Mutaghfirin alias Boby, nelayan yang terancam penjara sembilan tahun karena ditudung melakukan pungli Rp25 ribu. (CNN Indonesia)

Senin, 12 Juni 2017 - 11:03 WIB 1960000

Gara-gara Duit Rp 25 Ribu, Nelayan ini Terancam 9 Tahun Penjara

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Mustaghfirin alias Boby tak bisa lagi menyembunyikan kegundahan hatinya. Ia dan dua kawannya yang lain harus berurusan dengan penegak hukum karena memungut uang tiket Rp 5.000 pada wisatawan yang berkunjung di Pantai Pasir Perawan, Pulau Pari, Kepulauan Seribu.

Dikutip dari CNN Indonesia, Senin (12/6/2017) disebutkan, dalam kasus ini, Boby tidak sendiri. Dua temannya yang lain sesama nelayan juga dituduh melakukan praktik pungli. Namun dakwaan keduanya berbeda dengan Boby yang dituding sebagai bos mafia pungli.

Tuntutan jaksa penuntut umum kala itu bahkan tidak tanggung-tanggung, pria 44 tahun ini didakwa dengan ancaman pidana dalam pasal 368 ayat (1) KUHP Jo pasal 55 ayat (1) KUHP dengan ancaman pidana minimal sembilan tahun penjara.

"Dari uang Rp25 ribu, terus sekarang teman kami di penjara, dituntut sampai sembilan tahun, keadilannya di mana," kata Farid (55) nelayan Pulau Pari yang hadir untuk memberi dukungan terhadap ketiga nelayan yang hari itu menjalani persidangan perdananya.

Perkara yang dialami Boby, Mastono alias Baok, dan Bahrudin alias Edo memang bermula dari uang Rp25 ribu yang mereka pungut dari pengunjung pantai.

Pungutan itu mereka anggap sebagai untuk masuk ke Pantai Pasir Perawan sebesar Rp5.000 per orang. Namun pungutan ini dinilai sebagai pungli karena tidak sesuai aturan.

Sesaat setelah meminta uang tersebut, ketiganya ditangkap karena dianggap telah melakukan praktik pungli.

Kasus kriminalisasi pada nelayan ini menurut Farid bukan yang pertama. Tahun 2014 lalu banyak nelayan yang mengalami intimidasi hingga pemenjaraan dengan kasus-kasus yang menurut dia tidak masuk akal.

Seperti yang dialami oleh warga Pulau Pari yang lain, Dian Astuti. Dian tiba-tiba menerima somasi dari sebuah perusahaan di pulau tersebut untuk mengosongkan kediamannya.

Padahal kala itu, suami Dian, Edi Priadi seorang nelayan Pulau Pari baru saja selesai menjalani hukumam empat bulan penjara setelah disangka menduduki secara ilegal lahan milik perusahaan itu.

"Somasi dari perusahaan isinya saya harus mengosongkan rumah tersebut kalau tidak mengosongkan saya dikenakan pidana empat tahun penjara," kata Dian kepada CNNIndonesia.com.

Somasi itu bukan yang pertama. Maret lalu, dia juga disomasi bahkan didatangi langsung oleh petugas keamanan perusahaan yang mengklaim sebagai pemilik lahan.

Tak berhenti disitu, Dian bahkan sempat ditawari uang oleh petugas kecamatan agar mau meninggalkan rumah dan tanahnya.

"Wakil kecamatan membawa uang Rp 20 juta dan saya diminta menandatangi surat bahwa saya terima uang. Saat itu saya takut masih menunggu suami saya keluar dari penjara," katanya.

Suaminya, Edi, pada 2016 lalu dilaporkan ke polisi perusahaan karena dianggap menduduki lahan milik perusahaan. Padahal Edi merupakan salah satu warga pertama yang bermukim di Pulau Pari sejak tahun 1990.

Pulau itu secara sah merupakan tanah negara karena tidak ada yang memilikinya. Edi pun diperiksa polisi dan ditahan. Dalam persidangan, BPN Jakarta Utara menyatakan rumah Edi bukan termasuk tanah milik perusahaan. Namun tetap saja Edi dinyatakan melanggar Pasal 167 KUHP.

Edi pun baru bebas menjalani hukuman pada Rabu pekan lalu.

"Pak RW yang dari tahun 1980 sampai 1994 sudah menyatakan di atas materai dia tidak pernah melihat ada warga yang menjual tanah ke perusahaan, tidak ada juga pengukuran tanah oleh BPN untuk buat sertifikat," kata Dian.

Perlakuan tidak adil, kriminalisasi, hingga pemaksaan secara paksa untuk mengosongkan tempat tinggal yang dialami oleh para nelayan di Pulau Pari ini memang telah berlangsung selama lebih dari tiga tahun.

Edi, Dian, Boby, Mastono, hingga Bahrudin adalah segelintir dari sekian banyak nelayan kecil yang mendapat perlakuan semena-mena dari pihak penegak hukum mapun korporasi yang kini menduduki sebagian besar wilayah di salah satu pulau yang berada di kawasan Pulau Seribu itu.

Kini, Boby pun hanya mampu menunggu kelanjutan dan kebaikan hati majelis hakim untuk pertaruhan nasibnya selama sembilan tahun ke depan. Hari ini ia dan dua rekannya akan menjalani sidang lanjutan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. (cnn)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM

100000000
muhardi

Berita Terkini

Hary Tanoe Diperiksa Polisi Terkait 'SMS Gelap'

Senin, 12 Juni 2017 - 10:40 WIB

Akhirnya...Banding Vonis Ahok Resmi Dicabut

Kamis, 08 Juni 2017 - 19:56 WIB

Humas Polda Riau Sambangi RIAUBOOK.COM

Selasa, 06 Juni 2017 - 11:18 WIB

Persekusi, Karena 'Olok-olok' Ormas

Minggu, 04 Juni 2017 - 12:52 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia