Virus Spanyol Penyakit Aneh yang Masuk Indonesia Dulu, Bunuh 1,5 Juta Penduduk

RIAUBOOK.COM - Melansir dari Historia.id Pandemi Virus Spanyol terbawa masuk ke Indonesia kemungkinan melalui jalur laut, kemungkinan lewat kapal penumpang ataupun kapal kargo.

Pemerintah Hindia Belanda kala itu mencatat bahwa virus ini pertamakali dibawa oleh penumpang kapal dari Malaysia dan Singapura dan menyebar lewat Sumatera Utara.

Investigasi polisi laut terhadap kapal penumpang Maetsuycker, Singkarah, dan Van Imhoff mendapati bahwa beberapa penumpang positif terjangkit virus tersebut.

Virus itu bahkan menjangkiti seluruh penumpang dan awak kapal Toyen Maru yang baru tiba di Makassar dari Probolinggo.

Menariknya, harian Sin Po dan Pewarta Soerabaia memiliki beberapa nama untuk menyebut pandemi itu: "Penjakit Aneh", "Penjakit Rahasia", dan "Pilek Spanje".

Dalam salah satu artikelnya, Pewarta Soerabaia bahkan menggunakan istilah "Russische Influenza" meskipun pandemi Flu Rusia sudah berakhir pada 1890.

Namun dalam artikel-artikel berikutnya, Sin Po maupun Pewarta Soerabaia menggunakan terminologi yang lazim digunakan di seluruh dunia untuk menyebut penyakit ini yakni "Flu Spanyol".

Ketika virus itu mulai menyerang kota-kota besar di Jawa pada Juli 1918, pemerintah dan penduduk tidak terlalu memperhatikan.

Mereka tidak sadar apabila virus tersebut akan menjalar dengan cepat dan mengamuk dengan sangat ganas.

Terlebih, saat itu perhatian pemerintah lebih terfokus pada penanganan penyakit-penyakit menular lain seperti kolera, pes, dan cacar.

Beberapa suratkabar juga menganggap Flu Spanyol belum berbahaya.

Aneta, misalnya, dari korespondensinya dengan Asosiasi Dokter Batavia menyimpulkan bahwa Flu Spanyol tidaklah berbahaya bila dibandingkan dengan flu pada umumnya.

Sementara, Sin Po menulis, "Ini penjakit lagi sedang hebatnja mengamoek di seantero negeri, sekalipoen tiada begitoe berbahaja seperti kolera atau pes."

Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (BGD/Dinas Kesehatan Sipil) Hindia Belanda bahkan sempat salah kaprah dengan menganggap serangan Flu Spanyol sebagai kolera.

Akibatnya, setelah muncul beragam gejala, pemerintah menginstruksikan BGD untuk mengadakan vaksinasi kolera di tiap daerah.

Kesalahan penanganan itu menyebabkan jumlah korban semakin banyak, mayoritas berasal dari golongan Tionghoa dan Bumiputera.

Total menurut sejarah, virus itu telah membunuh lebih 1,5 juta jiwa penduduk Indonesia.

Udara

Diberitakan oleh Sinar Hindia, penyakit itu disebabkan oleh perang yang berkecamuk di Eropa yang membuat kondisi udara menjadi buruk.

Faktor tersebut berkaitan dengan musim kemarau panjang yang tengah terjadi di Hindia.

Namun, De Sumatra Post membantah pendapat tersebut dengan menyebut influenza sebagai "Penjakit Rakjat", berasal dari dalam Hindia, dan tidak menular.

De Sumatra Post terpaksa menelan ludahnya sendiri ketika dalam salah satu artikelnya mendorong agar seluruh surat kabar di Hindia Belanda berkenan menyediakan rubrik singkat guna memberikan informasi mengenai bahaya penyakit ini.

Penyebaran Flu Spanyol di Hindia terjadi dalam dua gelombang.

Pertama, Juli 1918-September 1918, sekalipun di beberapa tempat, seperti Pangkatan (Sumatera Utara), virus ini sudah menyebar pada Juni 1918.

Diduga kuat penyakit itu ditularkan oleh penumpang dari Singapura.

Sementara, kawasan timur, seperti Sulawesi dan Maluku, masih terbebas dari Flu Spanyol selama gelombang pertama.

Dalam hitungan minggu, virus menyebar secara masif ke Jawa Barat (Bandung), Jawa Tengah (Purworejo dan Kudus), dan Jawa Timur (Kertosono, Surabaya, dan Jatiroto).

Dari Jawa, virus menjangkiti Kalimantan (Banjarmasin dan Pulau Laut), sebelum mencapai Bali, Sulawesi, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.

Memasuki Oktober 1918, virus tersebut telah mencapai pulau-pulau kecil di sekitar Kepulauan Sunda.

