RIAUBOOK.COM -
Pengakuan masyarakat dengan keberadaan Ritual Menyimah Kampung merupakan budaya lama dan turun menurun yang terdapat di Desa Dusun Tua Pelang, Kecamatan Kelayang, Kabupaten Inhu. Konon cerita berhembus sebuah Ritual Menyimah Kampung ado sebolun awak ado, hal ini dinyatakan oleh Tokoh Adat atau Tokoh Masyarakat Datuk Ali Balang Suku Panglimo Poghang.
Menurut sepengetahuan beliau bahwa beliau melanjutkan Ritual Menyimah Kampung mulai pada tahun 1947 bersama penghulu Dolah, Dukun Toher dan dirinya sendiri. Ritual Menyimah Kampung juga dikenal dengan gelar penyimahan nagoghi juga dapat dikatakan pesta/olat nagoghiyang dilaksanakan 2 tahun sekali.
"Kata simah/penyimahan merupakan permohonan izin/permisi/pengusiran terhadap mahluk tak kasat mata, yang dituju kepada yang di langit atau di awang-awang (bunian/jin,setan,hantu/bandan), di bumi/di atas tanah (solaman/ binatang buas/ulegh semposan sampado) dan di bawah bumi/di bawah tanah (sapoan/gegaji bumi). Kemudian dituju untuk di air maka diketahui 3 anak yaitu tali arus laut (si jubi), petongahan laut (si onas) dan topi laut (si kosi)," jelas Datuk Ali Balang, belum berapa lama ini.
Dijelaskan lagi oleh Datuk Ali Balang, Kunci dari sebuah ritual ini harus mengetahui atau mengenali kepada siapa dan kemana ritual ini ditujukan. Tergelincir mantra dalam sebuah kata yaitu "O….. tuk kau namo solaman dan datuk sapoan dan ughang bunyian. Jangan tuan meusak binaso apo bilo meusak binaso kami tidak membayar pampeh kami tidak membayar bangun. Ruh katonyo nyao gelendeng katonyo badan hak katonyo allah hu katonyo muhammad. Tak kan binaso allah jo muhammad baru aku kan binaso. Lailahaillallah muhammadhorosulallah".
Ritual Menyimah Kampung tersusun dari beberapa tahapan yaitu Musyawarah Petinggi Kampung, imbau kampung, musyawarah kampung, betobo kampung, dan ritual kampung magih makan soko suliah (memberimakan kepada roh-roh dan benda-beda pusaka peninggalan nenek moyang). Datuk Roesli menyatakan hal ini karena beliau memiliki pengalaman bergelut dalam ritual menyimah kampung sejak tahun 1960.
Penjelasannya nama-nama yang dikatakan penting dan terlibat dalam musyawarah Menyimah Kampung yaitu penghulu kampung Abdullah, sekretaris penghulu Amrillah, suku monti yaitu Arun, dubalang yang bertugas sebagai imabau kampung atau yang mengundang masyarakat kampung yaitu Bakar.
Ughang tuo suku yaitu datuk panglimo poghang yang bernama M. Suhur, bomo atau dukun kampung yaitu M. Taher, Bayu atau datuk pengurus kampung bernama M.Yani. dan yang terakhir yaitu alim ulamak codik pandai yang diketua oleh datuk Gondok. Musyawarah ini merupakan rapat dalam memutuskan sebuah olat. Imbau kampung yang ditugaskan untuk mengimbau atau memberitahu atau memanggil seluruh masyarakat kampung Desa Dusun Tua Pelang untuk berkumpul disebuah tempat atau lokasi dalam rangka mempersiapkan sebuah Ritual Menyimah Kampung.
Cara atau teknis imbauan atau undangannya dengan membawa dan memukul/menokok alat musik calempong disepanjang kampung dengan logu yaitu "o…. uaghang dikampung kocik dak diimbau namo godang dak diimbau golegh ambo dapat perintah dari pengulu suk pagi awak gotong royong (betobo), berita ko ambo dapat dari penghulu lopeh kemonti, dari monti baru ke ambo (dubalang) suk pagi kito bekumpul menyimah kampung bawak bogheh sebiapo izin, bawak kiambil, dll ".
Tahap betobo/bergotong royong/bekerja sama dalam mempersiapkan pesta nagoghi yang berlokasi di tobing di umah tinggi milik Ibuk Sikar. Dalam kegiatan betobo kampung seluruh masyarakat mempersiapkan ketetapan dan persyaratan Ritual Menyimah Kampung yaitu persyaratan setali, dan diateh darat duo simah yaitu simahan biaso dan simahan telokan. Persyaratan setali berisikan kambing satu ekor, ayam satu ekor, beras satu gantang, kelapa dua buah, dan kain putih satu kabung (2 yar).
Sedangkan persyaratan di ateh darat duo simah yaitu simahan biaso dan simahan telokan. Simahan yang diair (sungai kuantan) ditujukan kepada hantu air dan buaya dinamakan ancak tobang yang terbuat dari upih pinang berupa kapal yang nantinya akan berlayar diatas air. Di dalam ancak tersebut berisikan nasi dengan tujuh warna dan di atas nasi diletakkan satu buah telor ayam yang dibuat sedikit terbelah. Kemudian rendang kambing (lauk gulai) yang sudah dimasak juga disajikan di atasnya.
