Riau Book - Bencana asap dampak dari kebakaran lahan gambut di Provinsi Riau dan daerah lainnya di Pulau Sumatera terbukti telah melumpuhkan berbagai sektor, mulai dari perekonomian, pendidikan hingga mengancam kesehatan dan merenggut jiwa. Martabat bangsa ini juga menjadi taruhannya.
Bencana yang datang melanda Riau ketika musim kemarau setiap tahunnya sejak 18 tahun terakhir dilaporkan membuat jutaan jiwa terbelenggu. Para investor mengurungkan niatnya berinvestasi di Negeri Kaya Minyak, pekerja asing memilih pulang ke negara masing-masing. Perantau dipaksa balik ke kampung halaman.
Selama 18 tahun, telah ada jutaan jiwa yang mengalami gangguan kesehatan. Bahkan tahun ini saja, telah ada lebih 70 ribu jiwa mengalami gangguan kesehatan. Mereka terkena penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), iritasi mata, iritasi kulit, dan lainnya.
Hentikan siksaan asap iniBencana asap tahun ini dikabarkan menjadi yang terparah sepanjang sejarah, sejak 18 tahun terakhir. Di beberapa daerah seperti Pekanbaru dan Rokan Hulu, asap yang menggerayang dilaporkan telah sangat membahayakan, bahkan berwarna kuning muda yang menurut ahli kesehatan, itu menandakan asap telah mengandung partikel berbahaya.
Untuk mengantisipasi dampak buruk terhadap kesehatan masyarakat yang lebih luas, pemerintah berinisiatif agar ribuan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di seluruh kabupaten/kota di Riau buka dan melayani selama 24 jam.
Perusahaan-perusahaan yang berada di berbagai wilayah kabupaten/kota berlomba-lomba untuk membuka posko kesehatan gratis. Ribuan TNI/Polri digerakkan untuk memadamkan kebakaran lahan. Tidak cukup.
Puluhan Alutsista juga akhirnya diterjunkan. Teknologi modifikasi cuaca digencarkan, bahkan yang terbaru Satgas Kebakaran Lahan Riau mulai menggunakan zat kimia untuk pemadaman. Juga belum cukup.
Kami sakit karena asaoSejumlah negara maju seperti Rusia, Jepang dan negara jiran, Malaysia dan Singapura menawarkan bantuan. Sempat ditolak, namun akhirnya kembali memohon. Tak cukup.
Sejauh ini belum diketahui bantuan dan teknologi apalagi yang akan digunakan untuk mengatasi masalah klasik ini. Riau masih terperangkap "jerebu", ratusan ribu jiwa telah mengungsi. Yang tersisa mengharapkan pertolongan. Evakuasi.
Sekolah-sekolah masih menyambung libur, kalangan Pegawai Negeri Sipil (PNS) berkesempatan untuk bolos. Perusahaan-perusahaan perkebunan dan hutan tanam industri masih "mengambil muka" dengan mengekspose berbagai kegiatan sosial terkait bencana asap.
Gejolak protes tak terbendung. Dalam satu pekan terakhir, sudah ribuan orang turun kejalan. Mereka adalah aktivis lingkungan, mahasiswa, bahkan murid sekolah dasar dan para pengajar.
Bencana asap masih berlanjut, meski 5 korban asap Riau telah menemukan ajalnya, mereka menghadap Illahi dengan kondisi yang teramat tragis.
Berikut adalah 5 Korban Asap Riau Paling Tragis:
Hanum, Meninggal dan Terlilit Utang
Tolong kami
Korban asapRiau pertama bernama Muhanum Anggriawati. Bocah perempuan berusia 12 tahun ini sempat menderita ISPA, sebelum akhirnya meninggal pada Kamis (10/9/2015) sekitar pukul 13.00 WIB.
Ayah Muhanum, Mukhlis, mengatakan, putri sulungnya mengalami gagal pernafasan akibat paru-parunya disesaki lendir atau dahak. "Sebelumnya anak saya tidak pernah mengeluh," kata dia.
Namun kemudian anaknya pingsan hingga harus dirawat sepekan di ruang ICU Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Ahmad, di Jalan Diponegoro, Pekanbaru. Anak kelahiran 5 Agustus 2003 ini tercatat sebagai murid kelas 6 Sekolah Dasar (SD) Negeri 171 Kulim Kecamatan Tenayan Raya.
"Saat masuk ke ruang, kami sudah mencemaskan anak kami akan dijemput oleh Allah. Tapi setelah keluar ruangan, kami lebih ditakutkan lagi dengan biaya tagihan rumah sakit yang besar," kata Mukhlis.
