Campak dan Rubella Renggut Masa Depan Anak

RIAUBOOK.COM - "Kalau orang tua mereka tiada, siapa yang akan rela hati mengurus anak-anak ini? untuk duduk saja belum bisa, bahkan mengusap air mata juga tak mampu," kata Poppy Morina di lantai dua sebuah restoran Khas Melayu, menjelang waktu ashar sehari lalu.

Ibu berusia sekitar 30 tahun, warga Kota Pekanbaru itu bercerita soal anak-anak pengidap Conginental Rubella Syndrome (CRS) akibat infeksi Virus Measles dan Rubella (MR), anak-anak yang terlahir dengan gangguan pendengaran, kelainan jantung, mengalami keterlambatan pertumbuhan serta disabilitas intelektual.

Dalam suasana hening, puluhan pasang mata mulai dari pewarta, abdi negara, hingga pria paruh baya yang mengurusi soal fatwa menyorot ke arah Poppy, saat ia berusaha mengingat setiap perjuangan karena tertular Campak sewaktu mengandung putra semata wayangnya M. Raqilla Al Abrar di usia kehamilan yang tergolong muda.

"Saat hamil saya aktif mengajar di salah satu sekolah swasta, sekolah Islam Terpadu yang kondisi kelasnya tertutup, AC non stop dan tidak ada sirkulasi udara yang baik," kata Poppy.

Ingat Poppy, kala itu salah seorang muridnya baru sembuh sakit Campak. "Jadi dia datang ke sekolah setelah satu minggu izin tidak masuk kelas, lalu kewajiban saya sebagai guru harus berinteraksi dengan anak, bersentuhan fisik, mengobrol banyak dan menjelaskan segala hal kepada murid saya," tuturnya berusaha mengingat.

"Kemarin saya sakit Campak Ustadzah, dia sempat bilang begitu," kata Poppy.

Setelah tiga hari berselang, pasca interaksi dengan murid yang baru sembuh dari Campak itu Poppy mulai mengalami demam, suhu badannya naik-turun dan timbul ruam merah yang diiringi nyeri sendi pada tubuhnya. "Sempat mimisan juga," tambahnya lagi.

Gejala sakit yang ia rasakan kemudian memaksa Poppy untuk menemui dokter kandungan, memastikan kondisi janin yang ia kandung. Terkejut dengan kondisi Poppy, dokter kemudian mewanti-wantinya kalau seorang ibu hamil tidak boleh terkena Campak.

"Setelah tes darah ternyata positif Rubella," ujar Poppy.

Waktu itu, Poppy mengatakan, ia bersama suaminya tidak berpikir untuk menggugurkan kandungan karena hasil Ultrasongraphy (USG) menunjukkan bahwa janin yang ada dalam kandungan secara fisik dalam keadaan normal.

"Tidak ada penguatan secara medis bahwa dia harus digugurkan," Poppy berujar.

Berlandaskan keyakinan, dengan "Bismillah" Poppy kemudian menjalani masa-masa kehamilannya, apalagi anak yang ada dalam kandungannya sudah dinanti-nanti dalam peluk kebahagiaan.

"Walaupun dokter kandungan saya waktu itu jelas menegaskan efeknya seperti apa," ujar Poppy.

Diagnosa dokter

Setelah putranya lahir dan berusia dua bulan, Poppy mulai sadar dengan apa yang ia hadapi.

"Saya baru 'ngeh' kalau anak saya itu tuli, karena dia tidak merespon kerincingan yang saya mainkan di sampingnya, dia tidak ada ketertarikan dengan suara itu, saya putarkan musik dia masih cuek, suami saya bilang biasa, namanya juga anak dua bulan," tutur Poppy.

Kecurigaan Poppy bertambah saat Raqilla menginjak usia empat bulan, bola mata anaknya itu tidak merespon atau melirik saat Poppy berusaha mengalihkan perhatian dengan memanggil nama anaknya itu.

"Suami saya masih bilang, maklumlah umur empat bulan dia mana tahu namanya, saya masih terima," kata Poppy.

Hingga suatu ketika Poppy tersadar bahwa tuhan sedang menyentil dirinya, "tetangga saya bilang, Aqil ini sombong, di panggil-panggil cuek, waktu itu saya merasa seperti disentil sama tuhan, sadar dong, ini orang lain udah ngomong, itu dalam hati saya," tuturnya.

