orang direpublik ini yang mengaku paling cinta terhadap NKRI…

Foto

Al-Aqsha Memanggil Kaum Muslim

RIAUBOOK.COM - Oleh Ustad Felix SiauwBanyak hal yang ada di pikiran saya menanti untuk dituliskan. Namun semua, meskipun tak kalah…

Foto

Efek Doa

RIAUBOOK.COM - Oleh Ustad Felix SiauwAlhamdulillah, terimakasih atas banyak penyemangat dan ungkapan syukur yang sampi pada kami sejak tengah malam…

Foto

Allah Pemberi Hidup

RIAUBOOK.COM - Oleh Ustad Felix SiauwYang benar memahami syahadat sangat memahami, bahwa hidup mereka itu dari Allah, begitipun mati mereka…

Foto

Tarik Ulur Status Pemimpin Sebagai Penguasa Sekaligus Pengusaha

RIAUBOOK.COM - Oleh Jufri Hardianato Zulfan, S.H Memperbincangkan tentang kepemimpinan tentu saja kita juga memperbincangkan tentang kekuasaan, hanya saja dalam…

Foto

Persatuan Atas Rahmat Allah

RIAUBOOK.COM - Oleh Ustad Felix Siauw Hari ini kembali menjadi hari yang kita ingati, karunia Allah yang kita syukuri, persatuan…

Foto

Keris 'Sakti' Rahasia Dinasti

KERIS 'sakti' menancap terbalik di atas tugu berbalut cakar 'emas', diintari gelombang 'tujuh hantu' hijau pekat - julukan ombak bono…

Foto

Tugu Antikorupsi, Kebanggaan Riau yang Luntur

SIAPA yang sangka, sebuah tugu megah yang dibangun sebagai simbol pengingat akan pentingnya integritas untuk melawan korupsi, justru menghasilkan skandal…

Foto

Hukum dalam Negeri Seni Politik

RIAUBOOK.COM - Oleh Jufri Hardianto Zulfan, S.H Pembahasan ini ingin mengarahkan bagaimana eksistensinya suatu hukum yang berada dalam ranah negara…

Foto

Pesek yang Menjelaskan

RIAUBOOK.COM - Oleh Ustad Felix Siauw Saya tak hendak membahas tentang "Pesek" yang disampaikan@ustadzabdulsomadberkaitan Muslimah saudari kita yang melepas…

Foto

Muslim, Mengapa Politik Menarik

RIAUBOOK.COM - Oleh Jufri Hardianto Zulfan, S.H Untuk seorang Muslim, tentu saja dasar dari segala perbuatan adalah keikhlasan niat hanya…

Foto

Teman Adalah Teman dan Kita Bersamai Sekalipun Dalam Kesusahan

RIAUBOOK.COM - Oleh Fahri Hamzah Setelah SN dipaksa menjadi tersangka ada bagusnya saya menulis kesan saya kepada situasi sekarang. Sebab…

Foto

Ini Bukan Soal SN

RIAUBOOK.COM - Oleh Fahri Hamzah Dengan pengertian saya yang sederhana, saya juga tahu bahwa mengapa KPK mengorkestra citra diri yang…

Foto

Mafia Negara, 'Shame on You'

'BERGEN kan men zien, maar het recht kan men niet zien', demikian LJ Van Apeloorn (1954) yang mengumpamakan hukum itu…

Foto

Masukkan Aku Dalam Daftarmu

RIAUBOOK.COM - Oleh ustad Felix Siauw Kita jelas tak ada apa-apanya dibandingkan dengan ulama-ulama pejuang di zaman dulu. Mereka yang…

Foto

Menawar Harga untuk Satu NKRI

RIAUBOOK.COM - Oleh Jufri Hardianto Zulfan, S.H Sudah puluhan tahun negeri ini merdeka, dan berhasil membebaskan diri dari para penjajah…

Foto

Manuver Politik KPK

RIAUBOOK.COM - Oleh Fahri HamzahSaya berada di tengah politik yang bergoncang, maka jika pun tidak semua, sedikit banyak saya paham.Ijinkan…

Foto

Sedikit Tentang Ilmu

RIAUBOOK.COM - Oleh Ustad Felix SiauwIngat-ingat selalu, bahwa jika engkau menguasai satu ilmu, maka bukan sebab engkau yang hebat. Tapi…

foto

Pendidikan