JENDERAL Tentara Nasional Indonesia (TNI) Andika Perkasa baru saja menerima penghargaan militer bergengsi dari pemerintah Singapura.
PenghargaanMeritorious Service Medalatau Medali Layanan Berjasa (Militer) itu diberikan Pesiden Singapura, Halimah Yacob yang diserahkan melalui Menteri Pertahanan Dr Ng Eng Hen di Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF), Rabu (8/6/2022).
Penganugerahan medali kepada eks Pangkostrad itu lantaran dinilai berjasa dalam memperkuat hubungan pertahanan antara Angkatan Darat Singapura dan Angkatan Darat Indonesia saat masih menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan DaratIndonesia(KASAD) dari 2018 hingga 2021.
Dilansir dariStraitstimes,Menhan Singapura, Eng Hen mengakui Jenderal Andika adalah sosok yang berkontribusi besar terhadap hubungan baik Indonesia dan negeri Kota Singa.
Disebutkan Eng Hen, di bawah kepemimpinan Jenderal Andika, militer Singapura dan Indonesia telah memperluas kerja sama pertahanan bilateral dan meningkatkan hubungan antar masyarakat yang lebih baik melalui pertukaran profesional antara kedua Angkatan Darat.
Sederet Penghargaan Lainnya
Sebelumnya, Jenderal Andika juga pernah mendapatkan sederet penghargaan prestisius lainnya. Ia bahkan dinobatkan sebagai satu-satunya orang Indonesia yang menerimaMedali Legion of Merit --sebuah penghargaan paling bergengsi dari Amerika Serikat (AS).
Dalam sertifikat MedaliThe Legion of Merit, degree of Commander,disebutkan bahwa dalam masa jabatannya sebagai Kasad, Jenderal TNI Andika telah memberikan pengabdian yang luar biasa dan memperkuat hubungan Angkatan Darat Indonesia dan AS.
Berkat kepiawaiannya dalam membangun hubungan kerja sama militer (TNI AD) Indonesia-AS, ia disebut berhasil memberikan kontribusi positif bagi stabilitas keamanan kawasan Indo-Pasifik.
Di samping itu, menantu dari tokoh intelijen terkemuka Indonesia, Hendropriyono itu juga sempat meraih sejumlah penghargaan penting selama pengabdiannya di dunia militer.
Bintang Kartika Ek Paksi Utama, Bintang Bhayangkara Utama,Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama,Bintang Jalasena Utama,Bintang Dharma, serta sederet penghargaan prestisius lainnya.
Lusinan prestasi yang diraih Jenderal Andika tidak terlepas dari perjalanan karirnya yang luar biasa dalam dunia kemiliteran.
Ia termasuk alumnus Akademi Militer Angkatan 1987 yang sempat mencicipi studi S2,The Military College of Vermont,Norwich University, AS (1999).
Pada tahun 2003, dirinya tercatat menyambung studi di National War College, National Defense University, Washington D.C, AS (2003). Kemudian, ia juga sempat melanjutkan studi serupa di Harvard University pada 2004.
Pada tahun 2005, ayah dari Alexander Wiratama Akbar Perkasa itu kembali mengambil studi S3 di The George Washington University D.C., bidangThe Trachtenberg School of Public Policy and Public Administration.
Dari Riwayat kedekatannya dengan negeri Paman Sam itulah ia sempat menginisiasi pertukaran latihan satuan pada November 2019, dan pengiriman satuan TNI AD yang lebih besar untuk berlatih diJoint Readiness Training Center(JRTC) Fort Polk, Louisiana, AS pada November 2020.
Mengintip Kepentingan AS dan Sekutu di Kawasan Indo-Pasifik
Di artikel sebelumnya,Akankah U.S. Take Over Indonesia Lewat Pemilu 2024?,telah disinggung mengenai kepentingan AS dan sekutunya di kawasan Indo-Pasifik.
Bahwa di tengah menguatnya tensi persaingan global yang melibatkan negara-negara digdaya seperti AS dan China, penting untuk memahami arah kebijakan dan politik mereka khususnya di kawasan Indo-Pasifik.
Kitaoka (2019) dalam studinya,Vision for a Free and Open Indo-Pacific, menyebut berkat daya tarik Indo-Pasifik membuat isu kawasan ini belakangan paling banyak dibahas di level politik internasional.
Swaine dalamAmerica's Security Role in the South China Sea, bahkan menulis, magnet Indo-Pasifik ini membuat negara sekelas AS pun kepincut untuk ambil bagian dalam perebutan pengaruh di kawasan ini.
Di mata AS, Indo-Pasifik adalah bagian dari rute transit utama untuk lalu lintas komersial maritim ke dan dari Asia Timur dan untuk Angkatan Laut AS.
Karenanya, upaya hegemoni China di kawasan ini dinilai merugikan kepentingan AS kini dan akan datang.
Dan, atas alasan itu, AS terus berupaya mendekati negara-negara di kawasan ini melalui tawaran kerja sama dalam berbagai bidang.
Tujuannya jelas, kehadiran AS dan sekutu di kawasan ini selain untuk kepentingan keamanan dan pemanfaatan ekonomi jangka panjang, juga bermaksud membendung hegemoni China itu sendiri.