Saat itu juga, kata Poppy, dirinya berusaha mencari penjelasan dengan mendatangi Rumah Sakit Awal Bros, Pekanbaru, yang menjadi tempat ia bersalin.

Dirinya bertemu dengan seorang dokter anak, namun dokter tersebut tidak bisa memberi diagnosa karena keterbatasan alat screening untuk bayi.

Dalam kepanikan, dia terus mencoba mencari dokter yang bisa menjelaskan kondisi anaknya.

"Pada saat itu hanya ada satu dokter THT (Telinga Hidung Tenggorokan) yang memiliki alat OAE (Otoacoustic Emissions) untuk mengukur kerja gendang telinga bayi, saya kejar ke Rumah Sakit Eria Bunda dan keluarlah hasil reffer kiri dan kanan, yang artinya rusak, kalau normal hasilnya yang keluar pass," kata Poppy.

Bulan Maret 2012 Poppy baru mengetahui kalau si buah hati ternyata tuli 110 decible dan harus pakai alat bantu dengar.

RSCM

Dua hari setelah itu Poppy dan suaminya, Erdi Wijaya berangkat ke Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta, untuk menemui dokter yang sudah direkomendasikan sebelumnya. "Saya memiliki satu orang anak yang ditakdirkan terlahir tuli, sebagai orang tua, saya memilih dia harus bicara setelah kami mengetahui dan menerima kenyataan diagnosa dari dokter," tutur ibu muda ini.

Poppy membawa anaknya untuk melakukan pemeriksaan lengkap, "dokter THT juga langsung interview saya, menanyakan apa yang terjadi ketika saya hamil," ujarnya.

Setelah mengetahui penyebabnya adalah Campak dan Rubella, dokter yang memeriksanya terkejut dan menyuruh Poppy datang lagi membawa anaknya pada esok hari.

"Ini bahaya, bisa ke mata bisa ke jantung, bisa ke otak, bisa ke syaraf, saya mau anak ibu periksa semua, tidak hanya telinga," kata Popy menirukan ucapan dokter.

Selesai memeriksa telinga, Poppy juga harus memeriksakan mata anaknya, kata dia, hari itu dokter mata tidak bisa menyatakan diagnosa karena anak penderita Rubella bisa terkena katarak yang muncul belakangan bahkan setahun kemudian.

"Waktu itu dokter Juli hanya bilang, saat ini mata anak ibu bersih, tapi saya tidak tahu tiga bulan lagi, maka harus observasi lagi, terus saya bilang, Bu.. saya dari Pekanbaru, tidak mungkin bolak-balik karena saya butuh biaya," tuturnya.

Setelah melakukan negosiasi untuk pemeriksaan lanjutan, dokter Juli sepakat memberi waktu enam bulan sembari Poppy mengumpulkan biaya.

Setelah enam bulan Poppy kembali lagi, dokter mata itu menyatakan kalau mata Raqilla masih bersih dari katarak, tapi masih harus observasi terus.

"Enam bulan berikutnya saya datang lagi, dokter bilang mata anak saya bersih, tapi mengalami minus. Waktu itu usia anak saya 1,6 tahun, saya kaget, anak umur satu tahun minus?" kata Poppy.

Menerima kenyataan bahwa anaknya tuli sudah menjadi cobaan berat bagi Poppy, dirinya tidak ambil pusing lagi dengan kondisi mata minus yang dialami anaknya.

"Makanya ketika mendapat diagnosa kalau anak saya minus saya sudah tidak ambil pusing lagi, karena anak teman-teman saya banyak kok yang matanya minus, makanya saya fokus ke tulinya aja dulu," kata dia.

"Kemudian kita melanjutkan untuk lakukan echo jantung, Alhamdulillah tidak ada kebocoran pada jantung" tambahnya.

Dunia Ini Sunyi

Setelah dipasangkan alat bantu dengar (ABD) nyatanya tidak serta-merta membuat Raqilla mampu mendegar layaknya orang normal.

"Dia tidak nyaman dengan alat bantu dengarnya, yang dia tahu dunia ini sunyi, dia tidak nyaman, dia lempar-lempar mesin itu, kita pasang lagi dia lempar lagi," kata Poppy.

