Dalang Sumardi saat mengenalkan wayang ke anak-anak di Australia

Senin, 10 Juli 2017 - 16:07 WIB 4450000

Wayang Lebih Mudah 'Masuk' ke Anak-anak Australia Daripada Indonesia, kok Bisa?

Share ke BBM

RIAUBOOK.COM - Dalang Sumardi Sabdho Carito ternyata lebih memilih memperkenalkan wayang kepada anak-anak di Australia. Selama sembilan tahun ini, Sumardi datang ke Australia untuk berkunjung ke sekolah-sekolah dasar dan membawa wayang.

Sumardi datang atas undangan Cultural Infusion, sebuah agen budaya Australia yang berbasis di Collingwood, negara bagian Victoria.

Di sana, tak hanya menampilkan pertunjukan wayang kepada anak-anak di Australia. Sumardi juga mengajarkan mereka cara membuat wayang dari bahan-bahan sederhana.

Lalu, apa alasan Sumardi lebih sering memperkenalkan budaya wayang kepada anak-anak luar negeri ini?

Meskipun hati kecilnya ingin, ternyata, Sumardi memang belum pernah memperkenalkan wayang kepada anak-anak di Indonesia. Hal ini karena terbentur sejumlah kendala.

"Fasilitas sekolah tidak selengkap di Australia untuk menggelar pertunjukan wayang," ujar Sumardi dikutip dari detik.com, Senin (10/7/2017).

"Kedua, birokrasi untuk memperkenalkan wayang masih bertele-tele, banyak kepala sekolah dan guru yang tidak mengizinkan memperkenalkan wayang di sekolah," tambahnya.

"Kurang adanya dukungan dari pemerintah, baik secara perizinan dan dukungan finansial."

"Saya pernah mencoba mengajukan proposal ke salah satu perusahaan di Indonesia untuk mendukung program saya, 'Cultural in Education' dengan misi 'Ayo Nonton Wayang', namun belum ada tanggapan sampai sekarang."

Dengan tawaran yang datang dari Australia, Dalang Sumardi seolah mendapat kesempatan untuk memperkenalkan budaya wayang kepada generasi muda, meski bukan dari tanah kelahirannya sendiri.

Di Australia, Sumardi mengatakan telah memperkenalkan wayang kulit, wayang kancil, wayang golek, hingga seni tari.

"Pada tahun 2014 saya membawa instrumen gamelan kendang dan gender. Tujuannya untuk memperkenalkan salah satu musik yang mengiringi pertunjukkan wayang kulit," jelas Sumardi yang lulus dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Sumardi mengaku jika murid-murid sekolah dasar berserta para guru menanggapi budaya wayang asal Indonesia dengan positif. Menurut pria kelahiran tahun 1966 tersebut, mereka menganggap bahwa budaya wayang adalah sesuatu yang unik dan menarik. Ia pun seringkali dibanjiri pertanyaan soal wayang dari para murid, yang berasal dari kelas satu dan enam sekolah dasar.

"Kenapa waktu pentas wayang kulit di Indonesia sampai jam sembilan atau semalam suntuk? Berapa lama waktu untuk membuat satu wayang?" kata Sumardi saat ditanya soal pertanyaan apa yang paling sering diajukan murid-murid di Australia.

Masa depan wayang

Saat upaya untuk memperkenalkan wayang di Australia oleh Sumardi ditanggapi dengan baik, Sumardi mengaku pesimis jika wayang di negeri sendiri akan mampu mendapatkan tempat di hati anak-anak Indonesia.

Menurut Sumardi salah satu penyebabnya adalah kondisi ekonomi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat di Jawa yang kurang mencukupi untuk bisa 'nanggap wayang'. Padahal menurutnya untuk 'nanggap wayang' ini membutuhkan biaya yang tinggi.

"Berkembangnya teknologi canggih dengan game-game yang dianggap modern dan menarik kalangan generasi muda, sehingga wayang dianggap kuno," ujar Sumardi.

"Yang tak kalah penting adalah adanya anggapan dari agama dan aliran yang menganggap wayang adalah hal yang dilarang... bahkan banyak agama atau aliran agama yang mengkriminalisasi wayang atau pertunjukan wayang."

"Agar wayang tetap lestari di Indonesia, kita harus menggandeng berbagai pihak. Pemerintah ataupun swasta harus turut mendukung program pelestarian wayang. Saya ingin melakukan apa yang sudah saya lakukan di Australia ini untuk anak-anak Indonesia. Kita harus jemput bola untuk mengenalkan wayang kepada murid-murid sekolah di Indonesia."

Tak hanya wayang, budaya Indonesia bahkan masuk dalam daftar budaya yang popular untuk dipelajari anak-anak di Australia. Termasuk memperkenalkan budaya dan kehidupan di Bali, mempelajari tarian Merak, musik gamelan, dan lainnya.

Program ditujukan tidak hanya mereka yang duduk di kelas satu hingga enam sekolah dasar, tapi di sekolah menengah.

Durasi program biasanya digelar minimal satu jam. Ada pula yang satu hari selama jam sekolah.

Biaya bagi murid berkisar $6 hingga $13, atau sekitar Rp 60.000 hingga Rp 130.000 per orang. (RB/dtc)

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM

100000000
muhardi

Berita Terkini

Gubri Melepas Ribuan Mahasiswa Kukerta UR

Kamis, 06 Juli 2017 - 11:19 WIB

Penutupan Simposium Diramaikan Aksi Selfie

Kamis, 06 Juli 2017 - 09:43 WIB

Mengejar Mimpi dengan Beasiswa

Rabu, 05 Juli 2017 - 00:34 WIB

Mendikbud Puji Kualitas Pendidikan di Riau

Senin, 03 Juli 2017 - 19:44 WIB

Lepas Kontingen OSN Riau, Gubri Do'akan Juara

Sabtu, 01 Juli 2017 - 23:15 WIB

Guru Bantu Provinsi di Rohil Terancam Tidak Lebaran

Selasa, 20 Juni 2017 - 00:06 WIB

Mendikbud Bantah Pendidikan Agama Dihapus

Rabu, 14 Juni 2017 - 14:32 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia