Riau Book - Banyak orang yang mampu untuk membeli, namun sedikit yang mencoba menciptakan teknologi atau setidaknya sumber energi. Salah satu yang sedikit itu adalah Bupati Kampar, Riau, Jefry Noer.
Lewat program andalannya yang dinamai Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE), Jefry mencoba untuk menciptakan kondisi perekonomian yang kuat, dimulai dari "pondasi" yakni rumah tangga, hingga akhirnya terbangun rumah megah yang kokoh, layaknya istana dengan taman yang telah tumbuh berbagai kebutuhan sehari-hari. Keluarga yang ada di dalamnya hanya tinggal "memetik" kejayaan.
Itulah sepenggal makna dari Program RTMPE. Rumah tangga yang mandiri, baik untuk kebutuhan pangan maupun energi. Seperti yang diketahui, bahwa saat ini negara sedang diancam krisis dua kebutuhan pokok tersebut, baik pangan yang kini telah mulai ketergantungan impor, dan energi yang kini juga dominan impor.
Padahal, negara ini memiliki kekayaan alam yang luar biasa. terdapat daratan yang luas, namun kini lebih ditumbuhi oleh perkebunan sawit dan hutan tanaman industri, asing masih mendominasi penguasaan lahan di negeri ini.
Slogan yang baik dan kini diterapkan oleh Bupati Kampar Jefry Noer untuk membangkitkan perekonomian daerah tersebut adalah; "menjadikan masyarakat tidak hanya bebas miskin, namun juga kaya raya dan yang Islam bisa naik haji".
Bagaimana bisa? Tentu dilandasi dengan program yang jitu. Salah satunya adalah RTMPE. Program ini lebih mengutamakan pengelolaan lahan yang tidak begitu luas atau hanya dikisaran 1.000 meter persegi.
Jefry Noer meyakini, ada banyak masyarakat Kampar yang memiliki lahan seluas itu bahkan lebih. Tinggal bagaimana pengelolaannya, agar baik dan mendatangkan hasil yang memuaskan.
Untuk diketahui, bahwa sampai saat ini Kampar masih menjadi daerah kabupaten terluas di Riau, dengan luas 10.928,20 km2 atau 12,26 persen dari daratan provinsi ini. Jumlah penduduknya masih berkisaran 800 ribu jiwa.
Rata-rata penduduk Kampar adalah petani perkebunan yang memiliki lahan lebih dari 2 hektare, dan yang menarik, setiap bangunan rumah milik warga tempatan, dipastikan ada perkarangan yang luas, lebih kurang seribu meter persegi.
Angka kemiskinan di daerah ini cukup tinggi. Atau setidaknya lebih tinggi dari yang diperhitungkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Jika BPS pada tahun 2014 menghitung ada sekitar 6 persen warga miskin di Kampar, maka Jefry Noer dari hasil pendataan yang merata, menghasilkan 14 persen warga daerah itu berada pada level ekonomi lemah.
"Mereka itu yang harus dibantu untuk meningkatkan perekonomian mereka. Bahkan tidak hanya itu, lewat program ini juga akan mampu membuat masyarakat miskin menjadi kaya raya, bahkan naik haji dan Insya Allah masuk surga," katanya.
RTMPE bukan sekedar program pengelolaan lahan 1.000 meter persegi yang di dalamnya terdapat tanaman bawang, cabai dan berdiri kandang ayam serta ternak sapi dan lele.
"RTMPE adalah program utama, cara Pemda Kampar untuk menjadikan orang miskin menjadi kaya raya dan Insya Allah akan masuk surga," kata Jefry.
Lewat Program RTMPE masyarakat diajarkan untuk menjalankan kemandirian ekonomi hingga sosial. "Hingga selamat dunia dan akhirat," katanya.
Sesungguhnya, demikian Jefry, untuk menjadi kaya raya itu tidak perlu banting tulang. Melalui RTMPE, masyarakat hanya cukup mengolah lahan 1.000 meter per segi, namun hasilnya melebih hasil dari lima hektare kebun karet dan sawit.
