RIAUBOOK.COM - Junaidi (42) adalah seorang buruh tani di Desa Sungai Keranji, Kecamatan Singingi, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau.
Semasa hidup, dia hanya seorang kuli angkut dan buruh muat sawit yang penghasilannya pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari bersama seorang isteri dan dua anaknya yang masih bersekolah.
Keluarga miskin ini tinggal di gubuk sederhana milik warga di desa itu yang mengaku prihatin dengan keadaan keluarga Junaidi.
Dalam himpitan ekonomi keluarga yang begitu sesak, perjuangan Junaidi dalam menghidupi keluarganya mengalami cobaan berat. Tiga bulan lalu, tepatnya diawal Oktober 2017, ayah dua anak ini menderita sakit.
Kondisi ekonomi keluarga semakin parah setelah Junaidi pun akhirnya tidak lagi bisa menjadi tulang punggung bagi isteri dan dua anaknya karena terbaring sakit.
Awalnya, sang isteri Agus Fitriani (40) mengira Junaidi mengalami sakit biasa, dan kemudian dirujuk ke pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) di desa tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Namun pihak paramedis di puskesmas meminta Fitriani untuk membawa sang suami ke klinik di Taluk Kuantan yang memiliki peralatan medis lebih cukup.
Dengan 'tergopoh', Fitriani dengan dibantu sejumlah warga kemudian membawa Juanidi ke klinik di pusat pemerintahan Kuansing.
Perjuangan menyelamatkan sang kepala keluarga ternyata tidak sampai di klinik Taluk. Dari sana, paramedis justru mengklaim Juanidi menderita sakit yang cukup parah sehingga harus di rujuk ke rumah sakit secepatnya.
Paramedis ketika itu menyarankan Juanaidi untuk dirujuk ke RS Santa Maria yang dianggap memiliki peralatan medis komplit. Di sana, dia kemudian sempat diinapkan di ruang ICU selama enam hari.
Dengan keterbatasan dana, pihak keluarga kemudian hanya pasrah ketika Junaidi yang kondisinya semakin memprihatinkan justru dipindahkan ke ruang perawatan biasa hingga tiga pekan.
"Padahal, ketika itu kondisinya sudah sangat memprihatinkan, dokter menyebut Junaidi menderita sakit lambung yang parah akibat kanker hati atau pembengkan hati," kata Nainggolan, seorang tokoh masyarakat di Desa Keranji.
Jumat malam (29/12/2017), Nainggolan menyampaikan kabar atas kondisi miris tentang nasib Junaidi yang ternyata telah meninggal dunia.
Kepergian Junaidi tidak lantas mengurangi beban batin dan ekonomi sang isteri yang kini harus menanggung hidup dua orang anaknya.
Malam-malam jelang pergantian tahun, ketika banyak orang menyiapkan pesta suka ria, seorang wanita justru harus meratapi tangis atas jenazah suami yang masih tertahan di Rumah Sakit Santa Maria, Pekanbaru.
"Beban biaya rumah sakit sudah membengkak jadi Rp68 juta, dan kami dari warga Sungai Keranji baru bisa mengumpulkan bantuan untuk keluarga Junaidi sekitar Rp13 juta yang sudah ditransfer ke rekening rumah sakit," kata Kades Sungai Keranji, Slamet Duwiyuwono.
Slamet dan Nainggolan bersama sejumlah warga lainnya di Desa Sungai Keranji masih terus memikirkan nasib keluarga yang ditinggalkan Junaidi.
"Kami masih terus berupaya mengumpulkan uang untuk bisa mengeluarkan jenazah Junaidi, barusan saja juga ada tambahan bantuan tapi nilainya hanya Rp3,5 juta, masih banyak kurangnya," kata Slamet.
Slamet mengaku pihaknya bersama Nainggolan dan sejumlah warga sudah berkomunikasi dengan pihak rumah sakit, namun managemen tetap kukuh jenazah baru bisa dikeluarkan ketika utang sudah dilunasi setidaknya 80 persen.
"Artinya, dari utang yang tersisa sekitar Rp41,5 juta, harus ada uang Rp31,5 juta yang kita berikan ke rumah sakit baru jenazah bisa di bawa pulang," kata Slamet.
Sementara, janda Junaidi, Fitriani, hingga tengah malam pukul 23.36 WIB masih meratapi kesedihan di teras kamar jenazah setelah kepergian suaminya siang tadi pukul 14.45 WIB.

Fitriani menyandarkan tubuhnya kursi dekat kamar jenazah, sementara Nadia (15), anak gadisnya, berusaha menenangkan wanita berkerudung itu.
Ada juga Rian, remaja laki-laki 12 tahun, sempat terbaring dan duduk lusu di kursi tidak jauh dari ibunya yang merenung.
Keluarga malang ini masih menunggu datangnya bantuan dari orang-orang yang berbelas kasih.
Karena selain jasad suami yang ditahan, nasib janda dan anaknya itu kini pun terlantar, bingung mencari tempat peristirahatan dan tumpangan untuk kembali ke Desa Sungai Keranji.
"Tolong kami pak...," Fitriani memelas dan menangisi jasad suaminya yang 'terperangkap' di RS Santa Maria. (RB/fzr)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…