Kampar Miliki Gatotkaca dan Candradimuka Atasi Kemiskinan, Semuanya Mungkin

Kampar Miliki Gatotkaca dan Candradimuka Atasi Kemiskinan, Semuanya Mungkin

RiauBook - "Jadi kami sangat yakin Kampar dapat maju, berkembang dengan baik jika semuanya dilakukan dengan sungguh-sungguh, tidak ada yang tidak mungkin untuk dilakukan," kata Jefry Noer.

Menurut dia, sekarang semuanya bisa dan jauh lebih mudah karena didukung dengan teknologi yang memang terus berkembang. Semuanya bisa dilakukan dengan cara-cara yang tepat dan akurat sehingga Kampar benar-benar menjadi Kawah Candradimuka dalam kisah yang nyata.

Tidak ada yang tidak bisa ditanam di tanah Kampar. Menurut dia semuanya bisa dilakukan dengan pemanfaatan teknologi sebagai kesaktian di zaman modern saat ini.

"Malahan di negara-negara maju seperti Jepang dan Singapura, mereka menanam di atas gedung. Dan di Kampar, masih ada jutaan hektare lahan siap untuk ditumbuhi berbagai jenis tanaman. Tentu dibutuhkan orang-orang sakti yang terlatih," katanya.

Seperti menanam cabai, menurut Jefry, banyak masyarakat yang tidak mengerti jenis tanaman pertanian ini, hingga akhirnya satu batang cabai itu hanya menghasilkan 4 ons, normalnya jika dikelola dengan baik, hasilnya bisa jauh lebih besar, yakni mencapai dua kilogram per batang.

Makanya, menurut dia, perlu diarahkan, masyarakat diberikan ilmu yang mapan sehingga mampu bertani dengan hasil yang memuaskan dan lebih baik.

"Saya sering bilang, jangan coba-coba menanam cabai, atau bawang dengan PH di bawah enam persen. Saya sampai hafal, sekarang ini satu batang cabai itu modalnya Rp7 ribu, jadi jika ada uang Rp30 juta, harusnya bisa menanam 4.000 batang cabai di lahan seperempat hektare," katanya.

Nah berapa hasilnya? Jefry melanjutkan, bahwa jika Rp7.000 dikalikan 4.000 batang berarti modal tertanam adalah Rp28 juta. Jika dikelola dengan baik, satu batang cabai itu menghasilkan 1 hingga 2 kilogram, sampai beberapa kali panen.

Jefry melanjutkan, anggap saja panennya satu kilogram per batang, dan dikalikan 4.000 berarti hasilnya mencapai 4 ton per sekali panen. Jika dikalikan harga cabai terendah saja, Rp15 ribu per kg dikalikan 4.000 maka hasilnya mencapai Rp60 juta per sekali panen.

"Berarti keuntungan yang didapat dari lahan seluas seperempat hektare adalah mencapai Rp32 juta per sekali panen cabai. Ini tentu hasil yang menjanjikan dan harus diterapkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kampar," katanya.

Menurut Jefry, tidak ada yang tidak mungkin jika setiap langkah diiringi dengan doa dan usaha keras. Semuanya akan dapat diraih dan keberhasilan itu sungguh ada di depan mata.
 
"Apalagi, di Kampar saat ini masih banyak lahan yang luas, siap untuk ditanam berbagai jenis tanaman pertanian salah satunya cabai yang tentunya akan sangat menjanjikan jika serius ingin dikembangkan. Pemerintah daerah juga telah menyediakan program yang sejalan," katanya.

Seratus Persen

Pemerintah Kabupaten Kampar, Riau, menargetkan pada tahun 2016 Program Tiga Zero, yakni zero kemiskinan, penganguran dan rumah rumah kumuh, dapat terealisasi seratus persen sehingga tidak ada lagi keluarga miskin di dearah tersebut.

"Jangan ada lagi yang namanya keluarga miskin, pengangguran serta rumah-rumah kumuh di Kampar. Insya Allah tahun depan Program Tiga Zero terlaksanakan dengan baik, seratus persen," kata Bupati Kampar, Jefry Noer.

Program Tiga Zero akan berjalan dengan baik jika masyarakat benar-benar ingin berusaha dan pemerintah memberikan jalan untuk mereka dapat sukses di setiap bidang usahanya. Ibaratnya, mereka adalah calon-calon ksatria, dan pemerintah memberikan tempat pelatihan samahalnya Kawah Candradimuka di Kahyangan.

"Terkecuali bagi masyarakat yang tulang rusuknya panjang dan pemalas," katanya.

Warga dengan "tulang rusuk panjang" maksud Jefry adalah kalangan dengan kondisi fisik tidak memungkinkan atau cacat permanen, kemudian janda dua memiliki anak yatim.

Bagi mereka yang memiliki kelemahan "tulang rusuk panjang", demikian Jefry, maka tidak sepantasnya menjadi Gatotkaca, Wisanggeni atau Sitija. Namun mereka dapat menjadi sasaran para kstaria itu untuk turut menikmati hasil dari Kawah Candradimuka.

Jangan salah sangka juga, tidak mampu bukan berarti masyarakat pemalas, terkadang mereka tidak memiiki arah tujuan semisal ingin bertani, namun mereka tidak memiliki keahlian dibidang pertanian. Maka menurut Jefry, orang-orang itu pantas untuk di tempatkan di Kawah Candradimuka, digembleng agar mampu bangkit menjadi ksatria yang sanggup mengalahkan kemiskinan.

Candradimuka Kampar, harapan bagi calon-calon kstaria kahyangan samahalnya Gatotkaca, Wisanggeni dan Sitija. Namun di dunia nyata. Semoga! (Advetorial)

foto

Terkait

Foto

Riau Bertekad Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai

RiauBook - Untuk mendukung program pemerintah dalam meningkatkan ketahanan pangan melalui Upaya Khusus (Upsus) Percepatan Swasembada Padi, Jagung dan Kedelai,…

Foto

Batu Akik Seribu Warna Untuk Satu di Kuansing

RiauBook.com - Sejak Gamawan Fauzi sewaktu menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri dan mengenalkan batu akik kepada publik, kecintaan masyarakat atas…

Foto

Inilah 10 Karya Anak Bangsa Indonesia Membanggakan

RiauBook.com - Di era globalisasi dibutuhkan penerus bangsa yang penuh kreatifitas, menyatakan imajinasi dan merancang sumber manfaat bagi masa depan…

Wisata dan Gaya Hidup

Foto

Tiga Pemenang Duta Muslimah Preneur Riau 2026 Resmi Terpilih, Siap Gerakkan Ekonomi Lokal

RIAUBOOM.COM - Pengurus Wilayah Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia (PW IPEMI) Provinsi Riau sukses menggelar puncak pemilihan Duta Muslimah…

Foto

Ini Cara Orang Pekanbaru Sambut Ramadan, SF Hariyanto: Dengan Hati Bersih Jiwa Lapang

RIAUBOOK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto, secara resmi membuka rangkaian perayaan tradisi Petang Belimau Kota Pekanbaru yang…

Foto

Tari Zapin 6 Ribu Peserta Pecah Rekor Dunia, Plt Gubernur: Riau Memilih Untuk Maju Tanpa Tercerabut

RIAUBOOK.COM - Sebanyak 6.000 penari menyatu dalam satu denyut nadi, mempersembahkan Tari Zapin Masal yang bukan sekadar tarian,…

Pendidikan