Sebulan berselang, virus telah mencapai Papua dan Maluku, 10 dari 1000 orang meninggal akibat flu ini.

Menurut Oetoesan Hindia, lebih dari 10 persen populasi di Pulau Seram meninggal akibat keganasan virus ini.

Sementara, 60 persen penduduk Makassar yang berjumlah sekitar 26.000 jiwa dilaporkan terjangkit virus ini dan 6 persen dari mereka tewas.

Pewarta Soerabaia mencatat, hingga pertengahan Juli 1918, Flu Spanyol telah menyerang 70 polisi di Jawa dan membunuh 10 orang Tionghoa di Medan.

Beberapa perusahaan di Surabaya bahkan harus mengurangi produksi karena lebih dari setengah karyawannya tidak dapat masuk kerja akibat terkena Flu Spanyol.

Sin Po bahkan mengabarkan kemungkinan keterlambatan tiba korannya agar masyarakat dapat memaklumi hal tersebut.

Sementara itu, sebuah perusahaan di Ambon harus menerima kenyataan apabila hanya sembilan pekerjanya (dari total 800 pekerja) yang bisa masuk kerja.

Seluruh rumah sakit mendadak kebanjiran pasien sampai harus menolak banyak pasien karena keterbatasan kamar.

Para dokter tidak mampu berbuat banyak lantaran mayoritas dari mereka belum pernah melihat gejala penyakit seperti itu.

Mereka hanya bisa merekomendasikan kina dan aspirin untuk menurunkan panas sang pasien.

Menurut Koloniaal Weekblad (1919), masing-masing dokter di Makassar harus bertanggungjawab terhadap nasib 800 pasien.

Saking frustasinya, dalam sebuah rapat regional di Rembang, Dr. Deggeler sampai menyatakan bahwa tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit itu, selain amal baik seseorang.

Gelombang kedua Flu Spanyol terjadi pada Oktober-Desember 1918 meski di beberapa tempat, terutama di kawasan timur, berlangsung hingga akhir Januari 1919.

Pewarta Soerabaia melaporkan, virus masih mengganas di Buton pada awal Januari 1919.

Kasus kematian juga terjadi di beberapa perkebunan di Sumatera, yang dilaporkan Harian Andalas.

Sin Po menyebutkan Flu Spanyol membuat beberapa perkebunan di Jawa Barat menderita.

Sebanyak 200 pekerja di Wanasukan terinfeksi pandemi sehingga tidak dapat bekerja.

Kondisi serupa terjadi di Talun yang mengakibatkan produksi kopi terhambat.

Di Padang, kegiatan belajar-mengajar di Sekolah Adabiah dihentikan karena mayoritas murid dan gurunya terinfeksi oleh Flu Spanyol.

Begitu juga dengan Kartinischool Goenoeng Sari dan Kweekschool Goenoeng Sari di Batavia dan HIS Gorontalo.

Laporan BGD di tahun 1920 menyebutkan, "Seloeroeh desa di Hindia Olanda hampir tidak ada jang tidak terinfeksi oleh penjakit flu."

Akibatnya, menurut laporan itu, "Pintu rumah tertutup. Jalan-jalan begitu lengang. Anak-anak menangis di dalam rumah karena merasa lapar dan haus.

Banyak binatang bahkan meninggal kelaparan. Hari-hari tersebut sangat penuh dengan kesengsaraan."

Menurut data mortalitas dalam Handelingen van den Volksraad tahun 1918, pada November 1918 sebanyak 9.956 orang meninggal karena kolera, 909 karena cacar, 733 karena pes.

Jumlah itu jauh lebih kecil dibanding jumlah korban Flu Spanyol di bulan yang sama, 402.163 jiwa.

sumber tribun

foto

Terkait

Foto

Mengerikan, Virus Ini Membunuh 100 Juta Jiwa Manusia

RIAUBOOK.COM - Untuk diketahui, pandemi merupakan sejarah mengerikan dalam kehidupan umat manusia mirip seperti virus corona. Beberapa pandemi mematikan…

Foto

Sucikan Diri Dengan Berwudhu Cara Hindari Virus Corona, Ini Dibahas Akademik Barat

RIAUBOOK.COM - Virus corona kian menakutkan, berbagai cara dilakukan setiap negara untuk rakyatnya terhindar dari virus mematikan itu. Media…

Foto

Putus Mata Rantai Virus Corona, Riau Tutup Akses Malaysia dan Singapura

RIAUBOOK.COM - Pihak Pemerintah Provinsi Riau memutuskan lockdown atau menutup seluruh akses keluar dan masuk Malaysia dan Singapura untuk memutus…