Masalah juga tidak habis di situ, Poppy juga harus melakukan terapi karena anaknya tidak bisa pakai ABD.

"Berbeda dengan anak normal yang dari kandungan sudah bisa terima suara ibu dan ayahnya, jadi melalui terapi itulah dia memasukkan perbendaharaan ke dalam otaknya," tutur Poppy.

Kata Poppy, terapi tersebut membutuhkan biaya yang cukup mahal, bahkan untuk sekali pertemuan harus merogoh kocek hingga Rp350 ribu.

"Itu di Jakarta, kalau di Pekanbaru ini terakhir info yang saya dengar 3,5 juta untuk 12 kali pertemuan," kata dia.

Membesarkan seorang anak pengidap CRS membuat orang tua tidak bisa jalan sendiri, mereka butuh pembimbing untuk penanganan anak dengan masing-masing keunikannya.

"Kami butuh ilmu bagaimana penanganan anak ini di rumah, harus ada orang membantu yang menyusunkan lesson plan di rumah, mengatur strategi, menyusun target-target yang harus dicapai," tuturnya.

Tidak Ada Rasa Menolak

Poppy mengaku bahagia bisa membesarkan anak dengan keistimewaan yang titipkan tuhan kepadanya.

"Saya dan suami berpikiran bahwa tuhan percaya kepada kami, kita dikasih pekerjaan ini berarti kita mampu. Mungkin tuhan punya penilaian kepada kita kalau kita mampu, kita kuat, kita bisa selesaikan tugas ini dengan baik, tidak ada sedikit pun rasa penolakan, " kata dia.

Segala hal yang diperbuat Poppy kepada anaknya semata-mata sebagai bentuk kasih sayang agar Raqilla siap menghadapi tuntutan masa depan.

"Saya punya anak tuli, saya tekankan bahwa kamu boleh tuli tapi kamu tidak boleh bisu, dari awal kita yakinkan dia bahwa kamu bisa, kamu mampu," ucapnya.

Sekolah Umum

Sebagai ibu yang paham dengan keterbatasan anaknya, Poppy tidak bisa menuntut sekolah agar memahami dan menerima Raqilla, karena nyaris belum ada guru di daerah setempat yang dipersiapkan untuk menangani anak tuli.

"Adapun sekolah-sekolah inklusi, dia tidak paham menyusun program pendidikan buat anak tuli, satu-satunya cara adalah anaknya yang dipersiapkan," kata Poppy.

Ketika Poppy hendak memasukkan anaknya ke sekolah umum, ia harus berjuang dengan memberi presentasi kepada guru dan semua orang di sekolah tentang kondisi anaknya.

"Saya buat power point, saya bikin visualnya, saya beri tahu kondisi anak saya, saya beri tahu hasil-hasil pemeriksaannya, inilah hasil terapinya, jadi kalau nanti dalam kegiatan belajar mengajar ketemu masalah-masalah misalnya sekali diomongin anaknya masih belum paham, mudah- mudahan gurunya bisa rela hati untuk mengajarkan lagi".

"Dan teman-temannya bisa berbesar hati menerima kalau aku punya teman yang unik, ujarnya," kata dia.

Dari apa yang ia alami selama menjalani hari-hari dalam merawat dan mempersiapkan masa depan anaknya itu, Poppy mulai mengumpulkan orang tua yang bernasib sama dengannya dalam komunitas "Anakku Sayang" supaya bisa saling berbagi informasi dan saling menguatkan.

"Kalau kita bersama, kita bisa melakukan banyak hal, kalau kita jalan masing-masing, kita tidak bisa buat apa-apa".

"Kalau ada orang tua yang anaknya mau masuk sekolah, teman-teman yang anaknya sudah masuk sekolah lebih dulu bisa berbagi informasi, apa yang harus dilakukan," tuturnya.

Harapan Besar

Poppy memiliki harapan besar untuk penanganan anak-anak dengan CRS. "hingga saat ini masih belum ada fasilitas terpadu buat anak-anak kami, para orang tua harus mencari penanganan ke sana-sini, belum biayanya lagi, satu pasang alat bantu dengar untuk anak yang daya ganggunya itu diatasi 90 decible, sepasang itu paling murah 15 juta dan 5 tahun sudah harus ganti," kata dia.