Sedangkan untuk simahan di ateh darat yang ditujukan kepada harimau yaitu simahan biaso di dalamnya terdapat kepala kamping dan nasi tujuh warna. Kemudian setelah selesai persyaratan diair maka diimbau untuk datang kerumah, dan di bawah ancak biasa terletak satu ember besar (capah godang) disebut tampang tawegh, tampang tawegh berisikan bungo harum tujuh macam, limau, dan keperluan lainnya kemudian kain kuning dan kain hitam selebar dua jari yang dibawa oleh masyarakat itu sendiri sebagai tangkal rumah (petando rumah milik awak).
Pada saat imbauan kerumah telah disediakan nasi kuning, panggang ayam, lilin dan segelas air putih untuk hidangan didepan. Hidangan tersebut terdapat tujuh hidangan, tujuh piring, tujuh gelas air minum, dan tujuh penerang yaitu lilin.
Keterangan diatas dipersiapkan pada saat betobo seluruh masyarakat saling bekerja sama disebuah lokasi/tempat. Tugas-tugas yang dikerjakan telah disesuaikan seperti kelompok bapak-bapak dan pemuda setempat ditugaskan untuk mencari keperluan untuk ancak, mencari kayu dihutan atau dikebun, membuat seladang tempat ibuk-ibuk untuk masak, menyembelih kambing, menyembelih ayam, dan beberapa pekerjaan lainnya.
Sedangkan ibuk-ibuk dan pemudi lainnya mempersiapkan alat-alat untuk masak, seperti periuk, kuali atau kuancah, cubit atau alat untuk menggiling cabe dan juga mempersiapkan rempah-rempah atau bumbu-bumbu masak. Kemudian itu untuk anak-anak bermain disekeliling kesibukan dalam mempersiapkan prosesi ritual, namun anak-anak dilarang mengacau atau mengganggu pekerjaan dalam mempersiapkan ritual. ditengah riuh pikuk dalam kesibukan masyarakat hiburan yang menemani yaitu suara pantun berbalas pantun, dengan diiringi oleh alat musik calempong, gondang, gebano, dan lain-lain. Segelintir contoh pantun dalam memeriahkan betobo Kampung yaitu :
lagi dulu awak berambut panjang
kini rambut sengan bahu
lagi dulu awak bekasih sayang
kini awak idak tau menau
Mengael kedusun tuo
dapat uan bekampil-kampil
awak bemain sesamo mudo
dak bulih cuil mencuil
Mai diambek pelupuh cino
dipoghah kiambil jadi santan
dek banyak tuo-tuo nan tino
mai kito sesamo memasak
Putigh pinang sado nan masak
pinang di ambik masuk kuali
mai kito sesamo memasak
sambil memasak besonang hati
Pantun di atas merupakan pantun nasehat, gurauan, serta hiburan dalam bergotong royong/betobo/bepiari/besolang. Kegiatan ini harus selesai menjelang pukul 20.00wib pada sebelum tahapan puncak atau terakhir yaitu magih makan soko suliah (memberi makan kepada roh-roh dan benda-beda pusaka peninggalan nenek moyang).
Ritual puncak ini dilaksanakan pada malam hari setelah shalat magrib dan isa berkisar pukul 20.00 WIB. Shalat magrib dan isa dilaksanakan masyarakat di rumah tinggi tersebut. Pada malam ritual ini pertama memberi makan pada mahluk di air, kedua didarat atau di hutan, dan ketingga mengimbau untuk datang kedalam rumah.
Pada saat imbauan kerumah telah disediakan nasi kuning, panggang ayam, lilin dan segelas air putih untuk hidangan didepan. Hidangan tersebut terdapat tujuh hidangan, tujuh piring, tujuh gelas air minum, dan tujuh penerang yaitu lilin. Setelah seluruh ritual selesai maka masyarakat diperintahkan untuk makan-makan bersama ditempat yang telah disiapkan untuk makanan masyarakat.
Tangkal atau petando milik rumah bagi masyarakat Desa Dusun Tua Pelang.
Aktivitas ini disayangkan mulai bergeser mulai praktis mulai terkikis hingga tahun 2007 merupakan perayaan terakhir bagi masyarakat kampung dalam membuat Ritual Menyimah Kampung. Hingga saat ini tahun 2017 peristiwa budaya Ritual Menyimah Kampung hanya tinggal nama tinggal sejarah budaya dan tidak ada lagi dikenang dan tidak lagi dilaksanakan oleh masyarakat.
Ketika disimak diketahui di dalam sebuah Ritual Menyimah Kampung terdapat banyak nila-nilai yang terkandung di dalamnnya yaitu nilai solidaritas yang tinggi, meletakkan suatu hal pada tempatnya, melestarikan budaya, dan mengakui budaya yang dimilikinya. Menjunjung tinggi agama islam sebagai panutannya tanpa meninggalkan satu pun kewajibannya. (RB/Ferizal)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…