Ilustrasi. (net)

Selasa, 12 September 2017 - 12:26 WIB 4720000

Berebut Berteduh di Pohon Beringin

Share ke BBM

Oleh : Bagus Santoso, Praktisi Politik, Anggota DPRD Provinsi Riau.

Mendekati tahapan Pemilihan Gubernur Riau (Pilgubri ), angin semakin kencang menerpa rindangnya pohon beringin lambang Partai Golkar di Riau.

Masa bakti Andi Rachman sebagai gubernur akan habis jabatan pada tanggal 19 Februari 2019. Namun pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah, sesuai jadwal KPUD dimajukan 8 bulan lebih cepat yaitu tanggal 27 juni 2018.

Sangat wajar kalau aroma persaingan terjadi hampir di semua internal partai politik ( parpol) tidak hanya di tubuh Golkar tetapi merata. Khusus Golkar sememang patut diperebutkan karena di Riau Golkar masih seksi dan tetap berdaun rindang.

Terbukti Pemilu Legislatif tahun 2014 Golkar masih berjaya menjadi pemenangnya dengan merebut 14 kursi dari 65 kursi di gedung DPRD Riau. Golkar masih lumayan gagah dengan 14 kursi meski turun 1 kursi jika jika dibandingkan hasil pemilu sebelumnya tahun 2009 mendapat 15 kursi. Dengan modal 14 kursi Golkar sudah cukup syarat untuk melayarkan perahu sendiri mengusung kader Golkar menuju kancah perebutan kursi Riau satu.

Berdasarkan peluang tersebutlah sedikitnya 4 kader Golkar potensial berusaha keras untuk mendapatkan surat dukungan dari induk semang DPP Golkar dengan ketua sekarang Setyo Novanto ( Setnov).

Keempat orang kuat Golkar yakni Andi Rachman Ketua Golkar Riau, berikutnya Haris, Yopi Arianto, Syamsuar masing- masing sebagai Ketua Golkar yang juga menjabat sebagai Bupati Pelalawan, Bupati Inhu dan Bupati Siak.

Baru- baru ini terdengar kabar pemberitaan di media, bahwa DPP Golkar lebih memilih Andi Rachman sebagai calon Gubernur Riau 2019-2023. Kabar ini tentu menjawab teka-teki yang selama ini menjadi bahan analisa dan tarik- tarikan sesama kader Golkar.

Dari awal banyak yang memprediksikan Andi Rachman sebagai ketua Golkar Riau lebih berpeluang dicalonkan Golkar tersebab faktor incumbent. Hanya saja selama proses waktu menunggu kepastian tak terelakkan 'perang dingin' sesama kader di bawah pohon beringin.

Keputusan DPP Golkar sempat tertunda- tunda. Pada awalnya dijanjikan akan diputuskan bulan juli yang lalu. Sebagaimana dikatakan langsung oleh Setnov saat berkunjung ke Dumai ( 11/6). Setnov juga menegaskan bahwa dasar DPP Golkar akan menetapkan dukungan berdasarkan survei. Kalau surveinya bagus, ya kita dukung begitulah Setnov mengatakan pada waktu itu.

Seiring dengan gencarnya sesama kader Golkar riuh mensosialisasikan diri, Lembaga Survei Indonesia - LSI merilis hasil survei terbaru terkait kecenderungan calon pemilih di Pilgubri 2018. Ternyata Haris menjad kandidat yang paling diinginkan responden.

Hasil survey yang dilakukan DPP Golkar melalui LSI, seandainya 5 orang calon yang didukung akan maju sebagai calon Gubernur Riau 2018 mendatang, mana yang dipilih. Dari hasil survey tersebut, Harris memperoleh 13,2 persen. Masih survey LSI, Harris juga lebih unggul dari anggota DPR RI Lukman Edy 12,1 persen.

Sedangkan calon incumbent yang juga Gubernur Riau Andi Rachman diposisi ketiga dengan persentase 10,8 persen. Kemudian mantan Bupati Rokan Hulu Achmad 10,6 persen, Bupati Siak Syamsuar 8,4 persen.

Survey LSI mengkerucutkan menjadi 3 orang. Ternyata pilihan masyarakat Riau tetap menempatkan Harris paling atas dengan persentase 16,8 persen. Selanjutnya Andi Rachman naik ke posisi kedua 12,9 persen, serta ketiga Syamsuar 12,5 persen.