Dari mana hasil itu didapatakan? Kepala Dinas Peternakan Kampar Zulia Dharma memaparkan;
Untuk membangun Program RTMPE di atas lahan 1.000 meter persegi, dibutuhkan dana awal sebesar Rp120 juta. Dimana Rp60 juta adalah dana untuk membeli enam ekor sapi.
Kemudian dalam pekarangan RTMPE, demikian Zulia, juga akan ada upaya pengelolaan urine sapi menjadi biourine yang biaya instalasinya mencapai Rp15 juta. Begitu juga dengan untuk pengelolaan kotoran sapi menjadi biogas, dibutuhkan uang sebesar Rp15 juta untuk perlengkapannya.
Selanjutnya di atas lahan yang sama, kata dia, juga akan dipelihara sebanyak seratus ekor ayam Alpu atau ayam petelur yang akan dikawinkan dengan sepuluh pejantan jenis bangkok. Modalnya, untuk seratus ekor ayam Alpu adalah Rp7,5 juta dan Rp1,5 juta untuk pembelian sepuluh ekor ayam bangkok.
Lalu untuk membangun kandang ayam tersebut, menurut Zulia, dibutuhkan dana sebesar Rp5 juta. Ditambah dengan pembuatan kolam lele sebesar Rp5 juta. Dan terakhir adalah untuk pembelian bibit ikan lele, bawang serta cabai yang nilainya sebesar Rp11 juta.
"Namun jangan khawatir, modal sebesar itu akan kembali dalam jangka waktu yang singkat. Bahkan hanya setahun. Karena hasil dari program ini mencapai Rp15 juta bahkan Rp25 juta setiap bulannya," kata dia.
Bagaimana caranya? Zulia kembali merincikan;
Untuk diketahui, bahwa dari enam ekor sapi tersebut, setiap bulannya akan menghasilkan 500 hingga 1.000 liter urine yang kemudian akan diolah menjadi biourine yang akan dijual seharga Rp15 ribu per liter. Dengan demikian, dari kencing sapi saja, keluarga RTMPE sudah menerima hasil lebih kurang Rp7,5 juta hingga Rp15 juta setiap bulannya.
Proses pengelolaan urine sapi hingga menjadi biourine menurut dia juga tidak begitu rumit. Bagaimana polanya?
Zulia memaparkan; bahwa untuk memproses urine sapi menjadi biourine dibutuhkan waktu selama 14 hari. Delapan hari pertama dilakukan fermentasi untuk menghilangkan racun yang terkandung dalam urine sapi.
Setelah itu kemudian urine dimasukkan ke dalam wadah sejenis drum. Pada wadah pertama, urine tersebut dicampurkan dengan berbagai jenis rempah, seperti jahe, temulawak, kunyit, temuireng, samuloto dan lainnya. Setelah didiamkan selama tiga hari, kemudian disaring ke drum kedua hingga didiamkan lagi selama tiga hari baru kemudian biourine dapat dimanfaatkan dan dijual.
BiogasPemasukan tambahan lainnya ada pada pengelolaan kotoran sapi menjadi biogas.
Bagaimana pola pengelolaannya;
Zulia memaparkan, pada tahap awal, kotoran sapi dimasukkan terlebih dahulu ke dalam wadah yang telah disediakan. Kemudian disaring ke dalam tangki besar yang menjadi satu instalasi untuk kemudian disaring menjadi biogas dengan pemanfaatan langsung.
"Biogas itu digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga seperti penerangan, listrik dan sebagai bahan bakar memasak," katanya.
Selanjutnya, kotoran yang telah disaring menjadi biogas itu, demikian Zulia, dipindahkan ke dalam wadah dengan terlebih dahulu dipisahkan antara yang padat dan yang cair.
Untuk kotoran sisa olahan biogas itu, kata Zulia, kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Setiap bulannya, dari kotoran padat saja, menghasilkan satu ton. Jika dijual Rp1.000 per kilogramnya, maka ada penghasilan tambahan bagi keluarga RTMPE sebesar Rp1 juta.
Kemudian dari kotoran cair yang juga akan diolah menjadi pupuk organik. Menurut dia dapat menghasilkan 150 hingga 250 liter setiap bulannya. "Anggap saja rata-rata menghasilkan 150 liter per bulan, jika dikalikan Rp10.000 per liternya, maka sudah menambah penghasilan sebesar Rp1,5 juta," katanya.