Belum dengan nasib anak-anak yang mengalami kelainan katup jantung, kelebihan cairan otak dan sebagainya akibat MR, " BPJS sebenarnya sangat membantu kami, tapi belakangan dibatasi, dan saya sangat memahami ini karena memang jumlah anak dengan CRS ini banyak sekali di Indonesia," kata dia.

Kata Poppy, data terakhir di grup WhatsApp yang tergabung dalam komunitas "Anakku Sayang" di Pekanbaru ada 104.

"Itu hanya sebagian, karena ada orang tua yang tidak mau membuka diri, belum yang di klinik dan sebagainya," kata dia.

"Melihat kenyataan ini sungguh menyedihkan, siapa yang akan membantu orang tua untuk masa depan anak-anak ini, melihat kondisi anak-anak CRS ini, kalau orang tuanya tiada siapa yang akan dengan rela hati mengurus anak-anak ini, untuk duduk saja belum bisa, bahkan untuk mengusap air mata juga tak mampu," kata Poppy menutup ceritanya pada diskusi publik tentang situasi dan ancaman penyakit Campak dan Rubella di Provinsi Riau, Senin (10/9/2018).

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau Mimi Yuliani Nazir mengatakan, saat ini Imunisasi Measles Rubella (MR) di Provinsi Riau masih berada di angka 18,5 persen sementara pihaknya menargetkan 1,9 juta jiwa anak di wilayah setempat sudah harus diimunisasi sampai akhir bulan ini.

Dengan kondisi yang ada, ia berharap agar seluruh pihak dapat mendukung pelaksanaan Imunisasi MR supaya tidak ada lagi anak bangsa yang harus terlahir dengan penderitaan akibat penularan Virus Measles dan Rubella.

"Ini semua tujuannya supaya anak-anak kita ini kedepannya bebas dari segala penyakit, sehingga eliminasi di tahun 2020 terhadap Campak dan pengendalian Rubella bisa kita capai di Indonesia sehingga anak-anak kita semua sehat dan produktiv," demikian Mimi. (RB/Dwi)

foto

Terkait

Foto

Telah Ada Fatwa, MUI Riau Minta Masyarakat Jangan Ragu Berikan Vaksinasi MR

RIAUBOOK.COM - Tak dapat dipungkiri, rendahnya tingkat partisipasi masyarakat dalam memberikan vaksin Measles Rubella (MR) kepada anaknya salah satunya faktor…

Foto

Capaian Imunisasi MR Baru 18,5 Persen, Dinkes Provinsi Riau Harap ada Kebijakan Perpanjangan Waktu

RIAUBOOK.COM - Imunisasi Measles Rubella (MR) di Provinsi Riau masih berada di angka 18,5 persen dari target capaian 1,9 juta…

Foto

Mahasiswa Kukerta Universitas Riau Lakukan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

RIAUBOOK.COM - Mahasiswa Kukerta Universitas Riau melakukan penyuluhan sekaligus memberikan pemeriksaan gratis kepada masyarakat di Kelurahan Muara Lembu, Singingi.Dalam penyuluhan…

Foto

Banyak Manfaat Jengkol, Atasi Sakit Jantung hingga untuk Diet

RIAUBOOK.COM - Jengkol adalah buah yang selama ini digunakan untuk masakan rumah tangga, baunya pun menyengat, tapi siapa sangka, ternyata…

Foto

Health Coverage Meranti Sudah 77,21 Persen, Sasarannya 159.057 Jiwa

RIAUBOOK.COM - Perlindungan kesehatan bagi masyarakat menjadi hal penting untuk mewujudkan sumber daya manusia yang baik dan mampu berkompetisi, maka…

Foto

Imunisasi MR Sudah Dilakukan Setahun Lalu, Fatwa 'Mubah' Dinilai Terlambat? Berikut Penjelasan MUI

RIAUBOOK.COM - Seiring dengan pro dan kontra di tengah-tengah masyarakat terkait pelaksanaan Imunisasi Measles dan Rubella (MR), Komisi Fatwa Majelis…

Foto

Vaksin MR Dibolehkan Sama MUI, Malah Kini Nyatakan Mendukung, Asal...

