RiauBook - Balai Penelitian Tanaman Sayuran (Balitsa) mengimbau masyarakat untuk mewaspadai sayuran yang disemprotkan pupuk kimia sejenis pestisida, karena diindikasikan mengandung racun hingga membahayakan kesehatan.
"Saat ini sangat banyak sayuran yang disemprotkan pestisida dan saya miris melihatnya karena itu adalah racun yang bahaya bagi kesehatan yang mengonsumsinya," kata Kepala Balitsa Dr Liferdi kepada pers saat berkunjung ke Desa Kubang Jaya, Siak Hulu, Kampar, Rabu (5/8/2015) sore.
Namun mengapa sulit dihentikan? Menurut dia itu karena banyak pihak yang berkepentingan agar pestisida kimianya tetap laku di pasaran. Salah satunya dengan dijual murah dan menghambat berbaga program pemerintah yang mengancam distribusi racun tersebut.
Untuk dapat diketahui, lanjut dia, sebenarnya masyarakat harus jeli dalam memilih pupuk untuk menyuburkan tanaman khususnya hortikultura.
"Salah satunya adalah dengan penggunaan pupuk organik dan biourine yang ternyata bisa bahkan lebih baik dari pestisida zat kimia berbaya. Ini yang kami harapkan dari Kampar, mengembangkan biourine untuk kemudian menyadarkan petani dan masyarakat tentang baiknya penggunaannya untuk tanaman khususnya sayur-sayuran," katanya.
Bupati Kampar Jefry Noer mengatakan kedepan Kampar akan mampu memproduksi jutaan liter biourine lewat Program Rumah Tangga Mandiri Pangan dan Energi (RTMPE).
Ia mengatakan, ditargetkan tahun ini akan ada 2.500 rumah tangga yang akan menjalankan RTMPE. Dan jika dikalikan 1.000 saja, maka setiap bulannya akan tersedia 2,5 juta liter biourine.
"Itu artinya, untuk produksi biourine jangan khawatir karena telah dipersiapkan dengan sangat matang lewat Program RTMPE," katanya.
Untuk diketahui, saat ini Pemda Kampar mengedepankan Program RTMPE untuk mengatasi maslaha kemiskinan, pengangguran dna rumah kumuh.
Untuk membangun Program RTMPE di atas lahan 1.000 meter persegi, Jefry Noer mengatakan hanya dibutuhkan dana awal sebesar Rp120 juta. Dimana Rp60 juta adalah dana untuk membeli enam ekor sapi.
Dalam pekarangan RTMPE, juga akan ada upaya pengelolaan urine sapi menjadi biourine yang biaya instalasinya mencapai Rp15 juta. Begitu juga dengan untuk pengelolaan kotoran sapi menjadi biogas, dibutuhkan uang sebesar Rp15 juta untuk perlengkapannya.
Selanjutnya di atas lahan yang sama, kata dia, juga akan dipelihara sebanyak seratus ekor ayam Alpu atau ayam petelur yang akan dikawinkan dengan sepuluh pejantan jenis bangkok. Modalnya, untuk seratus ekor ayam Alpu adalah Rp7,5 juta dan Rp1,5 juta untuk pembelian sepuluh ekor ayam bangkok.
Lalu untuk membangun kandang ayam tersebut, menurut dia, dibutuhkan dana sebesar Rp5 juta. Ditambah dengan pembuatan kolam lele sebesar Rp5 juta. Dan terakhir adalah untuk pembelian bibit ikan lele, bawang serta cabai yang nilainya sebesar Rp11 juta.
"Namun jangan khawatir, modal sebesar itu akan kembali dalam jangka waktu yang singkat. Bahkan hanya setahun. Karena hasil dari program ini mencapai Rp15 juta bahkan Rp25 juta setiap bulannya," kata dia.
Bagaimana caranya? Kepala Dinas Peternakan Kampar Zulia Dharma merincikan. Untuk diketahui, bahwa dari enam ekor sapi tersebut, setiap bulannya akan menghasilkan 500 hingga 1.000 liter urine yang kemudian akan diolah menjadi biourine yang akan dijual seharga Rp15 ribu per liter. Dengan demikian, dari kencing sapi saja, keluarga RTMPE sudah menerima hasil lebih kurang Rp7,5 juta hingga Rp15 juta setiap bulannya.
