Riau Book - "Melaporkan, besok ada unjuk rasa berkaitan dengan perusahaan bapak, jumlah massa yang masuk dalam laporan ada sekitar seribuan. Titik aksi di Kantor Gubernur, Polda Riau, dan Kejaksaat Tinggi. Terimakasih".
Kalimat yang dikirim lewat pesan selular tersebut sontak membuat staf humas di perusahaan itu "pontang-panting". "Tolong amankan," katanya membalas pesan tersebut, kelabakan.
Pria yang tidak bersedia disebutkan identitasnya itu adalah satu dari korban dugaan pemerasan dalam tema: suap dalan cuap-cuap demonstrasi yang kerap terjadi di Ibu Kota Riau, Pekanbaru.
Pelakunya diduga oknum-oknum yang berada pada lingkaran organisasi resmi, namun tidak sedikit yang "bodong".

Demondtrasi
"Ini sudah menjadi pekerjaan, selalu saja ada laporan tentang rencana aksi unjuk rasa tentang dugaan-dugaan pelanggaran. Yang katanya korupsilah, yang katanya soal lingkungan. Banyak lagi, semuanya seperti terror," kata dia, staf humas salah stau perusahaan itu.
Jika perusahaan tidak salah mengapa harus khawatir dan takut? "Itu yang saya kurang mengerti. Sebenarnya setiap unjuk rasa ada isu yang benar, namun lebih banyak salah. Perusahaan harusnya bisa saja menuntut, tapi zaman sekarang menuntut mau kemana? ke polisi?" katanya.
"Lihat saja SMS ini, ini dikirim oleh oknum polisi, minta '86', maksudnya tahukan? Selesai di tempat, kalau tidak ya aksi," katanya lagi.
Dari dokumentasi yang dirangkum, aksi-aksi unjuk rasa di Pekanbaru memang selalu terjadi, bahkan setiap pekan selalu diramaikan dengan yang katanya pesta demokrasi itu.
Unjuk rasa kerap dilakukan di jalanan, pusat-pusat pemerintahan, kantor polisi, kejaksaan, hingga perusahaan. Pelaku pengunjuk rasa ada dari berbagai organisasi, mulai dari lembaga swadaya masyarakat, aktivis mahasiswa, hingga masyarakat per golongan.

Dari puluhan demonstrasi yang kerap terjadi, kebakayakan merupakan aksi tentang kasus-kasus di pemerintahan, mulai dari korupsi, hingga tudingan kegagalan program pemerintah, menyebabkan malapetaka.
Untuk kasus korupsi, tidak heran, di Negeri yang katanya kaya minyak ini, sudah tiga gubernurnya masuk ke dalam sel dan divonis bersalah akibat korupsi. Belum lagi para pejabat eselon, bahkan legislator yang menjadi wakil rakyat pun terbawa arus dan masuk ke "lubang buaya".
Cuap-suap demokrasi pun tak tertahankan, berbagai kalangan dari berbagai organisasi masyarakat hingga mahasiswa kemudian melancarkan aksi demonstrasi. Tujuannya adalah untuk penegakkan hukum. Tidak salah.
Namun belakangan, terendus dibalik perjuangan para aktivis itu, ternyata ada oknum-oknum yang memanfaatkannya. Mereka memanfaatkan kepercayaan anggota untuk meraup keuntungan, rupiah.
Ciri-ciri Unjuk Rasa Bayaran