Dengan demikian, kata Zulia, dari limbah atau kotoran sapi saja, keluarga RTMPE sudah mendapatkan penghasilan rata-rata Rp10 juta setiap bulannya. "Bayangkan, hanya dari limbah atau kotoran sapi yang tadinya dianggap tak bernilai, ternyata mampu untuk membuat masyarakat menjadi kaya raya dan ini sudah terbukti," kata dia.
Untuk enam sapi yang dipelihara, lanjut Zulia, bisa menjadi tabungan dan investasi luar biasa. Karena enam ekor sapi Bali tersebut, akan menghasilkan keturunan (anak) enam ekor setiap tahunnya. Jika dalam waktu tiga tahun, maka tabungannya akan berkembang atau bertambah sebanyak 18 ekor.
Untuk diketahui, katanya, harga sapi setiap tahunnya tidak pernah turun atau terus naik. Jika sekarang dibeli dengan harga Rp10 juta per ekor, maka tahun depan bisa lebih mahal lagi. Anggap saja hingga tiga tahun ke depan harganya tetap, maka ketika itu, keluarga RTMPE sudah mendapatkan hasil sebesar Rp180 juta.
"Namun jika sapi tersebut merupakan sapi masyarakat dari bantuan pemerintah yang harus digulirkan, maka pada keturunan tahun pertama harus digulirkan. Namun untuk anak kedua di tahun kedua dan seterusnya menjadi tabungan masa depan, untuk naik haji," kata dia.
Ayam AlpuHasil yang tak kalah juga dapat didatangkan dari ternak ayam Alpu. Bagaimana caranya dan berapa hasil yang didapat?
Zulia kembali menjelaskan; Dalam pemeliharaan ayam petelur, dibutuhkan kandang yang terpisah hingga membentuk sepuluh kotak yang berada dalam kandang utama. Isi totalnya, yakni seratus ekor ayam Alpu dan sepuluh ekor pejantan bangkok.
Setiap satu ekor ayam bangkok, kemudian digabungkan dengan sepuluh ekor ayam Alpu. Mengapa demikian? karena telur perkawinan silang tersebut akan menghasilkan telur dengan embrio yang dapat ditetaskan. Hargaya juga tentu berbeda dengan telur ayam ras pada umumnya.
Setiap harinnya, demikian Zulia, dari seratus ekor ayam Alpu itu, dihasilkan 50 hingga 75 butir telur. Anggap saja rata-rata 50 butir, jika dikalikan Rp2.000 per butir, pemasukan tambahan keluarga RTMPE adalah sebesar Rp100.000x30 totalnya Rp3.000.000 setiap bulannya.
"Anggap saja dana sebesar Rp1 juta habis untuk biaya pakan, maka masih tersisa Rp2 juta yang dapat ditabung. Dengan demikian, dari peternakan saja, keluarga RTMPE akan mendapakan penghasilan Rp12 juta setiap bulannya plus tabungan anak sapi," kata dia.
Ternak LeleTambahan pemasukan lainnya kata Zulia ada pada ternak lele. Kolam lele yang dibangun di kawasan RTMPE adalah seluas 4x6 meter yang dapat di isi dengan 8.000 ekor bibit.
Bibit lele tersebut, lanjutnya, dapat dipanen setiap dua bulan dengan perkiraan hasil rata-rata Rp3,5 juta per dua bulan atau per bulannya Rp1.750.000.
Mengapa dipilih bibit lele? Menurut Zulia lele merupakan ikan dengan pakan sederhana. Salah satunya adalah dengan pengelolaan limbah pupuk organik yang ternyata bisa untuk dijadikan pakannya. Ini menghemat cukup besar biaya mengingat harga pakan lele buatan pabrik yang mahal.
Tanaman BawangPemasukan keluarga RTMPE lainnya kata Zulia, adalah dari tanaman bawang dan cabai merah. Lahan yang disediakan dalam kawasan Program RTMPE untuk tanaman holtikultura ini adalah 400 meter per segi dengan pola tanam tumpang sari.