RIAUBOOK.COM - Pihak Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyatakan penggunaan vaksin Measles dan Rubella (MR) Serum Institute of India (SII) dari…

Foto

Imunisasi MR Terus Berjalan, MUI dan Dinkes Riau Teken Kesepakatan

RIAUBOOK.COM - Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dan MUI Provinsi Riau bersama Dinas Kesehatan Provinsi Riau menandatangani kesepakatan untuk tetap…

Foto

Capaian Imunisasi MR di Riau Baru 13,7 Persen, Target 1,9 Juta Anak

RIAUBOOK.COM - Capaian imunisasi Measles dan Rubella (MR) di Provinsi Riau baru mencapai 13,7 persen, sementara Dinas Kesehatan Provinsi Riau…

Foto

Dokter Muda COME Puskesmas Tualang Gelar Gerakan Sehari Menjemur Kasur ke Masyarakat

RIAUBOOK.COM- Minggu (26/8/18), dokter muda Community Oriented Medical Education (COME) Fakultas…

Foto

Gubernur Riau Minta Imunisasi MR Terus Dijalankan, Katanya Masih Banyak yang Butuh

RIAUBOOK.COM - Menteri kesehatan RI Nila F. Moloek memberi instruksi agar imunisasi Measles dan Rubella (MR) tahap kedua tetap dijalankan,…

Foto

Awalnya Jatuh dari Sepeda, Denis Pratama Jadi Lumpuh Selama 2 Tahun

RIAUBOOK.COM- Denis Pratama usia 9 tahun, saat ini hanya terbaring dirumah neneknya di Desa Alah Air Laut Kecamatan Tebingtinggi- Kabupaten…

Foto

Terkait Isu Vaksin Measie Rubella Tak Kantongi Sertifikat Halal MUI, Bupati Meranti Sarankan Bagi Non Muslim Tetap Dilaksanakan

RIAUBOOK.COM - Bupati Kepulauan Meranti, Riau, Irwan mengatakan, pelaksanaan vaksin Measies Rubella (MR), yang dicanangkan pemerintah untuk diimunisasikan terhadap anak-anak…

Foto

Soal Halal Tidaknya Vaksin MR, Gubernur Riau: Itu Dominan MUI

RIAUBOOK.COM -Terkait dengan permohonan penundaan Imunisasi Measles dan Rubella (MR) oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupten Siak karena masih belum…

Foto

Orang Gemuk Jarang Ditemukan di Jepang, Ini Rahasianya

RIAUBOOK.COM - Orang yang memiliki badan gemuk atau Obesitas sangat jarang ditemukan di negara Jepang. Persoalan ini kemudian mengemuka di…

Foto

Terpenuhi 68 persen Kebutuhan Tenaga Kesehatan di Riau, Dokter Spesialis Sangat Dibutuhkan

RIAUBOOK.COM - Provinsi Riau sudah memenuhi kebutuhan tenaga kesehatan sebanyak 68 persen dari yang dibutuhkan, itu diperoleh dari bantuan Pemerintah…

Foto

Pencangan Kampanye Imunisasi MR dilakukan Serentak Se-Indonesia

RIAUBOOK.COM - Kampanye Imunisasi Measles dan Rubella (MR) tahap 2 akan dilakukan secara serentak untuk seluruh Indonesia pada tanggal 1…

Foto

Dumai Agendakan Pemberian Vaksin Rubella, 1 Agustus

RIAUBOOK.COM - Sebagai imunisasi tambahan bagi anak, maka pemerintah Kota Dumai melalui Dinas Kesehatan mengagendakan pemberian vaksin campak Rubella mulai…

Foto

Pemkab Kampar Dukung Imunisasi dan Pencegahan Measles Rubella, Target Capai 95 Persen

RIAUBOOK.COM - Pemerintah Kabupaten Kampar tandatangani kesepakatan bersama sosialisasi dan koordinasi dalam rangka kampanye measles rubella (MR) tingkat Provinsi Riau…

Foto

Awas Campak dan Rubella Menular, Ini Dia Orang-orang yang Berisiko Tinggi

RIAUBOOK.COM - Pihak pejabat pemerintahan setempat yang berwenang di Provinsi Riau mengungkap bahwa campak dan rubella sangat menular mengingat penyakit…

foto

Pendidikan