Proses pengelolaan urine sapi hingga menjadi biourine menurut dia juga tidak begitu rumit. Bagaimana polanya?
Zulia memaparkan; bahwa untuk memproses urine sapi menjadi biourine dibutuhkan waktu selama 14 hari. Delapan hari pertama dilakukan fermentasi untuk menghilangkan racun yang terkandung dalam urine sapi.
Setelah itu kemudian urine dimasukkan ke dalam wadah sejenis drum. Pada wadah pertama, urine tersebut dicampurkan dengan berbagai jenis rempah, seperti jahe, temulawak, kunyit, temuireng, samuloto dan lainnya. Setelah didiamkan selama tiga hari, kemudian disaring ke drum kedua hingga didiamkan lagi selama tiga hari baru kemudian biourine dapat dimanfaatkan dan dijual.
Biogas
Pemasukan tambahan lainnya ada pada pengelolaan kotoran sapi menjadi biogas. Bagaimana pola pengelolaannya?
Zulia memaparkan, pada tahap awal, kotoran sapi dimasukkan terlebih dahulu ke dalam wadah yang telah disediakan. Kemudian disaring ke dalam tangki besar yang menjadi satu instalasi untuk kemudian disaring menjadi biogas dengan pemanfaatan langsung. "Biogas itu digunakan untuk berbagai keperluan rumah tangga seperti penerangan, listrik dan sebagai bahan bakar memasak," katanya.
Selanjutnya, kotoran yang telah disaring menjadi biogas itu, demikian Zulia, dipindahkan ke dalam wadah dengan terlebih dahulu dipisahkan antara yang padat dan yang cair.
Untuk kotoran sisa olahan biogas itu, kata Zulia, kemudian dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Setiap bulannya, dari kotoran padat saja, menghasilkan satu ton. Jika dijual Rp1.000 per kilogramnya, maka ada penghasilan tambahan bagi keluarga RTMPE sebesar Rp1 juta.
Kemudian dari kotoran cair yang juga akan diolah menjadi pupuk organik. Menurut dia dapat menghasilkan 150 hingga 250 liter setiap bulannya. "Anggap saja rata-rata menghasilkan 150 liter per bulan, jika dikalikan Rp10.000 per liternya, maka sudah menambah penghasilan sebesar Rp1,5 juta," katanya.
Dengan demikian, kata Zulia, dari limbah atau kotoran sapi saja, keluarga RTMPE sudah mendapatkan penghasilan rata-rata Rp10 juta setiap bulannya. "Bayangkan, hanya dari limbah atau kotoran sapi yang tadinya dianggap tak bernilai, ternyata mampu untuk membuat masyarakat menjadi kaya raya dan ini sudah terbukti," kata dia.
Untuk enam sapi yang dipelihara, lanjut Zulia, bisa menjadi tabungan dan investasi luar biasa. Karena enam ekor sapi Bali tersebut, akan menghasilkan keturunan (anak) enam ekor setiap tahunnya. Jika dalam waktu tiga tahun, maka tabungannya akan berkembang atau bertambah sebanyak 18 ekor.
Untuk diketahui, katanya, harga sapi setiap tahunnya tidak pernah turun atau terus naik. Jika sekarang dibeli dengan harga Rp10 juta per ekor, maka tahun depan bisa lebih mahal lagi. Anggap saja hingga tiga tahun ke depan harganya tetap, maka ketika itu, keluarga RTMPE sudah mendapatkan hasil sebesar Rp180 juta.
"Namun jika sapi tersebut merupakan sapi masyarakat dari bantuan pemerintah yang harus digulirkan, maka pada keturunan tahun pertama harus digulirkan. Namun untuk anak kedua di tahun kedua dan seterusnya menjadi tabungan masa depan, untuk naik haji," kata dia.
Ayam Alpu
Hasil yang tak kalah juga dapat didatangkan dari ternak ayam Alpu. Bagaimana caranya dan berapa hasil yang didapat?
