RIAUBOOK.COM, JAKARTA - Eksekutor penembak jitu nekad menjadikan 4 tokoh nasional sebaga target utama, termasuk Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan dan Menko Polhukam Wiranto, selain juga Kapolri Tito Karnavian dan Adian Napitupulu.
Beraoa sang eksekutor dibayar sehingga nekad berupaya menembak mati para tokoh tersebut?
Dalam kasus ini, aparat kepolisian bahkan sudah menangkap enam tersangka atas kepemilikan senjata api, serta disangka sebaga eksekutor di tengah kerusuhan 22 Mei.Â
Satu di antaranya adalah HK yang disebut menerima perintah untuk menembak mati empat tokoh nasional tersebut, dengan bayaran atas perannya itu senilai Rp 150 juta.Â
Hal itu diungkapkan Kepala Divisi Humas Polri Irjen M Iqbal dan Wakapuspen TNI Brigjen TNI Tunggul Suropati jumpa pers di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Senin (27/5/2019).
Dilaporkan kepolisian menunjukan empat senjata api ilegal berikut amunisi tersebut.
Senjata itu diduga akan digunakan kelompok "penunggang gelap" saat aksi unjuk rasa menolak hasil pemilu presiden 2019 di Jakarta.
Kepolisian menyita empat senjata api ilegal. Dua senpi diantaranya rakitan.
Empat senpi dan amunisi tersebut ditunjukan dalam jumpa pers yang dilakukan Kepala Divisi Humas Polri Irjen M Iqbal dan Wakapuspen TNI Brigjen TNI Tunggul Suropati di Kantor Kemenko Polhukam.
Salah satu senpi yang disita adalah rakitan laras panjang kaliber 22.
Iqbal mengatakan, senpi tersebut diduga akan digunakan eksekutor dari jarak jauh lantaran dilengkapi teleskop.
"Ini ada teleskopnya, diduga kuat memang ingin menghabisi dari jarak jauh. Walaupun rakitan ini efeknya luar biasa," kata Iqbal sambil mengangkat senpi tersebut.
Tiga senpi lainnya, adalah pistol jenis revolver taurus kaliber 38 dan dua box peluru kaliber 38 berjumlah 39 butir.
Kemudian, pistol jenis Major kaliber 52 dan sebuah magazine serta lima butir peluru. Serta senpi laras pendek rakitan kaliber 22.
"Bayangkan jika kami tidak bergerak cepat," kata Iqbal.
sumber tribunnews



Riau Pesisir: Merancang Garis Depan Kemakmuran
SAYA menulis catatan ini bukan dari ruang seminar, tapi dari jalan lintas ke Dumai yang hampir tiap pekan saya lewati.…