RiauBook - Jika dalam perwayangan Candradimuka adalah kawah dalam kahyangan tempat dilahirkannya Gatotkaca hingga menjadi ksatria perkasa. Maka Kampar juga merupakan Candradimuka di Provinsi Riau, sebagai kawah untuk "menggembleng" masyarakat lemah menjadi tangguh, perkasa dan mampu bersaing secara nasional bahkan internasional.
Dalam kisah Wayang Indonesia, di Kawah Candradimukalah jabang bayi Tutuka, anak Bima, pernah dilatih Batara Empu Anggajali hingga tampil sebagai ksatria perkasa. Dialah Gatotkaca, mengalahkan musuh para dewa.
"Maka Candradimuka Kampar juga akan melahirkan orang-orang berguna, orang-orang yang mampu mewujudkan mimpi menjadi kenyataan," kata Bupati Jefry Noer di Kubang Jaya, Kampar, Rabu (28/1).
Kampar menurut dia harus menunjukkan kesaktiannya menggembleng orang-orang tak mampu menjadi berjaya dalam segala bidang. Sehingga kedepannya, Kampar akan mampu menjadi daerah paling potensial baik di Provinsi Riau dan Sumatera, bahkan menjadi yang terbaik nasional.
Kembali dalam kisah perwayangan nasional, bahwa di Kawah Candradimuka tidak hanya Gatotkaca yang diciptakan menjadi ksatria perkasa. Namun juga ada dua ksatria lainnya yakni Boma Narakasura dan Satija.
Tiga kstaria itu sama pernah terjerumus dalam kawan yang penuh dengan lava ednut blegedaba yang panasnya setara dengan tujuh kali panas api. Begitu juga Kampar, kini melahirkan program yang dinamai "Tri Zero Kemiskinan".
Bupati Jefry Noer berharap melalui tiga program sakti tersebut, masyarakat dapat terbebaskan dari kamiskinan yang selama ini membelenggu, menjadi masalah terdepan sekaligus penghambat pembangunan.
"Tri Zero adalah program kesejahteraan rakyat dengan target 259.200 keluarga dapat terbebas dari kemiskinan," katanya.
Tiga program sakti itu disalurkan setiap bulannya melalui pelatihan untuk warga di tiga sektor potensial seperti pertanian, perikanan dan peternakan.
Jefry mengatakan, dalam sebulan itu ada 240 warga yang dilatih keterampilan di Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaan Swadaya (P4S) terpadu Kubang Jaya. Merekalah calon-calon Gatotkaca yang akan mampu mengalahkan ketatnya persiangan. Wisanggeni yang selamat dari ancaman kematian, serta Sitija yang sakti.
Dengan harapan, "kesaktian" per orang nantinya dapat melakukan pembinaan dan memberikan ilmu mereka terhadap seratus orang lainnya.
Dengan demikian, lanjut dia, maka akan ada 2.400 orang yang terserap dalam kesuksesan pelatihan itu. Per kelompok akan diberikan "senjata sakti" berupa pinjaman dana secara bergulir, dimana untuk pertanian itu Rp30 juta, perikanan Rp60 juta, dan peternakan sebesar Rp100 juta.
Jika setiap orang mampu mengembangkan usaha sesuai dengan bidang pembinaannya masing-masing, lanjut dia, maka per orang akan membutuhkan tenaga tambahan paling sedikit tiga orang sebagai pekerja.
"Kalau dikalikan, berarti 3 kali 2.400 ada sebanyak 7.200 orang kepala keluarga yang akan terselamatkan dari kemiskinan. Program ini ditarget sebulan telah berjalan dan sukses," katanya lagi.
Dan jika dikalikan lagi, kata Jefry, selama satu tahun berarti akan ada 86.400 keluarga miskin yang dapat meningkatkan perekonomian mereka, dan bukan tidak mungkin mereka akan menjadi pengusaha pertanian, perikanan dan peternakan yang sukses dengan omset yang besar, berlimpah.
Jefry mengatakan lagi, bahwa Program "Tri Zero Kemiskinan" di "Kawah Candradimuka" Kampar akan dijalankan selama tiga tahun dengan target maksimal akan ada 259.200 keluarga dapat terbebas dari "musuh" kemiskinan.
"Anggap saja program ini hanya berhasil 50 persen, itu artinya 129.600 keluarga telah terselamatkan. Mereka bisa terbebas dari kemiskinan," katanya.
Jefry Noer mengatakan, pihaknya sangat serius untuk memberantas kemiskinan di dearah itu dengan penerapan berbagai program kesejahteraan rakyat. Karena kemiskinan, adalah musuh utama dari pembangunan.
"Bagaimana daerah itu bisa maju jika masyarakatnya tidak memiliki keahlian, keterampilan bertarung seperti para ksatria perwayangan. Jika Gatotkaca saja mampu mengalahkan musuh para dewa, Wisanggeni sanggup besar di kawah superpanas, dan Satija yang penuh kesaktian, maka artinya tidak ada yang tak mungkin," kata dia.
Menurut dia, masalah kemiskinan adalah masalah utama yang harus diselesaikan, setidaknya dapat diminimalisasi sehingga pembangunan, perekonomian dan sektor-sektor lainnya termasuk pendidikan dan kesehatan turut terdongkrak.
Jika masyarakat sudah sejahtera, lanjut Jefry, maka taraf kehidupan mereka juga akan berubah. Memakan makanan bergizi sehingga sehat dan dapat menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang pendidikan formal yang tinggi hingga kuliah dan menjadi sarjana, sampai akhirnya menjadi ksatria yang akan membangun kawah-kawah pencetak para calon ksatria lainnya. (Advetorial/bersambung)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…