Zulia kembali menjelaskan, dalam pemeliharaan ayam petelur, dibutuhkan kandang yang terpisah hingga membentuk sepuluh kotak yang berada dalam kandang utama. Isi totalnya, yakni seratus ekor ayam Alpu dan sepuluh ekor pejantan bangkok.
Setiap satu ekor ayam bangkok, kemudian digabungkan dengan sepuluh ekor ayam Alpu. Mengapa demikian? karena telur perkawinan silang tersebut akan menghasilkan telur dengan embrio yang dapat ditetaskan. Hargaya juga tentu berbeda dengan telur ayam ras pada umumnya.
Setiap harinnya, demikian Zulia, dari seratus ekor ayam Alpu itu, dihasilkan 50 hingga 75 butir telur. Anggap saja rata-rata 50 butir,
jika dikalikan Rp2.000 per butir, pemasukan tambahan keluarga RTMPE adalah sebesar Rp100.000x30 totalnya Rp3.000.000 setiap bulannya.
"Anggap saja dana sebesar Rp1 juta habis untuk biaya pakan, maka masih tersisa Rp2 juta yang dapat ditabung. Dengan demikian, dari peternakan saja, keluarga RTMPE akan mendapakan penghasilan Rp12 juta setiap bulannya plus tabungan anak sapi," kata dia. Ternak Lele
Tambahan pemasukan lainnya kata Zulia ada pada ternak lele. Kolam lele yang dibangun di kawasan RTMPE adalah seluas 4x6 meter yang dapat di isi dengan 8.000 ekor bibit.
Bibit lele tersebut, lanjutnya, dapat dipanen setiap dua bulan dengan perkiraan hasil rata-rata Rp3,5 juta per dua bulan atau per bulannya Rp1.750.000.
Mengapa dipilih bibit lele? Menurut Zulia lele merupakan ikan dengan pakan sederhana. Salah satunya adalah dengan pengelolaan limbah pupuk organik yang ternyata bisa untuk dijadikan pakannya. Ini menghemat cukup besar biaya mengingat harga pakan lele buatan pabrik yang mahal.
Tanaman Bawang
Pemasukan keluarga RTMPE lainnya kata Zulia, adalah dari tanaman bawang dan cabai merah. Lahan yang disediakan dalam kawasan Program RTMPE untuk tanaman holtikultura ini adalah 400 meter per segi dengan pola tanam tumpang sari.
"Bibit yang dibutuhkan untuk bawang merah lebih kurang 50 kilogram dengan hasil panen mencapai 500 kilogram. Sebagian hasilnya atau sebanyak 100 kg dapat dijual dan sebagian dapat dikonsumsi hingga menunggu hasil panen selanjutnya selama 45 hari," kata dia.
Untuk bawang merah, lanjut kata dia, dapat dipasarkan dengan harga rata-rata Rp20 ribu per kilogram. Kalikan 400 kg, maka tambahan pemasukan yang didapat keluarga RTMPE adalah sebesar Rp8 juta selama dua bulan atau Rp4 juta jika dibagi setiap bulannya. Yang terpenting menurut Zulia, untuk tanaman jenis holtikultura itu, dapat menggunakan pupuk organik hasil dari pengelolaan keluarga RTMPE. Dan itu telah terbukti hasilnya, sangat memuaskan. Bahkan lebih baik dari penggunaan pupuk kimia yang nyata-nyata dapat merusak kesuburan tanah.
Terlebih, kata dia, biourine yang dihasilkan merupakan biang, dimana satu liternya dapat dicampurkan dengan 10 liter air untuk tanaman holtikultura dan untuk tanaman sejenis kelapa sawit satu liter biourine dicampur 5 liter air.
"Itulah perincian biaya pemasukan dari Program RTMPE, yakni antara Rp15 juta hingga Rp25 juta setiap bulannya. Dengan demikian, modal sebesar Rp120 juta tentunya akan cepat kembali dan masyarakat miskin, kedepan akan menjadi kaya raya," katanya. (mc)
li menjelaskan, dalam pemeliharaan ayam petelur, dibutuhkan kandang yang terpisah hingga membentuk sepuluh kotak yang berada dalam kandang utama. Isi totalnya, yakni seratus ekor ayam Alpu dan sepuluh ekor pejantan bangkok.