Hanum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya setelah lima hari dirawat secara intensif. Tragisnya, setelah kepergian bocah malang itu, pihak keluarga harus menanggung utang hingga puluhan juta rupiah akibat biaya perawatan yang membengkak.
Pegawai Dishub, Jantung Tersumbat Asap
Protes asap
Belum sepekan setelah kepergian Hanum, keganasan asap kembali memakan korban. Seoramg pria dewasa bernama Rustam, juga PNS di Dinas Perhubungan Riau meninggal akibat asap menyumbat distribusi oksigen pada jantung.
Rustam dikabarkan meninggal dunia akibat sakit jantung yang bertambah parah akibat sering menghirup udara berasap di Pekanbru.
"Dia sempat berobat di rumah sakit di Jakarta selama beberapa hari dan telah dinyatakan mulai membaik. Pihak keluarga kemudian memilih membawa pulang Rustam untuk beristirahat di rumah, kondisinya waktu itu sudah segar," kata Rio (18 tahun), anak laki-laki Rustam
Ia mengatakan, pihak keluarga mengatakan bahwa sesampai di Pekanbaru Ayahnya itu lagsung di bawa ke rumah yang berlokasi di Jalan Keliling, Kelurahan Tangkerang Timur, Tenayanraya, Pekanbaru.
"Ayah sempat beraktivitas seperti biasanya. Bahkan sehari sebelum meninggal, Ayah sempat berkumpul bersama teman-temannya di luar rumah. Kondisinya waktu itu Pekanbaru sedang berasap tebal," katanya.
Namun pada Sabtu (12/9/2015), demikian Rio, Ayahnya, Rustam, kemudian mengalami sesak di bagian dada hingga akhirnya pada pukul 15.00 WIB, dibawa ke Rumah Sakit Umum Dearah (RSUD) Arifin Achmad Pekanbaru.
"Awalnya saya bawa Ayah menggunakan sepeda motor. Sempat beberapa lali berhenti karena dia merasakan sesak nafas dan sakit yang luar biasanya di bagian dada. Waktu itu tidak menggunakan masker dan asap parah," kata dia.
Lalu kemudian, lanjut Rio, Ayahnya itu berpindah tumpangan ke mobil yang dikendarai oleh isterinya, Sri Wahyuni. Di dalam mobil tersebut telah ada dua orang putri Rustam yakni Ajeng dan Putri.
Sesampainya di Unit Gawat Darurat (UGD) RSUD Arifin Achmad, Rustam kata Rio langsung diberikan pertolongan pertama dan akhirnya di bawa ke ruangan khusus perawatan intensif bagi penderita penyakit jantung.
Rio mengatakan, dokter waktu itu mengatakan kondisi Rustam memburuk akibat terjadi penyumbatan pernafasan hingga membuat kerja jantung menjadi tidak maksimal. Rustam pun meninggal dunia dalam kondisi tubuh yang membiru.
Pegawai Kemenag Pekanbaru, Asama Makin Parah
Asap cemari sungai Siak
Memasuki awal Oktober, bencana asap masih berlanjut dna kembali memakan korban. Kali ini Muhammad Iqbal, pegawai Kantor Kementerian Agama di Pekanbaru, Riau, meninggal dunia setelah mengalami sesak nafas. Diduga pria berusia 31 itu wafat akibat kabut asap yang telah beberapa hari menyelimuti wilayah tersebut.
Menurut ayah Iqbal, Haji Hasan Amal, putranya itu memang memiliki riwayat asma. Penyakit ini kemudian kian parah ketika korban pulang bekerja pada Senin 5 Oktober 2015 petang.
Iqbal pun dirawat keluarga di rumah. Bahkan ia sempat dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan maksimal. Namun nyawanya tidak tertolong.
"Saya sudah ingatkan anak saya ini (Iqbal) agar selalu memakai masker kalau keluar dan pergi kerja. Kemarin itu dia tak pakai masker dan asmanya kambuh. Dia sudah menderita asma sejak SMP. Ya namanya sudah takdir, kita tak bisa berbuat apa-apa," cerita Haji Hasan Amal di Pekanbaru, Selasa (6/10/2015).
Iqbal, sebut sang ayah, meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Sehari-hari Iqbal bekerja sebagai pegawai di Kantor Wilayah Kementerian Agama Riau. Pada hari terakhir, Iqbal masih bekerja dengan sepeda motornya, meski asap pekat mengepung Kota Pekanbaru.
Setelah disemayamkan di rumah duka di Jalan Tuah Karya, Gang Lengkepen Kelurahan Tampan, Pekanbaru, jasad Iqbal pun dimakamkan di TPU Sialang Munggu, Panam.