"Bibit yang dibutuhkan untuk bawang merah lebih kurang 50 kilogram dengan hasil panen mencapai 500 kilogram. Sebagian hasilnya atau sebanyak 100 kg dapat dijual dan sebagian dapat dikonsumsi hingga menunggu hasil panen selanjutnya selama 45 hari," kata dia.
Untuk bawang merah, lanjut kata dia, dapat dipasarkan dengan harga rata-rata Rp20 ribu per kilogram. Kalikan 400 kg, maka tambahan pemasukan yang didapat keluarga RTMPE adalah sebesar Rp8 juta selama dua bulan atau Rp4 juta jika dibagi setiap bulannya.
Yang terpenting menurut Zulia, untuk tanaman jenis holtikultura itu, dapat menggunakan pupuk organik hasil dari pengelolaan keluarga RTMPE. Dan itu telah terbukti hasilnya, sangat memuaskan. Bahkan lebih baik dari penggunaan pupuk kimia yang nyata-nyata dapat merusak kesuburan tanah.
Terlebih, kata dia, biourine yang dihasilkan merupakan biang, dimana satu liternya dapat dicampurkan dengan 10 liter air untuk tanaman holtikultura dan untuk tanaman sejenis kelapa sawit satu liter biourine dicampur 5 liter air.
"Itulah perincian biaya pemasukan dari Program RTMPE, yakni antara Rp15 juta hingga Rp25 juta setiap bulannya. Dengan demikian, modal sebesar Rp120 juta tentunya akan cepat kembali dan masyarakat miskin, kedepan akan menjadi kaya raya," katanya.
Masuk SurgaBupati Kampar Jefry Noer dalam menjalankan Program RTMPE juga mengharapkan masyarakat untuk mendapatkan waktu lebih luang dalam menjalankan ibadah.
Program tersebut menurut dia dapat mendisiplinkan waktu secara massal, khususnya waktu untuk beribadah, tanpa harus banting tulang. Bagaimana bisa?
Jefry menjelaskan, pola kerja dalam Program RTMPE tidak begitu sulit. Karena dianjurkan lahan 1.000 meter per segi yang digarap berada di belakang rumah, sehingga pengelolaannya menjadi gampang.
Pekerjaan dapat dimulai seusai Shalat Subuh. Namun dianjurkan sebelum turun bekerja, luangkan waktu untuk berzikir hingga pukul 06.00 WIB. Pekerjaan ini juga akan menyehatkan karena dilakukan saat sinar matahari pagi. Sesuai dengan anjuran dan saran para pengamat kesehatan.
Jika keluarga itu telah memiliki anak, lanjut Jefry, pemungutan telur bisa meminta pertolongannya. Ayahnya kemudian bisa membersihkan kandang sapi. Sementara isteri, memasak untuk menyiapkan sarapan.
Selesai sarapan, anak pergi ke sekolah dan ayah dapat kembali bekerja mencari pakan sapi, kemudian memberihkan lahan. Hingga kembali beristirahat saat matahari telah berada di atas kepala sekitar pukul 11.00 - 12.00 WIB.
Selesai bekerja, katanya, kemudian masuk ke dalam rumah, bersihkan badan, Shalat Zuhur dan selanjutnya makan siang. Hidangan telah disiapkan isteri dari hasil pekarangan RTMPE.
"Mau telur, daging ayam, cabai, bawang dan ikan lele, semuanya ada. Tinggal beli garam saja sama beras kemudian gula," katanya.
Selesai makan, Jefry menyarankan keluarga RTMPE untuk tidur siang, beristirahat sampai tiba waktu Azhar. Selesai shalat, juga jangan langsung bekerja, baiknya membaca Al Quran untuk perdalam ilmu agama. Baru setelah itu kembali bekerja karena matahari telah turun dan tidak lagi panas. Pekerjaan dapat dilakukan hingga pukul 17.30 WIB kemudian bersihkan badan dan Shalat Magrib.
"Hal itu dilakukan terus setiap harinya hingga masyarakat benar-benar madani. Tidak hanya agama dan ekonominya yang kuat, namun menjadi masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan mamaknai kehidupannya," kata dia.
Silahkan mencoba "resep" untuk jadi orang kaya dan sang "Koki" Bupati Kampar Jefry Noer. Semoga berhasil!
(fzr)




Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…