Setiap satu ekor ayam bangkok, kemudian digabungkan dengan sepuluh ekor ayam Alpu. Mengapa demikian? karena telur perkawinan silang tersebut akan menghasilkan telur dengan embrio yang dapat ditetaskan. Hargaya juga tentu berbeda dengan telur ayam ras pada umumnya.
Setiap harinnya, demikian Zulia, dari seratus ekor ayam Alpu itu, dihasilkan 50 hingga 75 butir telur. Anggap saja rata-rata 50 butir,
jika dikalikan Rp2.000 per butir, pemasukan tambahan keluarga RTMPE adalah sebesar Rp100.000x30 totalnya Rp3.000.000 setiap bulannya.
"Anggap saja dana sebesar Rp1 juta habis untuk biaya pakan, maka masih tersisa Rp2 juta yang dapat ditabung. Dengan demikian, dari peternakan saja, keluarga RTMPE akan mendapakan penghasilan Rp12 juta setiap bulannya plus tabungan anak sapi," kata dia.
Ternak Lele
Tambahan pemasukan lainnya kata Zulia ada pada ternak lele. Kolam lele yang dibangun di kawasan RTMPE adalah seluas 4x6 meter yang dapat di isi dengan 8.000 ekor bibit.
Bibit lele tersebut, lanjutnya, dapat dipanen setiap dua bulan dengan perkiraan hasil rata-rata Rp3,5 juta per dua bulan atau per bulannya Rp1.750.000.
Mengapa dipilih bibit lele? Menurut Zulia lele merupakan ikan dengan pakan sederhana. Salah satunya adalah dengan pengelolaan limbah pupuk organik yang ternyata bisa untuk dijadikan pakannya. Ini menghemat cukup besar biaya mengingat harga pakan lele buatan pabrik yang mahal.
Tanaman Bawang
Pemasukan keluarga RTMPE lainnya kata Zulia, adalah dari tanaman bawang dan cabai merah. Lahan yang disediakan dalam kawasan Program RTMPE untuk tanaman holtikultura ini adalah 400 meter per segi dengan pola tanam tumpang sari.
"Bibit yang dibutuhkan untuk bawang merah lebih kurang 50 kilogram dengan hasil panen mencapai 500 kilogram. Sebagian hasilnya atau sebanyak 100 kg dapat dijual dan sebagian dapat dikonsumsi hingga menunggu hasil panen selanjutnya selama 45 hari," kata dia.
Untuk bawang merah, lanjut kata dia, dapat dipasarkan dengan harga rata-rata Rp20 ribu per kilogram. Kalikan 400 kg, maka tambahan pemasukan yang didapat keluarga RTMPE adalah sebesar Rp8 juta selama dua bulan atau Rp4 juta jika dibagi setiap bulannya.
Yang terpenting menurut Zulia, untuk tanaman jenis holtikultura itu, dapat menggunakan pupuk organik hasil dari pengelolaan keluarga RTMPE. Dan itu telah terbukti hasilnya, sangat memuaskan. Bahkan lebih baik dari penggunaan pupuk kimia yang nyata-nyata dapat merusak kesuburan tanah.
Terlebih, kata dia, biourine yang dihasilkan merupakan biang, dimana satu liternya dapat dicampurkan dengan 10 liter air untuk tanaman holtikultura dan untuk tanaman sejenis kelapa sawit satu liter biourine dicampur 5 liter air.
"Itulah perincian biaya pemasukan dari Program RTMPE, yakni antara Rp15 juta hingga Rp25 juta setiap bulannya. Dengan demikian, modal sebesar Rp120 juta tentunya akan cepat kembali dan masyarakat miskin, kedepan akan menjadi kaya raya," katanya.
Masuk Surga
Bupati Kampar Jefry Noer dalam menjalankan Program RTMPE juga mengharapkan masyarakat untuk mendapatkan waktu lebih luang dalam menjalankan ibadah.
Program tersebut menurut dia dapat mendisiplinkan waktu secara massal, khususnya waktu untuk beribadah, tanpa harus banting tulang. Bagaimana bisa?
