Ilustrasi. (net)

Rabu, 13 Januari 2021 - 13:03 WIB 19590000

Diskriminasi Uni Eropa Terhadap Sawit Indonesia Gagal?

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Meski minyak sawit (CPO) Indonesia mendapat diskriminasi dari Uni Eropa dalam beberapa tahun terakhir. Tapi hal ini tidak membuat ekspor CPO ke "Benua Biru" tersebut turun. Malahan, grafiknya terus menanjak.

Sentimen negatif yang selama ini gencar digaungkan Uni Eropa untuk produk sawit dari Indonesia, nyatanya membuat CPO Indonesia semakin kian digandrungi.

Tahun lalu misalnya, ekspor CPO dari Indonesia ke Uni Eropa justru terus menunjukkan angka pertumbuhan kearah positif.

Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia Vincent Piket menjelaskan, selama 10 bulan pertama di 2020 nilai ekspor CPO Indonesia naik 27% dan dari sisi volume naik 10%.

"Ekspor dari kelapa sawit ke Uni Eropa di 10 bulan pertama tahun lalu itu naik, tidak kurang dari 27% kenaikan ekspornya, itu kalau kita bicara tentangvalue-nya. Kalau bicara volumenya itu naik 10%," kata dia dalam webinar, Rabu (13/1/2021).

Hal itu, dijelaskannya menunjukkan bahwaUni Eropatetap membuka pintu untuk produk kelapa sawit dari Indonesia.

"Jadi menurut saya ini adalah hal yang sangat sukses sekali dari negara Indonesia. Sangat jelas ini adalah sebuah bukti dan ada pintu yang tetap terbuka untuk ekspor untuk sumber daya alam, yaitu untuk kelapa sawit," sebutnya.

"Kita ada kesepakatan dengan Indonesia, tidak ada kebenaran di dalam pernyataan bahwa kami mem-banned, kami melarang ekspor dari minyak kelapa sawit atau membatasi. Kami bekerja sama secara khusus untuk minyak kelapa sawit," paparnya.

Dipahaminya memang ada perdebatan tentang keberlanjutan minyak kelapa sawit dan minyak sayur lainnya, dan isu ini menjadi persengketaan antara Indonesia dan Malaysia dengan Uni Eropa pada beberapa tahun terakhir.

Namun hal baiknya adalah kesuksesan di kedua belah pihak, yakni Indonesia-Malaysia danUni Eropayang setuju untuk mendiskusikan minyak kelapa sawit dan minyak sayur lainnya agar berkelanjutan.

"Ini adalah tugas yang besar dan saya tidak bisa mengatakan bahwa ini akan ada hasilnya dalam 3-4 bulan ke depan, ya memang membutuhkan waktu. Tentu saja ini perlu didukung inisiatif-inisiatif dari sisi kami sehubungan dengan pelatihan, adaptasi, dan hal-hal lainnya di Malaysia dan di Indonesia, itu perlu didukung supaya kita bisa maju melangkah ke depan," tambahnya.

Sumber:Detik.com

Share ke BBM

100000000
Dwi Anggera

Berita Terkini

Harga TBS Sawit di Riau Turun, Ini Sebabnya

Selasa, 15 Desember 2020 - 12:29 WIB

Harga Sawit di Riau Nyaris Tembus Rp2 Ribu Per Kilo

Selasa, 13 Oktober 2020 - 13:30 WIB

Bagus Santoso: Tambak Udang Potensial Dikembangkan

Senin, 28 September 2020 - 17:38 WIB

Harga Sawit Riau Naik Rp2,16 per Kg Dibanding Minggu Lalu

Rabu, 16 September 2020 - 13:46 WIB

Bank Riau Kepri Miliki Pemimpin Baru

Rabu, 16 September 2020 - 07:04 WIB

Agustus 2020, Riau Alami Inflasi 0,05 Persen

Kamis, 03 September 2020 - 15:02 WIB

Luhut Binsar Ditelepon Jokowi, Minta...

Kamis, 23 Juli 2020 - 11:21 WIB

OJK Seleksi Direksi BRK, Ini Hasilnya

Rabu, 22 Juli 2020 - 13:56 WIB

Ekonomi Indonesia Kritis, Sektor Kesehatan Krisis

Selasa, 21 Juli 2020 - 09:36 WIB

Harga CPO Riau Terdongkrak Minyak Mentah Dunia

Selasa, 30 Juni 2020 - 22:19 WIB

China Kekuatan Baru Dunia, Luhut: Tak Bisa Remeh

Sabtu, 06 Juni 2020 - 13:13 WIB

Riau Inflasi, Begini Penjelasan BPS

Selasa, 02 Juni 2020 - 22:05 WIB
Awas Corona

Indonesia Akan Cetak Uang Rp600 Triliun

Rabu, 29 April 2020 - 18:40 WIB

Menelusuri Kelayakan dan Kepatutan Calon Direksi BRK

Selasa, 21 April 2020 - 14:12 WIB

Cadangan Devisa RI Tergerus 7,2 Persen

Senin, 06 April 2020 - 10:00 WIB
Awas Corona

51 Perusahaan BUMN Dipangkas

Sabtu, 04 April 2020 - 09:55 WIB
Awas Corona

BUMN-BUMN Ambruk

Sabtu, 04 April 2020 - 09:46 WIB

Permintaan Minyak Dunia Merosot, Harga Anjlok

Kamis, 02 April 2020 - 10:59 WIB

Cari Judul Berita

Populer



hut kota dumai riauboook

Galeri Pemkab Siak

galeri menanam padi siak


Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia



Banner

Socialize