RIAUBOOK.COM - Emiten belum terpacu untuk melakukan ekspansi secara agresif meski pertumbuhan ekonomi yang diprediksi membaik pada tahun depan.
Setidaknya, hal ini tercermin dari rencana belanja modal atawa capital expenditure (capex) perusahaan pada 2018 mendatang.
Sektor konstruksi misalnya, mulai mengerem capex 2018. Maklum, emiten sektor ini sudah jor-joran berekspansi sepanjang tahun ini.
Ambil contoh, PT Waskita Karya Tbk (WSKT) cuma menganggarkan capex Rp 20 triliun pada 2018. Angka ini turun dibanding capex 2017 sebesar Rp 25 triliun-Rp 30 triliun. Capex WSKT di tahun ini memang jauh lebih tinggi dibandingkan 2016 lalu yang hanya Rp 10 triliun.
Sementara itu, sektor barang konsumsi dan ritel juga masih konservatif. Begitu pula dengan sektor industri dasar dan sektor perkebunan.
David Sutyanto, Analis First Asia Capital menilai, tahun depan, emiten cenderung berhati-hati karena mulai memasuki tahun politik. Terutama, bagi emiten yang penjualannya hanya berorientasi di dalam negeri seperti emiten konsumer. "Biasanya, sentimen politik menurunkan minat masyarakat untuk berinvestasi. Perusahaan juga mengerem ekspansi," terang David, Kamis (7/12).
Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee juga melihat kebijakan ekonomi Paman Sam akan mempengaruhi langkah ekspansi emiten tahun depan. Perhatian pelaku pasar tertuju pada peluang penguatan dollar AS.
Adanya rencana normalisasi neraca dagang, kenaikan suku bunga acuan The Fed sebanyak tiga kali dan rencana pemangkasan pajak oleh Presiden AS Donald Trump turut membuat emiten menahan laju ekspansi.
Hanya sektor pertambangan yang nampaknya meningkatkan ekspansi di tahun depan. Misal, PT Bukit Asam Tbk (PTBA) menaikkan capex dari Rp 2 triliun di tahun ini menjadi Rp 4 triliun hingga Rp 5 triliun di tahun 2018 nanti. Capex PT United Tractors Tbk (UNTR) juga naik dua kali lipat menjadi Rp 7 triliun dari sebelumnya Rp 3 triliun-Rp 4 triliun.
Membaiknya harga komoditas, terutama batubara, mendorong emiten tambang berupaya menggenjot produksi. Emiten tambang juga banyak yang mulai memanfaatkan momentum ini untuk akuisisi.
Hans juga menilai, sektor perbankan akan lebih gencar berekspansi. "Pertumbuhan kredit yang membaik serta potensi turunnya suku bunga acuan Bank Indonesia di tahun depan, berdampak positif," ujar dia, dilansir dari Kontan.co.id.
Beberapa bank memang berencana meningkatkan capex. Misal, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang menaikkan capex dari Rp 5 triliun menjadi Rp 7 triliun di tahun depan.
Meski banyak sentimen domestik dan global yang bisa mempengaruhi ekspansi emiten, Hans masih optimistis kinerja emiten tetap bisa membaik. Ekspansi emiten juga harus tetap dibarengi dengan inovasi. "Ini agar bisnis mereka tetap bertahan, di tengah perubahan pola konsumsi belakangan ini," tutur Hans. (RB/Kontan.co.id)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau



Riau Pesisir: Merancang Garis Depan Kemakmuran
SAYA menulis catatan ini bukan dari ruang seminar, tapi dari jalan lintas ke Dumai yang hampir tiap pekan saya lewati.…