RIAUBOOK.COM - Negara-negara di garis katulistiwa termasuk Indonesia harusnya bisa lebih aman dari serangan wabah virus corona (covid-19), dan itu bisa belajar dari 'kematian' Ekuador, wilayah tropis yang ditembus 'mahkota' Eropa.
Pertama yang penting dilakukan pemerintah Indonesia adalah menghentikan arus manusia antarnegara, terutama dari negara-negara yang memiliki empat musim meliputi Tiongkok, Rusia, Amerika Serikat dan Eropa.
Negara-negara itu saat ini menjadi wilayah terparah dalam paparan virus misterius yang berkembang sejak akhir tahun lalu (2019).
Amerika sejauh ini tercatat sebagai negara dengan kasus tertinggi yakni 1.346.771 kasus, 80.027 kematian, dan 237.022 sembuh.
Disusul sejumlah negara di Eropa meliputi; Spanyol ada 262.783 kasus, 26.478 kematian, dan 173.157 sembuh, kemudian Italia: 218.268 kasus, 30.395 kematian, dan 103.031 sembuh, Inggris: 215.260 kasus, 31.587 kematian, Perancis: 176.658 kasus, 26.310 kematian dan 56.038 sembuh, Jerman: 171.324 kasus, 7.549 kematian dan 143.300 sembuh.
Kemudian Rusia: dengan 198.676 kasus, 1.827 kematian, dan 31.916 sembuh.
Sementara Tiongkok yang menjadi titik awal kemunculan virus mahkota melaporkan kasusnya ada sebanyak 82.901 orang terinfeksi, sebanyak 78.120 orang sembuh, dan 4.633 meninggal dunia.
Namun sejauh ini jumlah kasus virus corona di Tiongkok masih diragukan mengingat adanya indikasi penyembunyian data dan informasi dari pemerintah setempat.
Tertular Eropa
Ekuador kini menjadi salah satu dari sejumlah negara katulistiwa yang memiliki kasus virus mahkota terparah di dunia.
Kasus covid-19 pertama masuk ke Ekuador terdeteksi dibawa oleh seorang pensiunan guru berusia 71 tahun bernama Bella Lamilla.
"Patient Zero" tersebut sebelumnya menetap atau tinggal di Spanyol dan baru kembali ke kampung halaman di kawasan Guayaquil, Ekuador pada Februari 2020.
Saat itu adalah hari paling menyeramkan di daratan Eropa termasuk Spanyol, ketika pandemi virus corona tengah menyebar luas saat musim dingin di wilayah itu.
Bella adalah satu pasien positif covid-19 yang terdeteksi di Ekuador, namun pemerintahan setempat tidak memastikan dia sebagai pembawa 'mahkota' satu-satunya mengingat arus manusia antarnegara di Ekuador tetap dibuka selama beberapa bulan kedepan setelah kepulangan Bella.
Budaya santai masyarakat Ekuador dalam menghadapi wabah covid-19 menjadi faktor utama berkembangnya virus mematikan itu di kawasan tropis tepian Eropa itu.
Saat ini Ekuador mencatat ada puluhan ribu kasus covid-19 dengan ribuan kematian, padahal penduduk Ekuador hanya berjumlah 17 juta jiwa.
Hantikan Arus Manusia Antarnegara
Pelajaran pertama yang harus diambil dari Ekuador untuk Indonesia adalah; penghentian arus manusia dari negara-negara dengan kasus covid-19 terparah seperti Tiongkok, AS, Eropa dan Rusia.
Dengan demikian, pemerintah Indonesia harus berani mengambil tindakan penghentian sementara kerjasama investasi yang melibatkan tenaga kerja asing termasuk Tiongkok dan AS.
Potong Gaji Pejabat Rampas Orang Kaya
Pelajaran lainnya yang harus diambil dari kondisi buruk Ekuador adalah melakukan subsidi besar-besaran ke masyarakat yang terkena imbas pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Sama seperti Indonesia, Ekuador juga mengalami pukulan ekonomi yang begitu buruk selama pandemi covid-19 beberapa bulan terakhir.
Langkah terdepan dilakukan Presiden Ekuador Lenin Moreno yang secara sukarela meminta agar gajinya dipotong separuh untuk mengurangi beban ekonomi yang buruk.
Sebagai gambaran, gaji presiden Ekuador sebesar 5.000 dolar AS atau sekitar Rp74 juta, jika dipotong setengah menjadi Rp37 juta. Dengan demikian gaji PNS lain tak boleh berada di atas Rp37 juta.
Kebijakan itu berimbas positif, Ekuador berhasil menekan beban gaji pejabat dan PNS untuk kemudian dialihkan ke kepentingan pemerintah dalam upaya mengatasi wabah virus corona.
Tidak hanya pejabat, pemerintah Ekuador juga mengambil langkah mendata secara cermat orang-orang kaya di negara itu untuk kemudian 'merampas' sebagian harta mereka demi subsidi masyarakat kecil yang terkena dampak kebijakan pembatasan sosial.
Jika kebijakan itu dapat dilakukan di Indonesia, maka pemerintah dan masyarakat akan sangat terbantu, terutama bagi mereka yang terkena dampak kebijakan PSBB.
Untuk diketahui, tahun lalu Indonesia masuk 25 besar dalam daftar populasi orang terkaya terbesar di dunia dengan jumlah menembus 129 ribu orang pada 2018.
Para orang terkaya atau HNWI versi World Wealth Report adalah mereka yang memiliki kekayaan di atas USD 1 juta atau Rp 14,1 miliar (USD 1 = Rp 14.116). Yang dihitung adalah harta yang bisa diinvestasikan (investable asset) seperti seperti uang, tabungan, dan saham.
'Perampasan' harta orang-orang kaya itu akan menjadi nilai yang sangat tinggi, bahkan bisa menembus ratusan triliun yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kecil yang menjadi korban kebijakan pembatasan sosial.
Hal itu menjadi penting mengingat wabah virus 'mahkota' di Indonesia sejauh ini terus meluas dengan jumlah kasus yang telah menembus angka lebih 14.032 orang terjangkit, 973 orang meninggal dunia, dan 2.698 orang sembuh.
Namun, untuk 'merampas' sebagian harta orang-orang kaya itu, dituntut keberanian seorang kepala negara, dimulai dari kebijakannya untuk memangkas gajinya sendiri hingga merambat ke bawahan.
Lakukan sebelum semuanya terlambat...!
oleh fazar muhardi


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…