Hadirnya Pakta AUKUS sebagai bentuk perjanjian keamanan trilateral antara Amerika Serikat, Inggris, dan Australia, adalah wujud konkret atas upaya meredam pengaruh militer China di kawasan Indo-Pasifik, terlepas ketiga negara itu tidak secara eksplisit menyinggung China dalam pakta tersebut.
Di samping AUKUS, AS juga memelopori kerja samaIndo-Pacific Economy Frame Work(IPEF) atau kerangka ekonomi Indo-Pasifik pada akhir Mei lalu yang tujuannya tak lain memperat hubungan AS dengan negara-negara Asia di berbagai bidang termasuk rantai pasokan, perdagangan digital, energi bersih, dan antikorupsi.
IPEF sendiri ditandatangani oleh 13 negara, antara lain AS, Australia, Brunei, India, Jepang, Malaysia, Selandia Baru, Filipina, Singapura, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan termasuk Indonesia.
Terbaru, AS juga mengukuhkan Vietnam dan Singapura sebagai sekutu terdekat di kawasan ASEAN. Ini tentu akan semakin memberikan ruang bagi AS dalam memperkuat perannya di kawasan ASEAN, terutama dalam merespon agresi China di wilayah Laut China Selatan.
Pesan Khusus kepada Jenderal Andika
Lantas, bagaimana memaknai pesan tersirat di balik pemberian penghargaan bergengsi dari AS dan Singapura kepada Jenderal Andika? Mengapa harus Andika?
Untuk menyingkap pesan tersebut, kita perlu melihat konteks kebijakan politik luar negeri Indonesia terutama di periode kedua pemerintahan Jokowi. Adapun rumusan kerangka Politik Luar Negeri RI 2019-2024 sendiri memuat prioritas 4+1.
Pertama, penguatan diplomasi ekonomi; kedua, diplomasi perlindungan; ketiga, diplomasi kedaulatan dan kebangsaan; keempat, peningkatan kontribusi dan kepemimpinan Indonesia di kawasan dan dunia; dan plus satunya, penguatan infrastruktur diplomasi oleh Kemenlu RI.
Dari prioritas kebijakan luar negeri Indonesia di atas, dapat dipahami bahwa kepentingan Indonesia berpusat pada penguatan kedaulatan dan kepemimpinan kawasan dan dunia.
Arah kebijakan politik luar negeri ini senafas dengan cita-cita Indonesia untuk menjadi poros maritim dunia. Ini dikarenakan sekitar 90% perdagangan global yang diangkut melalui laut, 40% melewati perairan Indonesia.
Untuk mewujudkan semua langkah, baik ke dalam maupun keluar, Indonesia tentu harus cakap dalam memainkan perannya. Termasuk, kepiawaian dalam menjalin komunikasi dan kerja sama dengan negara-negara lain dalam mendukung visi tersebut.
Teristimewa soal mencari rekan luar (negara berkepentingan), Indonesia harus pintar dalam membaca kepentingan negara bersangkutan. Ini demi menghindari malapetaka yang timbul di kemudian hari.
Di tengah persaingan AS-China di kawasan Indo-Pasifik, misalnya, Indonesia harus cerdik dalam mengambil posisi, apakah memilih bergaul dengan AS atau China. Sebab, mengisolasi diri atau memilih 'netral' adalah bukan solusi untuk saat ini.
Apalagi, Indonesia akhir-akhir ini menghadapi gangguan nyata soal sengketa wilayah di Laut China Selatan. Imbas dari konflik tersebut, wilayah Natuna Utara menjadi terancam karena sampai sekarang China nyatanya masih belum mengakui wilayah tersebut sebagai milik Indonesia.
Kembali pada poin penghargaan yang diterima Jenderal Andika, sebetulnya hal ini terkait erat dengan konstelasi geopolitik dan geostrategis yang berkembang di Indo-Pasifik.
Indonesia sebagai salah satu negara berpengaruh di kawasan ini cukup potensial untuk dijadikan mitra strategis oleh negara-negara berkepentingan, terutama AS dan sekutunya.
Sementara, terkait Jenderal Andika, seperti jamak diketahui, ia merupakan sosok yang dianggap punya kedekatan kuat dengan negeri Paman Sam. Ini terlihat dari rekam jejaknya baik di dunia pendidikan kemiliteran hingga sederet kerja sama militer antara Indonesia dan AS di masa kepemimpinannya.
Di samping itu, penghargaan yang didapatkan Jenderal Andika juga tidak terlepas dari momentum politik dalam negeri menjelang Pemilu 2024.
Kontestasi elektoral 2024 merupakan momentum penting bagi AS mendorong orang kepercayaannya untuk menjadi pemimpin Indonesia ke depan.
Dengan demikian, melalui serangkaian kerja sama dan penghargaan yang didapatkan, apakah AS seolah memberikan kode bahwa Andika lah sosok yang kelak akan didorong untuk menggantikan Jokowi?
Penulis: Harsam (Research Director of IndoNarator)




Riau Pesisir: Merancang Garis Depan Kemakmuran
SAYA menulis catatan ini bukan dari ruang seminar, tapi dari jalan lintas ke Dumai yang hampir tiap pekan saya lewati.…