Meskipun Survey LSI menempatkan Haris pada posisi tertinggi DPP Golkar sampai bulan Juli yang dijanjikan, Setnov belum juga memastikan siapa jagoan Golkar yang dimajukan.

DPP Golkar menyatakan hasil survei pak Harris Bupati Pelalawan memang selalu unggul, namun belum ada yang dominan, hal tersebut dikatakan Wasekjen Pemenangan Sumatera II DPP Partai Golkar, Sudirman Almon ketika itu.

Sekitar tiga hari terakir, bersamaan kabar pemberitaan surat dukungan DPP Golkar dijatuhkan kepada Andi Rachman-

Lembaga survei Indo Barometer merilis hasil survei teranyar yang telah dilakukan di seluruh wilayah Propinsi Riau meliputi 12 Kabupaten, Kota medio17–26 Agustus 2017.

Data Indo Barometer merupakan perbandingan data dua survei yaitu survei 22 - 31 maret dengan survei 17 - 26 Agustus. Ternyata hasilnya kurang lebih sama dengan hasil survei LSI dimana ketua Golkar Riau Andi Rahman masih kalah jauh dengan Haris. Haris menempati posisi pertama dengan tingkat dukungan sebesar 4.4 persen, disusul Andi Rachman 3,6 persen, Syamsuar 1,5 persen,Yopi Arianto 1,3 persen.

Jika melihat hasil kedua lembaga survei yakni LSI dan Indo Barometer, DPP Golkar telah memberikan dukungan kepada Andi Rachman maka Setnov telah mengingkari pernyataanya sendiri saat kunjungan di Dumai. Kendati demikian karena ini adalah ranah internal Golkar tidak bisa orang lain mencampuri urusan internal partai Berlambang pohon beringin ini.

Yang pasti Setnov juga meminta kepada kadernya untuk berusaha agar Golkar pada Pilgub Riau 2018 menang. Walaupun syarat kursi sudah cukup untuk mengusung calon sendiri, namun dia mewanti- wanti untuk berkoalisi dengan partai lain. Tercatat meski Golkar berkoalisi tetapi paket calon yang dimajukan biasanya paket Golkar - Golkar. Sebut saja Rusli Zainal - Mambang Mit, Anas Ma'mun - Andi Rachman.

Harris, Yopi dan Syamsuar

Lalu bagaimana dengan Harris, Syamsuar, Yopi Arianto setelah Golkar menetapkan Andi Rachman. Haris yang dinyatakan tertinggi meraih dukungan oleh dua lembaga survei LSI dan Indo Barometer, tidak kendor semangatnya. Harris dengan tegas menyatakan tetap akan maju dalam Pemilihan Gubernur meski tanpa menggunakan perahu Partai Golkar.

Harris tetap optimis akan mendapatkan kendaraan melalui parpol lainnya. Bahkan Haris juga telah mempersiapkan diri jika nantinya tidak mendapat dukungan dari parpol akan menempuh melalui jalur independen .

Tidak didukungnya Haris oleh DPP Golkar ternyata tidak membuatnya berkecil hati, malahan disikapi dengan bijak. Apalagi peristiwa demikian juga sudah pernah dilewati tercatat waktu maju sebagai calon Bupati Pelalawan Harris tidak di usung Golkar.

Padahal Harris menjabat sebagai Ketua Golkar Pelalawan. Hebatnya Harris keluar sebagai pemenang dan tetap setia dengan Golkar meskipun partainya sendiri tidak mendukung. Akankah sejarah berulang kembali untuk Haris, tanpa di dukung Golkar menang.

Melihat sepak terjang dan kepiawaian Politisi senior sekelas Harris, banyak kalangan memprediksikan Harris akan mampu memperoleh dukungan parpol lain. Kabarnya dengan tidak mendapatkan perahu Golkar, Harris menjadi incaran banyak parpol yang siap memberikan dukungan. Boleh jadi karena parpol sudah membaca peluang Harris menang lebih besar. Dikabarkan parpol yang sudah inten komunikasi antara lain PDIP, PAN, PKS, Nasdem, Demokrat, Gerindera serta PKB.

Lalu apa kata Yopi Arianto dan Syamsuar, khusus Yopi kader Golkar yang selalu membayang-bayangi pada setiap lembaga survey. Dengan santun Yopi mengatakan meskipun dirinya sudah siap lahir batin untuk maju pada pilgub tetapi akan melihat situasi dan dinamika politik yang selalu berubah dengan dinamisnya.

