Padahal, pengeroyokan tersebut diduga dilakukan warga Desa Rimbo Panjang Kabupaten Kampar, Provinsi Riau itu, ‎secara beramai-ramai kemudian didokumentasikan dengan video dan menyebar ke media sosial.
"Saya sudah beri tahu Kapolres dan Bupati Kampar, bahwa itu tidak bisa tolerir. Karena kalau tidak ditangani akan menjadi preseden tidak bagus. Ini agar tak terjadi lagi hal-hal yang tidak inginkan," kata Nandang, Rabu (20/12/2017).
Nandang sudah mempelajari isi rekaman video tersebut dan melihat siapaa saja orang-orang yang terlibat di dalamnya. Peran masyarakat yang ikut membantai Viki hingga tewas pun berbeda-beda.
Ada yang memukul kepada korban hingga bocor, adapula yang menendangnya. Korban tak sempat dibawa ke Rumah Sakit karena kehabisan darah.
"Masing-masing pelaku kan punya peran, pasti ada komandan yang menggerakkan, tak mungkin mereka bergerak sendiri," tegas Nandang.
Nandang mengingatkan agar, untuk urusan hukum dipercayakan kepada aparat negara. Masyarakat diminta untuk tidak main hakim sendiri dan ambil resiko yang akan merugikan diri sendiri.
"Main hakim sendiri itu merugikan masyarakat, bukannya berjasa. Mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan yang melawan hukum. Yang boleh menjatuhi hukuman hanya hakim, apalagi ini baru diduga baru berupa fitnah, belum tentu kebebaran," jelas Nandang.
Selain itu, negara menunjuk kepolisian untuk menyelidiki kebenaran sebuah kejahatan yang melanggar hukum. Itupun nantinya akan dikoreksi jaksa dan jika sepaham baru dibawa ke pengadilan.
Peristiwa itu terjadi di Dusun II Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau tepatnya di jalur II Jalan Raya Pekanbaru - Bangkinang, Sabtu lalu sekitar pukul 21.00 wib.
Saat itu, warga kebetulan sedang ronda malam dan tak sengaja melihat korban (Viki) berhenti dengan sepeda motornya di semak-semak yang gelap. Karena curiga, warga pun mengeceknya untuk memastikan.
Tak ayal, warga mendatangi Viki dan menanyakan apa tujuannya berada di sana. Saat itu Viki menjawab, kalau dia sedang menunggu teman.
Karena nada bicaranya gugup dan ketakutan saat berhadapan dengan belasan orang, masyarakat pun mencurigainya.‎ Mereka pun menduga Viki merupakan pelaku Begal yang pernah beraksi di daerah tersebut. Karena ramainya warga, Viki pun meninggalkan kerumunan massa dan dikejar lalu diteriaki begal.
Teriakan itu membuat warga lainnya terprovokasi hingga berdatangan dan langsung menangkap Viki. Kemudian warga menghajarnya beramai-ramai. Sepeda motor yang digunakannya pun dibakar.
Kemudian mobil PJR Polda Riau melintas dan mengevakuasi Viki ke Polsek Tambang. Kondisinya luka parah, dibawa ke Puskesmas Tambang dan akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara.
Sayangnya, luka akibat pukulan massa membuat nyawa Viki i tak bisa tertolong lagi dan akhirnya meninggal dunia. Polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan mengumpulkan keterangan sejumlah saksi.
Pasca kejadian, pihak keluarga sudah menjemput jenazah Viki di RS Bhayangkara dan sudah memakamkan jenazah Viki.
Korban bukan merupakan pelaku begal seperti yang disangkakan masyarakat yang melakukan penganiayaan itu.
"Memang, korban ini pernah dipenjara atas kasus pencurian, tapi sudah keluar dari penjara, dan dia juga berstatus tersangka kasus pemerasan, tapi bukan begal," kata Kapolres Kampar AKBP Deni Okvianto.‎ (RB/San)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…