Saat masyarakat terancam nyawa karena asap kebakaran lahan sejumlah pihak berunjuk rasa hal lain.
Demonstrasi atau unjuk rasa yang lazim dilakukan kelompok orang tertentu ditinjau dari sifat tujuannya bisa terbagi atas dua, yakni demo murni dan demo bayaran.
Demo murni adalah sebuah aksi demo yang dilakukan oleh sekelompok orang yang berlandaskan ideologi tertentu atau untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan demo bayaran bisa ditafsirkan sebagai bentuk aksi yang dilakukan demi mendapat upah, meski tidak paham dengan materi substansi demo tersebut.
Lalu, bagaimana melihat perbedaan suatu aksi demo atau unjuk rasa bila ditinjau dari sifat dan tujuan demo tersebut.
"Mudah saja kita bisa melihat dari massa-nya, berapa jumlahnya, siapa saja yang datang di situ, lihat gerak gerik si pendemo, antusiaskah? Aktif dan pahamkah dengan isinya? Kalau tidak jelas itu demo bayaran," kata Ronald, seorang makelar demo.
Jumlah pendemo yang dimaksud ialah apabila demo itu dalam skala kecil yakni berkisar 50-100 orang, bisa ditebak demo itu pesanan atau bayaran.
"Jumlah (orang) itu relatif ada juga yang banyak orangnya tapi bayaran semua. Yang penting itu tadi karakter dan sifat massa-nya," kata Ronald.
Lebih lanjut dia menambahkan, ciri khas pendemo bayaran dapat terlihat saat melakukan aksinya. Indikatornya terlihat pada fokus perhatian dan kualitas orasi dari para demonstran. "Kalau terlihat tidak ekspresif dan seperti ogah-ogahan pasti kecenderungannya mereka hanya ikut-ikutan karena tidak paham substansi demo itu," tukasnya.
Ronald yang sudah dua tahun bergelut di dunia makelar demo ini menuturkan, terdapat beberapa perangkat demo yang harus diperhatikan sebelum menggelar aksi demo. "Rumuskan (materi) apa yang menjadi tuntutan kita, siapa dan tempat yang akan kita datangi untuk berorasi, serta perangkat vital yakni kelompok massa berikut atribut demo seperti spanduk, speaker, dan lainnya," katanya lagi.
Sementara itu Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem), Masinton Pasaribu dalam wawancara beberapa waktu lalu justru menyoroti cara membedakannya dari materi demo.

"Perbedaannya sangat jelas. Kemurnian gerakan demonstrasi yang lahir karena idealisme memiliki militansi, keyakinan dan semangat juang untuk melakukan perubahan yang lebih baik untuk rakyat," kata Masinton.
Mantan Aktivis Gerakan Mahasiswa 1998 itu berpendapat, idealisme, militansi, dan keyakinan perjuangan kaum pergerakan tidak bisa ditukar dengan sejumlah uang ataupun materi. Demonstrasi yang dilakukan karena tergerak atas dasar kesadaran pergerakan dalam melakukan aksi di lapangan cenderung lebih terstruktur, terpimpin, dan memiliki perangkat aksi.
Demokrasi memang membolehkan adanya perbedaan ide, cara pandang dan sikap, termasuk pro dan kontra. Namun para pendemo bayaran terkadang justru dihadirkan untuk "mengekang" kebebasan itu. Seperti misalnya, ada pengerahan massa bayaran untuk menghadang kelompok aksi mahasiswa yang menyuarakan suara penderitaan rakyat.
"Saat memperjuangkan reformasi kami di gerakan mahasiswa tahun 1998 pernah dihadapkan dengan massa bayaran atau Pam Swakarsa yang dimobilisasi rezim orde baru untuk menghadang gerakan demonstrasi mahasiswa. Namun yang menghadapi aksi-aksi bayaran Pam Swakarsa saat itu adalah kekuatan rakyat karena idealisme dan militansi perjuangan gerakan mahasiswa adalah sejatinya gerakan rakyat," kenang dia.
Lantas, adakah dari aktivis maupun mahasiswa yang aktif dalam kelompok ini?
"Dalam fase perjuangan selalu ada yang memanfaatkan situasi, bersikap oportunis dan avonturir (petualang politik). Namun sikap seperti itu tidak dominan dalam pergerakan dan tidak signifikan untuk mempengaruhi agenda pergerakan kawan-kawan mahasiswa," tuturnya.
Bagi Masinton, itu disebabkan massa-nya sudah memiliki agenda jelas yang harus diperjuangkan dan agenda tersebut lahir atas refleksi. (RB/fzr/okz)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…