Jefry menjelaskan, pola kerja dalam Program RTMPE tidak begitu sulit. Karena dianjurkan lahan 1.000 meter per segi yang digarap berada di belakang rumah, sehingga pengelolaannya menjadi gampang.
Pekerjaan dapat dimulai seusai shalat Subuh. Namun dianjurkan sebelum turun bekerja, luangkan waktu untuk berzikir hingga pukul 06.00 WIB. Pekerjaan ini juga akan menyehatkan karena dilakukan saat sinar matahari pagi. Sesuai dengan anjuran dan saran para pakar kesehatan.
Jika keluarga itu telah memiliki anak, lanjut Jefry, pemungutan telur bisa meminta pertolongannya. Ayahnya kemudian bisa membersihkan kandang sapi. Sementara isteri, memasak untuk menyiapkan sarapan.
Selesai sarapan, anak pergi ke sekolah dan ayah dapat kembali bekerja mencari pakan sapi, kemudian memberihkan lahan. Hingga kembali beristirahat saat matahari telah berada di atas kepala sekitar pukul 11.00 - 12.00 WIB.
Selesai bekerja, katanya, kemudian masuk ke dalam rumah, bersihkan badan, shalat Zuhur dan selanjutnya makan siang. Hidangan telah disiapkan isteri dari hasil pekarangan RTMPE.
"Mau telur, daging ayam, cabai, bawang dan ikan lele, semuanya ada. Tinggal beli garam saja sama beras kemudian gula," katanya.
Selesai makan, Jefry menyarankan keluarga RTMPE untuk tidur siang, beristirahat sampai tiba waktu Azhar. Selesai shalat, juga jangan
langsung bekerja, baiknya membaca Al Quran untuk perdalam ilmu agama. Baru setelah itu kembali bekerja karena matahari telah turun dan tidak lagi panas. Pekerjaan dapat dilakukan hingga pukul 17.30 WIB kemudian
bersihkan badan dan shalat Magrib.
"Hal itu dilakukan terus setiap harinya hingga masyarakat benar-benar madani. Tidak hanya agama dan ekonominya yang kuat, namun menjadi masyarakat yang beradab dalam membangun, menjalani, dan memaknai kehidupannya," kata dia.
Itulah yang menurut Jefry, dibutuhkan para pedayung andal yang kuat agar perahu besar berbendera RTMPE sampai pada muara madani. Tempat dimana masyarakatnya merasakan ketentraman dan ketenangan di dunia maupun di akhirat. (mc)


Terkait
Program RTMPE Hentikan Impor Sapi
RiauBook - Program integrasi ternak dan perkebunan yang dijalankan Pemerintah Daerah Kabupaten Kampar Provinsi Riau lewat Program Rumah Tangga Mandiri…
Kampar Bisa Berjaya dengan Bawang
RiauBook - Pihak Kementerian Pertanian dijadwalkan berkunjung ke Kabupaten Kampar untuk meninjau kawasan yang dibuat sebagai percontohan program ketahanan pangan…
Rupiah Menguat ke Level Rp13.484 per Dolar AS
RiauBook - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Selasa pagi (4/8/2015) menguat, naik 21 poin menjadi Rp13.484…
Frida KDI Hibur Ribuan Warga Bengkalis
RiauBook - Perhelatan Bengkalis Expo 2015 dalam rangka Hari Jadi Bengkalis ke-503 resmi ditutup oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Bengkalis H…
Dibuka Bupati, Warga Sesaki Bengkalis Expo
RiauBook - Bupati Bengkalis Herliyan Saleh pada Rabu malam (30/7/2015) membuka Bengkalis Expo 2015, sempena Hari Jadi Bengkalis ke-503. Pembukaan…
RTMPE Putuskan Ketergantungan Sapi dari Luar
RiauBook - Pemerintah Kabupaten Kampar Provinsi Riau menargetkan dalam waktu dekat daerah itu akan swasembada daging dan sapi hingga memutuskan…
Di Kampar Wajib Gunakan Pupuk Organik
RiauBook - Pemerintah Kabupaten Kampar Provinsi Riau akan mewajibkan seluruh perusahaan pertanian dan perkebunan yang beroperasi di wilayah itu untuk…
