RIAUBOOK.COM - Keberadaan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus atau Jampidsus Febrie Adriansyah, hingga Kamis (9/7/2027) sore belum diketahui.
Febrie diketahui tengah menjadi sorotan publik setelah sehari sebelumnya, Rabu (8/7), tim gabungan Polri menggeledah sejumlah tempat terkait tiga skandal megakorupsi yang ikut menyeret nama jampidsus.
Sementara, sejumlah Sumber kepada Suara.com, mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto sudah mengetahui duduk perkara penggeledahan Polri ke sejumlah titik terkait pengusutan tiga skandal mega korupsi yang menyeret nama Febrie.
Presiden Prabowo juga disebut meminta aparat penegak hukum untuk bertindak tegas, termasuk menangkap Jampidsus Febrie Adriansyah.
"Yang saya tahu, presiden minta Febrie Adriansyah ditangkap bila memang itu untuk mempermudah pengusutan," kata Sumber tersebut.
Dia mengatakan, Presiden Prabowo tak pernah pandang bulu terhadap para pejabat pemerintahan, bila tersandung masalah hukum.
Sementara soal isu adanya pertemuan di rumah kedinasan presiden, Kamis pagi, terkait nasib Febrie Adriansyah, Sumber itu memastikan informasi itu hoaks.
Tidak ada pertemuan di Widya Chandra hari Kamis pagi. Pada pukul itu, presiden ada acara di Bekasi," kata dia.
Febrie Ardiansyah sendiri, hingga saat ini belum diketahui keberadaannya.
Penemuan brankas rahasia
Gelombang penggeledahan besar-besaran yang dilakukan tim gabungan Polri dan Polda Metro Jaya sejak Rabu (8/7) hingga Kamis dini hari telah mengguncang konstelasi hukum nasional.
Nama Jampidsus Febrie Adriansyah, kini resmi terseret dalam pusaran penyidikan maraton yang menyasar belasan lokasi strategis, termasuk kawasan elite di Bogor dan Jakarta Selatan.
Puncak ketegangan terjadi pada Kamis tengah malam, saat personel kepolisian melakukan operasi senyap di kawasan elite Sentul City, Bogor.
Target utama dalam penggeledahan tersebut adalah sebuah rumah mewah yang berlokasi di Perumahan Golf Hijau.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, hunian megah tersebut diduga kuat merupakan milik Jampidsus Febrie Adriansyah.
Operasi ini bukan sekadar tindakan seremonial, melainkan bagian dari penyidikan mendalam terhadap 12 titik yang diduga menjadi pusat penyimpanan aset dan dokumen terkait korupsi.
Tiga Megakorupsi yang Saling Bertautan
Penyidikan intensif ini tidak berdiri sendiri. Pihak kepolisian mengungkapkan bahwa seluruh rangkaian penggeledahan ini berkaitan erat dengan tiga skandal korupsi besar yang diduga saling berkelindan dalam satu jaringan elit penyelenggara negara.
Pertama, penyelidikan diarahkan pada dugaan korupsi pengadaan batu bara untuk PT PLN (Persero).
Kasus ini menjadi sorotan tajam karena dampaknya yang masif, yakni memicu krisis energi dan pemadaman listrik atau blackout di Pulau Sumatera beberapa waktu lalu.
Kedua, penyidik mendalami kembali penyimpangan dana di PT Asabri untuk periode 2020–2025, sebuah kasus yang merugikan uang negara dalam jumlah fantastis.
Ketiga, polisi membidik dugaan tindak pidana pencucian uang (TPPU) dalam skema utang-piutang antara PT CBS kepada PT KNI.
Ketiga kasus ini diduga menjadi ladang basah bagi jaringan oknum pejabat yang saling melindungi.
Pola yang ditemukan penyidik mengindikasikan adanya aliran dana haram yang digunakan secara sistematis untuk "mengamankan" perkara-perkara besar di institusi penegak hukum agar tidak tersentuh oleh keadilan.
Temuan Mengejutkan di Balik Lemari Kafe
Salah satu momen paling dramatis dalam penggeledahan maraton ini terjadi di Cafe de'CLAN Signature, sebuah tempat pertemuan mewah di Jakarta Selatan.
Pada lokasi ini, ketelitian penyidik diuji saat mereka mencurigai adanya ruang rahasia di dalam bangunan tersebut.
Benar saja, polisi menemukan sebuah brankas rahasia yang disembunyikan secara sangat rapi di balik sebuah lemari besar.
Upaya pemilik untuk mengelabui petugas dengan desain interior yang tampak normal tersebut akhirnya gagal total.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Budi Hermanto, menyatakan bahwa isi dari brankas tersembunyi tersebut benar-benar di luar dugaan.
Di dalamnya, penyidik menemukan tumpukan uang tunai dalam denominasi mata uang asing, yakni Dollar Singapura (SGD) dan Dollar Amerika (USD), yang nilainya disebut-sebut sangat fantastis.
Selain tumpukan uang, dokumen transaksi keuangan yang krusial juga berhasil diamankan untuk menjadi bukti kunci dalam persidangan mendatang.
"Brankasnya tersembunyi, di balik lemari," kata Budi saat menjelaskan posisi penyimpanan uang haram tersebut kepada awak media.
Jaringan Pencucian Uang dan Instrumen 'Money Changer'
Tidak berhenti di kafe mewah, operasi kepolisian juga merambah ke sebuah unit money changer. Lokasi ini diduga kuat bukan sekadar tempat penukaran uang biasa, melainkan instrumen utama dalam skema pencucian uang (money laundering).
Polisi menduga money changer ini digunakan untuk mengubah hasil korupsi yang kotor menjadi aset-aset yang tampak legal di mata publik dan sistem perbankan.
Penyisiran di 12 titik ini memberikan gambaran betapa rapinya koordinasi antara oknum penegak hukum dan jaringan bisnis dalam menyembunyikan harta hasil kejahatan.
Dengan ditemukannya brankas berisi valuta asing dan keterlibatan institusi penukaran uang, arah penyidikan kini semakin mengerucut pada dugaan adanya tindak pidana pencucian uang yang melibatkan nama besar di Kejaksaan Agung.
Hingga saat ini, tim gabungan Polri masih terus melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen yang disita. (Sumber:Suara.com)



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…