Asap di Paru-paru Luthfi Aerli
Kami rindu sekolah
Nasib malang akibat bencana tahunan itu juga dialami Ramadhani Luthfi Aerli. Seorang anak berusia sembilan tahun yang meninggal dunia diduga menjadi korban dampak kabut asap kebakaran lahan gambut di Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Rabu (21/10/2015).
"Anak saya mendadak panas dan kejang-kejang, dan tidak bisa tertolong lagi," kata ayah almarhum, Eri Wiria, di rumah duka Gg. Salam Jalan Pangeran Hidayat, Kota Pekanbaru.
Almarhum Ramdhani adalah anak sulung dari dua bersaudara, dari pasangan suami-istri Eri Wiria dan Lili. Eri menyatakan, almarhum anaknya sempat dirawat di Instalasi Gawat Darurat (IGD) dan ruang PICU RS Santa Maria sebelum menghembuskan nafas terakhirnya pada sekitar pukul 04.45 WIB.
Eri sempat menunjukan hasil rontgen alamarhum anaknya yang didapatkan dari dokter RS Santa Maria. Menurut dia, dokter jaga RS Santa Maria mengatakan anaknya mengalami kekurangan oksigen di jantungnya dan hasil rontgen menunjukan paru-paru almarhum Ramadhani terdapat gumpalan seperti asap.
"Dokter menjelaskan terjadi penipisan oksigen di jantungnya, dan di paru-paru almarhum anak saya seperti ada awan-awan berbayang," katanya.
Ia menjelaskan, almarhum anaknya yang masih duduk di bangku kelas 3 SD itu tidak pernah ada riwayat sakit sebelumnya. Sehari sebelum kematiannya, almarhum Ramadhani Luthfi berada di rumah karena sekolah diliburkan. Eri mengatakan, anaknya pada Selasa siang (20/10/2015) itu mengeluh badannya panas dan seharian tidur saja dirumahnya.
Menurut dia, kondisi anaknya tiba-tiba memburuk pada malam hari. "Dia muntah-muntah, kejang-kejang, dan buang air besar. Saya langsung bawa dia ke RS Santa Maria dan saat masuk ke IGD langsung diberikan bantuan oksigen," katanya.
Eri mengatakan anaknya sempat dipindahkan dari IGD ke ruang perawatan khusus PICU dan dipasangi alat-alat bantu untuk menunjang hidupnya. Namun, kondisinya makin parah dan meninggal dunia pada Rabu dini hari sekitar pukul 04.45 WIB.
"Saya benar-benar tidak tega melihat anak saya dipompa dan ditekan-tekan dadanya. Tepat pada saat adzan Shubuh, anak saya tidak ada lagi," katanya.
Ardian Kejang dan Berdarah Karena Asap
Korban bencana asap terakhir adalah seorang anak umur enam tahun, Ardian. Dia dikabarkan meninggal dunia yang diduga kuat disebabkan kabut asap pekat akibat kebakaran lahan dan hutan di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.
"Sebelum meninggal dia sempat muntah, kejang-kejang dan keluar darah dari hidungnya," kata ayah kandung almarhum, Utuh, Jumat (23/10/2015).
Utuh mengatakan anaknya sempat dilarikan ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Umum Daerah Tembilahan, Indragiri Hilir (Inhil), setelah tiba-tiba muntah dan mengalami sesak nafas pada pada Senin lalu (19/10/2015).
Tiga hari menjalani pengobatan, kondisi Ardian tidak kunjung membaik bahkan dari dalam paru-paru almarhum terdapat semacam cairan bewarna hitam. "Ada cairan hitam dari paru-parunya. Dokter bilang itu akibat paparan asap," jelasnya.
Ia menjelaskan bahwa anak itu selama ini tidak memiliki riwayat penyakit yang berkaitan dengan pernafasan. Bahkan sehari sebelum dilarikan ke rumah sakit, almarhum sempat bermain-main di rumah. Namun tiba-tiba Ardian mengaku sesak nafas dan muntah-muntah.
"Sesampai di rumah sakit almarhum mengalami kejang-kejang dan keluar darah dari hidungnya. Kemudian semacam keluar lendir hitam saat dia muntah," kata Utuh.
Almarhum kemudian dimakamkan di pemakaman setempat. Utuh berharap pemerintah segera menanggulangi permasalahan kebakaran lahan agar tidak timbul korban. Semoga! (RB)
Ikuti berita terhangat dan eksklusif dari kami dengan "Like" ke link RiauBook



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…