Riau Book - Dua tahun sudah Presiden Joko Widodo bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla berkuasa. Dua tahun pula mereka bertahta di atas bangsa yang terpilah. Yang lelah menunggu kejatuhannya dan yang bersuka menanti kedatangannya, yang menganggapnya tak berbuat apa-apa dan yang senang dengan perubahan yang nyata di sekitarnya. Yang setia menelisik setiap salah katanya dan yang menyambut hanya yang baik-baik dari dirinya.
Dalam bahasa media sosial yang sungguh bebas dan penuh satire: para kecebong berjingkrak melihat hari terang yang disibak sang presiden, tapi para kampret yang bergelantungan di pepohonan hanya terbangun di kegelapan malam menunggu saat untuk keluar mengerat buah yang hampir ranum.
Begitulah.
Dua tahun Jokowi dan JK adalah duapuluh empat bulan berdiri di panggung dan rakyat menjadi penonton yang terbelah. Jika panjang umur dan tiada aral melintang, suasana seperti ini saya kira akan menyusut perlahan seiring dengan waktu dan daya tahan tubuh ... #eh maksud saya, sampai 2019 ketika janji-janji sang presiden sudah nyata atau malah tak berwujud, lalu rakyat menjadi juri yang adil di bilik suara.
Beberapa hari menjelang dua tahun pemerintahannya, Jokowi ada di Papua untuk menyatakan: bahan bakar bensin dan solar yang lebih setengah abad harganya berpuluh kali lipat dari harga di Makassar dan Jakarta, kini sama. Pernyataan itu sekaligus penegasan bahwa pembangunan di negeri ini tak hanya berpusat di Jawa sahaja tapi menjangkau sampai pinggir-pinggir Indonesia.
Kawan saya, Arianto A. Patunru, seorang ekonom muda yang kini mengajar dan meneliti di universitas di Australia menyebut Indonesia adalah "negeri yang senantiasa mengejutkan". A Country That Surprises, begitu judul artikelnya beberapa waktu lalu.
Di tahun 1960-an, ekonom Australia yang lama bermukim di Jakarta, Benjamin Higgins menyebut Indonesia "negara yang paling gagal secara ekonomi di antara negeri-negeri terkebelakang di dunia". Saat pendapat Higgins itu disampaikan, pendapatan per kapita rakyat tahun 1966 kurang dari tahun 1938, defisit anggaran pemerintah lebih dari setengah anggaran belanja, dan inflasi lebih dari 500 persen!
Para pedagang kesulitan menentukan harga. Setiap hari, harga barang bisa naik dua persen. Inflasi melesat sampai 50 persen setiap bulannya. Jusuf Kalla yang mengalaminya, menggambarkan situasi tahun 1960-an itu seperti ini: "Kita tidak pernah pegang uang, karena jika seandainya hari ini Anda pegang uang dan tidak dibelanjakan, maka esok harinya nilai uang itu akan turun jauh."
Indonesia pokoknya, seolah akan runtuh. Tak ada ekonom yang bisa meramalkan kebangkitannya, bahkan keselamatannya.
Tapi 30 tahun kemudian, segalanya baik-baik saja, Indonesia menjungkir-balikkan hitung-hitungan para pengamat. Jejak krisis di tahun 1960-an tadi sudah tak membekas sama sekali. Bank Dunia menyebut kebangkitan Indonesia adalah "keajaiban" dan ekonom peraih Nobel Paul Krugman menganggap "Indonesia bangkit sangat cepat".
Lalu krisis ekonomi kembali datang menghentak. Publik masih ingat foto ikonik yang menangkap momen ketika Direktur IMF Michel Camdessus berdiri pongah, bersidekap, menyaksikan sang patriark Orde Baru, Presiden Soeharto menunduk takluk menandatangani naskah yang menjadikan Indonesia sebagai pasien IMF di tahun 1998. Korupsi merajalela, kerusuhan di depan mata, dan hutang menjulang berganda oleh anjloknya rupiah di depan mata uang asing.
Hanya berbilang bulan kemudian Soeharto tumbang. Tapi masalah belum selesai. Jalan keluar dari krisis masih tak terlihat sama sekali.
Tak sampai sepuluh tahun, Indonesia kembali tegak sentosa, melewatkan segala prediksi. Di masa Presiden SBY, Indonesia bahkan melunasi hutang-hutangnya di IMF.
Tahun 2014, rezim berganti ke seorang yang baru dua tahun meninggalkan jabatannya sebagai Walikota Solo. Hanya sempat singgah sejenak sebagai Gubernur Jakarta, Joko Widodo naik ke tampuk kekuasaan tertinggi negeri ini sebagai Presiden Republik Indonesia. Tapi situasi dunia tak benar-benar merestui jalannya. Badai datang dari mana-mana.
Direktur Pelaksana Bank Dunia saat itu, Sri Mulyani, menyebut Indonesia dan negara-negara berkembang sedang dihempas "badai yang sempurna". The perfect storm. Jokowi mewarisi Indonesia di tengah ekonomi dan perdagangan dunia yang melemah, perlambatan dan perubahan struktural ekonomi China, rendahnya harga-harga komoditas, menurunnya aliran modal ke negara berkembang, meluasnya konflik dan serangan terorisme di berbagai belahan dunia, serta perubahan iklim global.
"Negara-negara pengekspor komoditas dengan jutaan penduduk miskin mengalami pukulan paling keras. Sebanyak 40 persen revisi penurunan ekonomi dunia berasal dari kelompok negara-negara ini," kata Sri Mulyani.
Indonesia tak boleh berharap banyak kepada pihak lain. Dalam bahasa Sri Mulyani, Indonesia dihempas krisis ketika di dunia, "Kesediaan untuk bekerja sama antarnegara berada pada titik terendah sepanjang sejarah." Inggris bahkan memilih keluar dari blok ekonomi Uni Eropa.
Apa yang dilakukan Presiden Jokowi, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan jajarannya? Bekerja dalam diam menggenjot infrastruktur di seluruh pelosok Indonesia, mengeluarkan berbagai paket kebijakan untuk menerobos kebuntuan dalam investasi dan perdagangan, seraya mengais-ngais potensi pendapatan yang kemudian melahirkan kebijakan Tax Amnesty.
Dua tahun pemerintahan Jokowi-JK adalah dua tahun dengan degup jantung rakyat banyak yang tak sabar menunggu Indonesia berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa berperadaban maju. Pondasinya sedang diletakkan dan direkatkan satu demi satu: jalan, jembatan, bendungan, pelabuhan, bandar udara, pembangkit listrik, sekolah, budaya anti-korupsi dan tanpa pungutan liar, dan lain-lain.
Sekali lagi: satu demi satu.
Ini baru dua tahun. Selamat bekerja Tuan Presiden. (RB/habir)
(dikutip dari FB Bang Tomi Lebang https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10208898753720741&id=1072002562)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau




Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…