Yopi Arianto mantan anggota DPRD Riau yang juga Bupati Inhu dua periode terus melakukan penjajakan dan memohon kelapangan dada dari para seniornya di Golkar jika pada akhirnya dia ikut bertanding. Hal yang sama juga dikatakan oleh Syamsuar Ketua Golkar Siak dan juga menjabat Bupati 2 periode.

Yopi Arianto dan Syamsuar sama-sama mempunyai basis masa yang riil dan dikabarkan sudah mendapat signal lampu hijau dari parpol antara lain PAN, PDIP, PKS, PKB, Hanura, Gerindera dan yang lainnya. Dari keempat kader Golkar yang muncul di survey. Sosok paling menarik untuk disorot adalah Yopi Arianto, karena Yopi kader muda Golkar yang selalu muncul namanya dalam setiap survei. Di samping diketahui punya basis dukungan yang riil dari paguyuban Jawa.

Melihat hasil survei, Yopi Arianto menjadi kartu joker di kancah pergumulan politik saat ini. Yopi yang pada pencalonan Bupati tidak diusung Golkar jelas punya basis masa sebagai kader Golkar. Di samping itu Yopi juga memiliki kedekatan persahabatan dengan PDIP, PAN, PKS dan Perindo. Terbukti pada pencalonan sebagai ketua Golkar Inhu Yopi tidak diusung Golkar melainkan oleh parpol lain.

Jika paket jagoan dari Golkar tetap sesama kader golkar alias Golkar- Golkar, maka posisi Yopi jika rela menjadi wakil Gubernur maka menentukan semua calon. Bisa jadi pasangan itu Haris - Yopi, Andi - Yopi atau Syamsuar - Yopi.

Lain halnya jika tidak terjadi paket Golkar - Golkar, maka tokoh politisi muda yang pernah dinobatkan sebagai Bupati termuda se Indonesia saat menjadi Bupati Inhu peiode pertama. Sosok Yopi berpotensi menjadi 'kuda hitam' untuk bertarung merebut kursi Gubernur, paket Yopi dangan kader PDIP. Paket Yopi - kader PAN. Yopi - kader Gerindera atau Yopi - Demokrat. Peluang untuk maju sebagai Gubernur atau Wakil Gubernur sangat besar.

Dengan melihat hasil survei Indo Barometer dari tiga orang kader Golkar elektabilitas Andi berada pada urutan nomor dua di bawah Haris lalu Yopi. Jika 3 orang tidak menemukan chemistry berpaket maka membuka 'lapak' tiga kader Golkar bertempur merebut kursi Gubernur.

Namun dari sejarah Golkar Riau yang selalu memaketkan sesama kadernya, berkemungkinan DPP Golkar 'memaksa' Andi digandengkan dengan Syamsuar, Haris atau Yopi. Persoalannya muncul apakah Syamsuar, Haris dan Yopi mau dijodohkan.

Dari hasil pengamatan selama proses sosialisasi terlihat ke empat orang kader Golkar saling berkunjung baik dalam agenda kerja maupun loby politik. Namun dari gestur tubuh yang diperlihatkan Hanya Haris - Yopi yang terlihat kompak dan saling mendukung. Boleh jadi meskipun Haris dan Yopi sebagai kader Golkar meski tidak di didukung Golkar akan berpasangan dengan mesra.

Andi dan Syamsuar, nampaknya akan tetap bersikukuh dengan niat awal yaitu sebagai Gubernur, bermakna sulit untuk dipasangkan. Perkembangan terkini justeru Syamsuar meski terlihat kikuk duduk dan berjalan dengan Firdaus ( Demokrat) saat acara di Kampar bersama tokoh Nasional Amin Rais.

Sebenarnya, Ada stok kader Golkar lainnya yang potensi meskipun tidak muncul di dalam survei yaitu Wardan Bupati Inhil dan Suparman Bupati Rokhul serta Septina Primawati Ketua DPRD Riau.

Bagaimana dengan calon lain di luar Golkar, Sebut saja Lukman Edy kader PKB yang pada survey mendapat dukungan tinggi, Begitu juga Achmad, Irwan Nasir serta Firdaus Wako Pekanbaru. Dengan dinamika yang berkembang setidaknya akan muncul satu calon di luar Golkar.

Maka ada tiga prediksi Pilgubri tahun 2018 pertama ada tiga pasang calon yang berlaga 2 pasang diantaranya kader Golkar. Kedua sedikitnya akan ada 4 paket 3 paket kader Golkar dan 1 parpol lainnya, ketiga juga mengemuka akan terjadi laga 'kambing' sesama kader Golkar yaitu poros Andi Vs poros Haris.