Foto

Antisipasi Virus Corona, 28 anak Vamos Indonesia di Spanyol Dipulangkan

RIAUBOOK.COM - Menyusul diberlakukannya lockdown di seluruh wilayah Spanyol, manajemen Vamos Indonesia bergerak cepat megantisipasinya dengan menarik pulang 28 anak…

Foto

Malaysia Lockdown

RIAUBOOK.COM - Malaysia akan melakukan isolasi (lockdown) selama dua pekan untuk membendung terus bertambahnya infeksi virus corona dimulai pada 18…

Foto

Di Bali Bule Kejang dan Tewas di Pinggir Jalan

RIAUBOOK.COM - Peristiwa gempar terjadi si Bali, warga dan pengguna jalan di Kota Denpasar melihat seorang warga negara asing yang…

Foto

Riwayat Virus Corona Dari Malaysia ke Indonesia

RIAUBOOK.COM - Gubernur Riau Syamsuar mengatakan pasien yang suspect Covid-19 di Riau rata-rata memiliki riwayat perjalanan dari negara tetangga Malaysia.…

Foto

Giliran Menteri PUPR Terjangkit?

RIAUBOOK.COM - Kasus Virus Corona di Indonesia terus meningkat, kalangan elite pemerintahan bahkan ada yang terjangkit virus mematikan itu. …

Foto

Ustadz Somad Juga Kena Imbas Virus Corona, Ceramahnya Batal

RIAUBOOK.COM - Ustaz Abdul Somad (UAS) juga melakukan langkah antisipasi penyebaran virus corona (covid-19) dengan membatalkan sejumlah jadwal ceramahnya di…

Foto

BIN: Bulan Puasa dan Idul Fitri Jadi Puncak Sebaran Virus Corona, Per Hari 4.000 Orang Terjangkit

RIAUBOOK.COM - Badan Intelijen Negara (BIN) memprediksi virus corona jenis baru atau Covid-19 bisa menginfeksi hampir 4 ribu orang per…

Foto

Begini Rasanya Terjangkit Virus Corona

RIAUBOOK.COM - Kisah Connor Reed menjadi perhatian dunia, dia tampil ke publik dengan membawa kisahnya sebagai seorang penyintas virus corona.…

Foto

Virus Corona Belum Mengharuskan Tutup Car Free Day Pekanbaru

RIAUBOOK.COM - Pihak Pemerintah Kota Pekanbaru, Riau, belum memutuskan larangan aktivitas warga di Car Free Day, menyusul  ditemukan warga yang…

Foto

Orang Riau Diduga Kena Corona, 1 Negatif

RIAUBOOK.COM - Sebaran virus corona di Riau diindikasi telah menjangkiti beberapa orang, namun satu pasien terduga suspect virus mematikan yang…

Foto

Gubernur Syamsuar Ajak Swasta Juga Siaga Corona

RIAUBOOK.COM - Gubernur Riau Syamsuar menggelar pertemuan dengan Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan se Provinsi Riau membahas kesiapsiagaan dalam menangani COVID…

Foto

Mantan Direktur BIN: Sama Hal Flu Burung, Virus Corona Juga Senjata Biologi

RIAUBOOK.COM - Dicurigai penyebaran virus Corona (Covid-19) merupakan senjata biologi, demikian Mantan Direktur Nubika (Nuklir, Biologi, dan Kimia), Badan Intelejen…

Foto

Virus Corona Senjata Biologis Amerika

RIAUBOOK.COM - Virus corona adalah senjata biologi buatan Amerika untuk menyerang China dan Iran, demikian Jenderal Iran, Hossen Salami dalam…

Foto

Soal Virus Corona, Wapres Bilang Tunggh Arab Saudi

RIAUBOOK.COM - Penyebaran virus corona (Covid-19) kian menggila, menyebar ke sejumlah negara bahkan pemerintah Arab Saudi berinisiatif menghentikan sementara jamaah…

Foto

Rupiah Dihajar Corona

RIAUBOOK.COM - Virus corona kian menggila, bahkan mengakibatkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat semakin anjlok setelah Presiden Joko…

Foto

Kondisi Iran Lebih Mengerikan Dibanding Cina, Manusia Berjatuhan di Jalan

RIAUBOOK.COM - Dunia sedang darurat virus corona, negara-negara yang menjadi musuh Amerika Serikat (AS) menjadi sasaran COVID-19 yang begitu mematikan.…

Foto

Guru Korban Kriminalisasi Menangis di Ruang Sidang, Isteri Hamil dan Anak Tanggung Derita

RIAUBOOK.COM - Nel, seorang dari empat terdakwa yang menjadi korban dugaan kriminalisasi menangis di ruang sidang pada Pengadilan Negeri Padang,…

foto

Pendidikan