Loyo Lagi, Rupiah Kini Rp13.445 per Dolar AS
RiauBook - Nilai tukar rupiah dalam transaksi antarbank di Jakarta pada Kamis pagi (30/7/2015) melemah, turun tiga poin menjadi Rp13.445…
Para Pekerja Mulai Ramai Tinggalkan Riau
RiauBook - Otoritas Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru menyebutkan, arus mudik Lebaran tahun ini mulai menunjukkan grafik…
Kami Berpengalaman Hadapi Kabut Asap
RiauBook - PT Angkasa Pura II Cabang Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru yakin abut asap dari kebakaran hutan…
Produksi Kedelai Riau Meningkat 18 Persen
RiauBook - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau memprediksi produksi kedelai Riau dalam Angka Ramalan (ARAM I) 2015, tercatat sebesar…
Siap Tambah 112 Tabung Elpiji Melon per Hari
RiauBook - PT Pertamina (Persero) Marketing Operation Region (MOR) I siap menambah pasokan gas elpiji 3 kilogram sekitar 10 persen…
Penukaran Uang Pecahan Capai Rp 5 Miliar
RiauBook - Berdasar data Bank Indonesia Kantor Wilayah Provinsi Riau, jumlah penukaran uang pecahan menjelang Idul Fitri 1436 H rata-rata…
Jalur Riau-Sumbar Penyedot BBM Terbesar
RiauBook - Jlan lintas Riau-Sumatera Barat menjelang Lebaran tahun ini diperkirakan menyedot bahan bakar minyak subsidi paling besar karena intensitas…
Pekan Depan Harga Elpiji 3 Kg Naik Rp 2.000
RiauBook - Pemerintah Kota Pekanbaruakan menaikkan Harga Eceran Tertinggi elpiji tiga kilogram sebesar Rp950 per tabung, sesuai dengan arahan Kementerian…
Terima THR, Ramai-ramai Tebus Gadai di Dumai
RiauBook - PT Pegadaian Cabang Dumai mengungkapkan, jelang Hari Raya Idul Fitri 2015 pihaknya melayani banyak permintaan transaksi penebusan gadai…
Firdaus MT Tawarkan 6 Pasar ke Investor
RiauBook - Pemerintah Kota Pekanbaru mengundang investor yang berminat membangun enam pasar tradisional agar menjadi bernilai bisnis dan ekonomis.
Produksi Padi Riau Capai 385,4 Ribu Ton
RiauBook - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Riau menyatakan Angka Tetap (ATAP) yang dihasilkan berdasarkan realisasi data pada Januari-Desember 2014,…
Pulang Kampung, Waspadai Calo Tiket
RiauBook - Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Pekanbaru menghimbau agar masyarakat mewaspadai calo tiket mudik, guna menciptakan kenyamanan pulang…
Selama Ramadhan, Pekanbaru Sedia 120 Sapi per Hari
RiauBook - Dinas Pertanian dan Peternakan Kota Pekanbaru menyiapkan stok 120 sapi per hari guna memenuhi kebutuhan daging warga selama…
Populer
Tim Gabungan Musnahkan 145 Rakit Tambang Ilegal di Sungai Kuantan
Polisi Selidiki Penemuan Mayat Pria di Pinggir Jalan Lintas Lubuk Jambi - Pucuk Rantau
Kejahatan Korupsi Pemerasan Abdul Wahid Menggunakan Sistem Berlapis & Terorganisir
Nasional
Rupiah Makin Hancur, Jangankan Hadapi Dolar AS, Lawan Dolar Singapura Pun Keok
RIAUBOOK.COM, JAKARTA - Rupiah sepanjang hari ini mengalami tekanan terhadap dolar, tak hanya dolar Amerika Serikat (AS), melainkan juga dolar…
SMSI Dukung Asosiasi Dosen Perjuangkan Kelayakan Gaji Dosen
RIAUBOOK.COM - Asosiasi Dosen Indonesia (ADI) saat ini tengah memperjuangkan kesejahteraan dosen di Mahkamah Konstitusi (MK) melalui uji materi Undang-Undang…
Internasional
Drama Adu Penalti di Puskas Arena: PSG Taklukkan Arsenal dan Angkat Trofi Liga Champions!