Akhirnya, kembali kepada hasil survey Indo Barometer yang baru saja dirilis dengan jumlah sampel sebanyak 800 responden, dengan margin of error sebesar 3.46 peren pada tingkat kepercayaan 95 persen, Bahwa calon incumben yang maju Pilkada namun memiliki tingkat kepuasan yang rendah di bawah 50 persen, biasanya tidak diinginkan kembali oleh masyarakat.

Dimana dari hasil survei menunjukan bahwa yang menginginkan Andi Rachman kembali menjadi Gubernur Riau sebesar 24,6 persen, ada pun yang tidak menginginkan sebesar 44,1 persen dan tidak tahu atau tidak menjawab sebesar 31,3 persen.

Untuk menguji dan membuktikan keakuratan lembaga survei tersebut hanya menunggu waktu saja. Apakah benar Andi tidak akan terpilih lagi lalu survei membuktikan Haris pemenangnya. Atau malah sebaliknya, akan ada kemunculan sosok pemimpin Riau baru.

Hal yang paling pasti saat ini adalah menjelang helat pilgubri, suhu politik sudah memanas sepanas udara langit diatas bumi lancang kuning - membuat para kader Golkar gerah ingin berebut berteduh di bawah pohon beringin.***

Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau

Share ke BBM


100000000
redaksi riaubook

Berita Terkini

Di Balik Berkah dan Musibah Dana Desa

Senin, 04 September 2017 - 09:51 WIB

Perubahan Iklim Lingkungan

Minggu, 06 Agustus 2017 - 10:18 WIB
Opini

Bangsa Cakap Indonesia

Minggu, 23 Juli 2017 - 14:09 WIB
Dirgahayu KNPI ke 44

Bangkit Pemuda Indonesia

Minggu, 23 Juli 2017 - 12:18 WIB
Opini

Nasihat Hukum untuk Presiden PKS

Kamis, 20 Juli 2017 - 00:00 WIB
Opini

Demokrasi Kita Terancam

Rabu, 19 Juli 2017 - 12:34 WIB
Opini

Setya Novanto Tersangka, Hadiah atau Musibah?

Selasa, 18 Juli 2017 - 18:25 WIB
Editorial

'Mati Suri' Pembangunan Daerah

Rabu, 12 Juli 2017 - 10:56 WIB
Editorial

Kembali Beraktivitas dengan Semangat Fitri

Senin, 03 Juli 2017 - 11:23 WIB

Mukjizat Terbesar

Rabu, 28 Juni 2017 - 15:03 WIB

Cerita Fiksi KPK

Minggu, 18 Juni 2017 - 18:52 WIB

Rahasia Malam Seribu Bulan

Sabtu, 17 Juni 2017 - 17:50 WIB

Menjadi Umat Terbaik

Sabtu, 17 Juni 2017 - 08:17 WIB

Dicari Segera Pemimpin yang Kuat Lagi Baik

Kamis, 15 Juni 2017 - 02:12 WIB

Ramadhan Luruskan Fitrah

Selasa, 13 Juni 2017 - 16:30 WIB
OPINI:

KPK dan OTT Recehan

Selasa, 13 Juni 2017 - 15:06 WIB

Dan Rakyat pun Berhak Curiga

Senin, 12 Juni 2017 - 19:28 WIB

Damailah, Jangan Seret Negara Berbuat Aniaya

Senin, 12 Juni 2017 - 15:41 WIB
Opini

Mengurai Kusut Masai RTRW Riau

Senin, 12 Juni 2017 - 10:12 WIB

Ramadan Bulan Kepedulian Sosial

Sabtu, 10 Juni 2017 - 14:12 WIB

Surga yang Teristimewa

Sabtu, 10 Juni 2017 - 11:57 WIB
OPINI

Pancasila Fondasi Rumah Besar "Indonesia"

Jumat, 02 Juni 2017 - 01:09 WIB

Bulan Harus Serakah Bersedekah

Selasa, 30 Mei 2017 - 17:37 WIB

Cara Pemuda Memaknai Bulan Ramadhan

Sabtu, 27 Mei 2017 - 17:07 WIB
OPINI

Pengorbanan Keniscayaan Jalan Dakwah

Kamis, 25 Mei 2017 - 00:36 WIB

Cari Judul Berita




Galeri Riau Pustaka Lingkungan Dunia