Riau Book- Hingga saat ini, apa yang terjadi dibalik peristiwa G/30 S masih menjadi misteri yang sulit diungkapkan. Termasuk di dalamnya keterlibatan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) yang dipropagandakan ikut melakukan penyiksaan terhadap jenderal-jenderal di Lubang Buaya. Hingga kini, sosok di balik pencetus ide propaganda itu menjadi misteri.
Sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Marwan Adam, tergelitik mencari seluk-beluk munculnya ide propaganda tentang kekejaman yang dilakukan Gerwani terhadap para tujuh perwira Angkatan Darat di Lubang Buaya, Jakarta Timur.
"Pembuat propaganda ini jelas intelektual. Bukan orang sembarangan," kata Asvi seperti dikutip CNNIndonesia.com.
Gerwani dicitrakan Orde Baru identik dengan kelompok militan yang mengerikan. Mereka disebut melakukan penyiksaan dengan mencungkil mata dan menyilet kemaluan para jenderal di Lubang Buaya.
Gerwani juga disebut melakukan tarian bugil yang disebut Tarian Harum Bunga, serta dikisahkan berperilaku seksual tak senonoh.
Semua cerita itu dimuat dalam berbagai media, terutama media yang dikendalikan militer seperti Berita Yudha dan Angkatan Bersenjata.
Awal 2000, Asvi dalam sebuah perbincangan bersama seorang mantan pengurus Gerwani, membicarakan ide dari propaganda penyiletan alat vital jenderal.
Eks Gerwani itu menyinggung sebuah novel karangan penulis Perancis, Emile Zola, berjudul Germinal. Novel saduran yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari bahasa Inggris itu sempat dipasarkan di Indonesia pada dekade 1960-an.
Germinal merupakan roman penting dalam kesusastraan Perancis. Novel itu dikemas dari cerita bersambung yang ditulis Zola selama kurun 1884-1885.
Novel yang telah diadaptasikan dalam lima film itu mengisahkan tentang kegetiran buruh pabrik dan pertambangan Eropa pada 1860-an. Zola menggambarkan tentang kekerasan dan ketidakadilan yang menimpa buruh oleh para borjuis.
Alkisah di tengah kehidupan buruh yang serbasulit, ada seorang rentenir yang menjajakan jasanya kepada masyarakat pertambangan. Celakanya, si rentenir bukan hanya meminjamkan uang dan meminta kembalian, tapi juga melakukan pelecehan seksual terhadap anak-anak buruh tambang.
Tak bisa membendung puncak amarah, puluhan istri buruh tambang menyerbu rumah si rentenir, melakukan pembalasan dengan menarik kemaluan si rentenir sampai putus.
Kolega Asvi yang aktif di kepengurusan pusat Gerwani itu menduga, spin doctor yang mencitrakan Gerwani sebagai kelompok perempuan bengis adalah orang yang pernah membaca buku karangan Zola.
"Tapi kalau yang ini (cerita tentang Gerwani) diubah dengan disilet (alat vitalnya) untuk mengesankan cerita lebih menyeramkan," kata Asvi.
Menurut peneliti sejarah Gerwani asal Universitas Amsterdam, Saskia E. Wieringa, hingga kini tak ada peneliti sejarah yang mengetahui soal asal-usul pencetus propaganda hitam terhadap Gerwani.
"Tak ada yang mengetahui siapa yang mencetuskan ide dan mengatur skenario propaganda itu. Pencetus bisa militer, tokoh agama yang dekat militer, atau pihak lain," kata Saskia.
Pemberitaan Masif Media
Beberapa hari setelah meletus peristiwa G30S, harian militer Berita Yudha memajang kliping penggalan koran sayap kiri.
Koran sayap kiri seperti Harian Rakyat, Warta Bhakti dan Suluh Indonesia ketika itu memuat berita yang berseberangan dengan versi media militer.
Harian Rakyat edisi 2 Oktober berjudul Letkol Untung, Komandan Bataljon Tjakrabirawa menyelamatkan Presiden dan RI dari kup Dewan Djendral. Judul hampir serupa juga dimuat Warta Bhakti terbitan 1 Oktober.
