Oleh: Wira Atma Hajri, S.H., M.H.
"Hanya dengan kekuasaanlah agama bisa dijaga".
(Ulama Besar Islam Syeikh Ibnu Taimiyah)
Andai aku Presiden, akulah orang pertama di republik ini yang akan menjaga dan membela agamaku. Tak akan ada yang berani menjelek-jelekkan Islam. Tak akan ada yang berani merusak-rusak agama ku ini. Jika ada media baik cetak maupun elektronik menjelek-jelekkannya, aku tak akan beri tempat media tersebut di republik ini. PKI akan aku bumi hanguskan. Jaringan Islam Liberal, akan aku boikot. Islam Nusantara, akan aku cabut kata nusantara itu. Islam ya Islam. Tak ada embel-embel liberal maupun nusantara. Jangan ditambah-tambah. Kalau mereka masih berani, tengoklah akibatnya. Tidak ada kebebasan tanpa pembatasan. Aku lakukan ini semua karena aku ini orang Islam. Sebab, Al-Qur'an Surat Al-Hajj Ayat (40) memberikan jaminan kepadaku, "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa".
Andai aku Presiden, aku akan jalankan negara ini menurut selera Islam. Aku akan jalankan negara ini menurut kehendak Tuhanku, Allah. Bukan menurut seleraku. Bukan menurut kehendak partaiku. Tak peduli orang mau dan akan bilang apa kepadaku. Dibilangnya aku anti kebhinnekaan, silahkan. Dibilangnya aku tak toleran, tak masalah. Dibilangnya aku radikal, tak apa-apa. Dibilangnya aku tak moderat, tak mengapa. Dibilangnya aku merusak NKRI, aku tak peduli. Aku lakukan ini semua karena aku ini orang Islam. Sebab, Al-Qur'an Surat Al-An'am Ayat (62) mengingatkanku, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah".
Andai aku Presiden, aku akan mendengarkan dan mengamalkan nasehat para ulama. Andai ada orang yang membencinya, mereka akan berhadapan langsung denganku. Andai ada orang yang menzhaliminya, aku akan membuatnya menyesal atas apa yang telah mereka lakukan. Andai ada orang yang mengganggunya, akan aku buat perhitungan dengan mereka. Aku lakukan ini semua karena aku mencintai para ulama. Lagi pula Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa, "Para ulama itu adalah Pewaris Nabi". (HR. At-Tirmizi)
Andai aku Presiden, aku akan nyatakan perang terhadap kemunkaran. Aku akan buat aturan larangan minuman beralkohol. Perlahan-lahan tapi pasti aku tutup Bank Riba. Tempat-tempat pelacuran seperti Alexis, aku akan tumbangkan. Tempat-tempat judi, akan aku musnahkan. Tayangan-tanyangan yang tak mendidik, aku akan cabut izinnya. Aku lakukan ini semua karena aku punya kekuasaan. Nabi Muhammad berbicara kepada umatnya, "Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman". (HR. Muslim)
Andai aku Presiden, aku akan menjalankan amanah itu dengan sekuat hati dan tenagaku. Aku ingin bermanfaat. Aku tak akan kompromi dengan pembusuk-pembusuk di republik ini. Akan aku buat mereka hengkang dari negeri yang didirikan hasil perjuangan darah dan tangisan ini. Aku tak akan membuat rakyatku kecewa. Aku tak akan berdusta untuk pencitraan. Hal ini aku lakukan, karena akhirnya aku akan mati juga. Aku ingat, sekuat apapun Soekarno, akhirnya mati juga. Pun demikian dengan Soeharto. Ia pun sama seperti Soekarno, sama-sama tak bisa lari dari taqdir kematian yang datang menjemput. Aku takut kalau di akhirat nanti Allah tak mau berbicara, mensucikan, dan memandangku. Aku ingat Nabiku pernah berucap, "Tiga orang yang Allah tidak akan bicara kepada mereka, dan tidak akan mensucikan mereka serta tidak akan memandang mereka, dan bagi mereka azab yang pedih, yaitu; "orang tua yang berzina, pemimpin yang berdusta, dan orang yang miskin yang sombong". (HR. Muslim).
Andai aku Presiden, aku tak akan marah jika rakyatku mengkritikku. Sebab, kritik itu mengingatkan. Yang baik untuk agama dan negara, dari kritik itu akan aku jalankan. Jika tidak, akupun tak akan menzhalimi mereka. Karena aku tahu, banyak hal tentang aku mereka tidak tahu. Aku berterimakasih. Terimakasih telah mengigatkanku. Umar pernah berucap, "Orang yang paling aku sukai adalah mereka yang menunjukkan kesalahanku".
Terakhir, andai aku Presiden, aku akan selalu melihat ke cermin. Diriku ini siapa ya? Tanpa orang-orang terdahulu, tak mungkin negeriku ini ada. Aku harus tahu diri. Aku harus tahu diuntung. Kalau dulunya penjajah-penjajah kafir itu membuat rakyat ini seperti binatang saja, aku tak mau dan tak akan menjadi seperti mereka. Karena aku bukanlah mereka. Aku adalah aku. Aku orang Islam. Aku orang Indonesia. Seperti halnya aku mencintai Islam, aku juga mencintai Indonesia, negeri yang didirikan dengan tetesan keringat, air mata dan darah.
Tentang Penulis
Wira Atma Hajri, lahir di Bangkinang (Riau), 11 Maret 1990. Penulis adalah lulusan Pondok Pesantren Daarun Nahdhah Thawalib Bangkinang (2008). Beberapa kali Penulis menyandang predikat sebagai juara umum di pondok pesantren tersebut. Meraih gelar Sarjana Hukum dari Departemen Ketatanegaraan Fakultas Hukum Universitas Islam Riau (UIR) sebagai lulusan terbaik (2012), dan Magister Hukum dari departemen yang sama di Universitas Islam Indonesia Yogyakarta dengan predikat kelulusan 'Dengan Pujian' (Cumlaude) dalam waktu 13 bulan (2013). Saat ini adalah Dosen Tetap Yayasan Lembaga Pendidikan Islam Riau pada Fakultas Hukum UIR. Di samping itu juga dipercayakan oleh Rektor UIR sebagai Pengelola UIR Press. Penulis bergabung dengan lembaga dakwah Majelis Dakwah Islamiyah Kota Pekanbaru dengan Nomor Indeks/Keanggotaan 629 (2009-sekarang).
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…