RIAUBOOK.COM - Paris Saint-Germain (PSG) akhirnya menahbiskan diri sebagai raja sepak bola Eropa. Dalam partai final Liga Champions yang…
Skandal Agen Intelijen, Terjerat Kasus Penimbunan Emas Rp713 Miliar dan Pemalsuan Identitas
RIAUBOOK.COM, VIRGINIA - Dunia intelijen Amerika Serikat tengah diguncang skandal besar setelah seorang mantan perwira senior CIA, David Rush,…
Wisata dan Gaya Hidup
Tiga Pemenang Duta Muslimah Preneur Riau 2026 Resmi Terpilih, Siap Gerakkan Ekonomi Lokal
RIAUBOOM.COM - Pengurus Wilayah Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (PW IPEMI) Provinsi Riau sukses menggelar puncak pemilihan Duta Muslimah…
Ini Cara Orang Pekanbaru Sambut Ramadan, SF Hariyanto: Dengan Hati Bersih Jiwa Lapang
RIAUBOOK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, secara resmi membuka rangkaian perayaan tradisi Petang Belimau Kota Pekanbaru yang…
Tari Zapin 6 Ribu Peserta Pecah Rekor Dunia, Plt Gubernur: Riau Memilih Untuk Maju Tanpa Tercerabut
RIAUBOOK.COM - Sebanyak 6.000 penari menyatu dalam satu denyut nadi, mempersembahkan Tari Zapin Masal yang bukan sekadar tarian,…
Opini
Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…
Golkar Riau Akan Dipimpin Seorang Pejuang, Bukan Petarung
Goresan; Nofri Andri Yulan, S.Pi (Generasi Muda Partai Golkar)1. PI (Parisman Ikhwan) didukung penuh oleh Ketua DPD I Partai Golkar…
Refleksi SMSI Akhir Tahun 2024: Pilar Indonesia Emas 2045
RIAUBOOK.COM, JAKARTA - Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) menyampaikan catatan akhir tahun 2024 dengan menyoroti kiprah Presiden Prabowo Subianto dalam…
Olahraga
Drama Adu Penalti di Puskas Arena: PSG Taklukkan Arsenal dan Angkat Trofi Liga Champions!
RIAUBOOK.COM - Paris Saint-Germain (PSG) akhirnya menahbiskan diri sebagai raja sepak bola Eropa. Dalam partai final Liga Champions yang…
Bakal Disulap Jadi Pusat Olahraga Riau, SF Hariyanto Instruksikan KONI dan 64 Cabor Pindah ke Stadion Utama
RIAUBOOK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, bergerak cepat untuk menyelamatkan dan mengoptimalkan aset daerah. Stadion Utama…
Veda Ega Pratama Menggila di Le Mans: Tembus 5 Besar Dunia dan Jadi Penguasa Asia Tenggara!
RIAUBOOK.COM, LE MANS - Geliat pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, di panggung Kejuaraan Dunia Moto3 2026 kian tak…
Pariwisata
Tiga Pemenang Duta Muslimah Preneur Riau 2026 Resmi Terpilih, Siap Gerakkan Ekonomi Lokal
Ini Cara Orang Pekanbaru Sambut Ramadan, SF Hariyanto: Dengan Hati Bersih Jiwa Lapang
Tari Zapin 6 Ribu Peserta Pecah Rekor Dunia, Plt Gubernur: Riau Memilih Untuk Maju Tanpa Tercerabut
LAM Riau: Keberagaman Budaya Jadi Sumber Kekuatan, Bukan Sumber Perpecahan
Pendidikan
Tegas! Disdik Riau Jalankan Instruksi Plt Gubernur, Sekolah Wajib Kembalikan Kelebihan Uang Seragam
SMSI Dukung Asosiasi Dosen Perjuangkan Kelayakan Gaji Dosen
Fokus Mengajar, Plt Gubernur Riau SF Hariyanto Larang Kepala Sekolah 'Main Proyek'
Riau Ukir Prestasi Nasional: Raih Predikat Sangat Memuaskan dalam Tata Kelola Arsip Terbaik Indonesia