Tiga hari setelah terbitan Berita Yudha, muncul instruksi Menteri Penerangan Mayor Djenderal Achmadi yang melarang penerbitan surat kabar yang dianggap kiri terhitung 6 Oktober 1965. Media yang dilarang adalah Harian Rakyat, Warta Bhakti, dan Suluh Indonesia.
Sejak saat itu, pemberitaan media massa dikuasai oleh tulisan tentang stigma kengerian Gerwani yang diawali laporan dari harian Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha.
Beberapa pemberitaan media massa kala itu berbunyi, "Matanya dicungkil." (Angkatan Bersenjata, 6 Oktober 1965), "Ada yang dipotong tanda kelaminnya." (Berita Yudha, 10 Oktober 1965).
Setelah pemberitaan mengenai adanya penyiksaan terhadap tujuh perwira, pada Desember 1965 muncul laporan mengenai Tarian Harum Bunga yang disebut sebagai tarian bugil yang dilakukan aktivis Gerwani di Lubang Buaya.
Juru warta menggunakan narasumber dari pihak militer untuk menuliskan berita itu, di antaranya Ketua Tim Pemeriksa dan Interogasi Jawa Barat, Mayor Danamiharja.
"(Propaganda) yang diulang-ulang itu melekat di dalam ikatan masyarakat, sehingga sulit dihilangkan," kata Asvi.
Asvi mengatakan propaganda rezim Suharto terbilang masif karena mendapat dukungan dari negara asing. Asvi merujuk putusan International People's Tribunal 1965 yang menyebut Amerika, Inggris, dan Australia turut memberi bantuan dalam agenda penumpasan komunis di Indonesia, termasuk lewat propaganda.
Manuver Soeharto semakin gesit setelah Sukarno menerbitkan Surat Perintah 11 Maret (Supersemar) pada 1966. Soeharto yang menjabat Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertibansaat itu dipersilakan mengambil segala tindakan yang dianggap perlu untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk.
"Setelah Supersemar, Soeharto langsung mengambil banyak tindakan," kata Asvi.
Tindakan yang diambil Soeharto antara lain membubarkan Partai Komunis Indonesia yang dituding mendalangi G30S, menangkap 15 menteri loyalis Sukarno, membubarkan Cakrabirawa —pasukan pengaman elite presiden, dan mengontrol pers.
Soeharto menginstruksikan semua berita politik yang akan dimuat oleh Televisi Republik Indonesia (TVRI) dan Radio Republik Indonesia (RRI) sebagai media milik pemerintah, harus seizin Pusat Penerangan Angkatan Darat.
Dominasi pemberitaan pun otomatis beralih kepada penguasa baru.
Satu tahun setelah Soeharto lengser dari kekuasaan, Yosep Stanley Adi Prasetyo yang kini menjadi anggota Dewan Pers membuat makalah untuk seminar "Tragedi Nasional 1965" dengan judul Penggambaran Gerwani sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan.
Stanley dalam tulisannya berusaha mengungkap fitnah dan fakta penghancuran organisasi perempuan terkemuka di Indonesia.
Menurut Stanley, sejarah organisasi Gerwani ditutup dengan cara menjadikannya sebagai bagian dari epilog pengkhianatan G30S.
Sejarah Gerwani yang pernah menjadi pembela kaum perempuan dan anak-anak, tulis Stanley, kini hanya jadi gambaran "kaum sundal" di dinding relief Museum Pengkhianatan PKI dan film Pengkhianatan G30S/PKI karya Arifin C. Noer, serta sejumlah buku sejarah.
"Korban pertama dari sebuah konflik adalah kebenaran," kata Stanley.
Penguasa otoriter di manapun, kata Stanley, selalu menggunakan media untuk berpropaganda agar kebijakannya didukung publik.
Hal itu terjadi di Uni Soviet dan China, dan hingga kini penguasa Korea Utara masih menggunakan media untuk menipu publik dan menciptakan loyalitas kepada Kim Jong-un.
Dalam konflik, ujarnya, media kerap tak bisa independen. Apalagi jika konflik itu besar dan menghasilkan risiko bagi keberlangsungan media.
"Jadi jangan kaget bila kantor redaksi media, stasiun pemancar radio, dan stasiun televisi adalah objek vital yang masuk prioritas untuk dikuasai kekuatan politik," ujar Stanley.
Sejarah diukir oleh penguasa.(ria)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…