Setelah merayakan suasana Idul Fitri 1438 H, kini tiba saatnya kita semua menjalankan aktivitas keseharian seperti biasa.
Berdasarkan Keputusan Presiden RI, libur cuti Lebaran 1438 H bagi aparatur sipil negara (ASN) berakhir hingga tanggal 30 Juni kemarin.
Seyogianya hari ini, Senin (3/7/2017) Para aparatur sipil negara (ASN) sudah kembali aktif bekerja seperti biasa.
Meski masih dalam suasana Lebaran, ASN tetap dituntut untuk bekerja sebaik dan semaksimal mungkin dan memberi pelayanan prima sebagai abdi negara.
Tidak hanya bagi para ASN, hal yang sama juga berlaku bagi instansi lainnya termasuk swasta. Dunia perbankan, kembali beroperasi maksimal dan memberi pelayanan seperti sedia kala. Begitu juga bagi para pengusaha dan pedagang kembali menjajakkan usahanya. Para petani mulai menyemai benih, para nelayan mulai mengarahkan perauhnya ke samudera. Semua orang, profesi kembali beraktivitas.
Semuanya kembali beraktivitas seperti sedia kala. Lantas, jika kita kaitkan hal ini dengan agama (Islam) maka seruan ini sejalan dengan ajaran agama.
Setelah satu bulan menjalankan ibadah di bulan Ramadan lantas kembali dalam keadaan fitrah, sudah seharusnya umat memanfaatkan kondisi fitrah ini untuk memulai langkah baru dengan semangat baru. Ya, semangat fitri dalam arti semangat yang lebih dari biasanya.
Hari Raya Idul Fitri yang jatuh pada pada 1 Syawal memiliki makna yang mendalam bagi kita semua. Idul Fitri tidak saja digambarkan sebagai hari kemenangan bagi mereka yang telah menjalankan ibadah di bulan Ramadan, tetapi juga lebih dari itu, Idul Fitri adalah motivasi untuk kita semua agar menjadi orang lebih baik di bulan-bulan selanjutnya.
Baik itu baik secara ibadah, akhlak, muamalah tapi yang lebih penting adalah lebih baik secara produktivitas. Ini sejalan dengan arti Syawal secara bahasa yaitu meningkat, lebih baik. Jika secara harfiah dapat juga kita artikan bahwa Syawal adalah bulan peningkatan; meningkat secara ibdah, akhlak, ukhuwah muamalah dan produktivitas.
Mengapa agama mendorong kita untuk meningkat di bulan Syawal ini dan bulan-bulan selanjutnya? Jawabnya sudah pasti, karena kita telah digodok satu bulan lamanya di bulan Ramadan.
Tidak hanya soal ibadah dan akhlak, selama bulan Ramadan kita juga digodok bagaimana bermuamalah yang lebih baik, termasuk meningkatkan kegiatan-kegiatan tidak hanya yang bersifat keagamaan tapi juga yang bersifat keduniaan.
Karenanya, selama berpuasa di bulan Ramadan, tidak menjadi halangan bagi kita untuk tetap beraktivitas seperti biasanya dan puasa tidak menjadi halangan.
Keberkahan dan apa yang kita dapatkan selama bulan Ramadan kemarin, harus kita wujudkan dalam kehidupan sehari di bulan Syawal dan bulan-bulan berikutnya. Sembari kita berharap azam kita di bulan ini dan bulan-bulan berikutnya dapat berbuah lebih baik dari sebelumnya.
Apalagi di tengah situasi perekonomian kurang menguntungkan yang terjadi beberapa waktu terakhir, kian melecut kita untuk menghasilkan hal yang lebih baik lagi di masa mendatang. Amin.****
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…