Riau Book - Belanda mewariskan feodalisme yang sampai sekarang masih bertahan. Sistem pertahanan budaya —yang semula diagung-agungkan dengan istilah kearifan lokal—sesungguhnya telah mengelupas hingga ke bagian terdalam.
Meski masih juga mengaku sebagai bagian dari masyarakat timur yang ramah, namun apa yang disaksikan di jalan raya —justru sebaliknya. Budaya menerabas, tak betah dengan antrian, saling membentak dengan klakson, tak menghargai pejalan kaki yang melintas, menerobos lampu merah jika polantas tak di tempat, tak menyadari bahwa helm adalah untuk keselamatan tengkorak sendiri —dan seterusnya.
Berpidato di Kampus Institut Kesenian Jakarta pada 6 Apri 1977 —Budayawan Mochtar Lubis mencirikan sifat orang Indonesia ke dalam enam kategori: Hipokrit alias munafik, enggan bertanggungjawab, feodal, percaya takhyul, artistik serta lemah dalam watak dan karakter.
Karena tercatat sebagai salah seorang warga Indonesia —-diyakinkan dengan KTP, maka penulis kolom ini coba mereka-reka, dimanakah diri ini tersangkut. Di kategori mana awak kena. (Baca: Parodi Media, Pers Pisau Bermata Dua)
Hipokrit alias munafik: kena sikit. Contohnya bercita-cita naik haji namun ragu apakah perilaku akan berubah sepulang dari Mekah. Tak yakin kebiasaan mencarut dapat diberantas. Kebiasaan ini belakangan malah kian subur saja --terutama sejak asap mengepul mengepung negeri.
Soal bertanggungjawab, agaknya tak banyak yang perlu dicemaskan: Pajak kendaraan dibayar terus meski dengan penuh keterpaksaan. Terpaksa mengingat apakah uang hasil jerih payah itu tak dikantongi orang-orang semacam Gayus Tambunan. (Baca: Berita paling populer)
Tanggungjawab ke teman-teman juga tak terlalu bermasalah meski sering HP membuat awak berbohong. Janji bertemu dibatalkan dengan alasan badan diri di luar kota—padahal berjarak hanya beberapa meter dengan yang dijanjikan. Untuk kategori feodal, dipastikan tak separah kawan-kawan. Mereka parah-sangat.
Tak menghargai proses. Kerja mau sedikit hasil ingin banyak. Malas tapi maunya cepat kaya. Inginnya dapat pensiun dan oleh karenanya mau bayar asal jadi PNS. Sedapat mungkin dihormati meski perilaku sedemikian jahanam. (Baca: Terimakasih Pembaca Budiman)
Kelima menyangkut kategori percaya takhyul. Dalam hal ini banyak awak kena. Dibanding kawan-kawan —diri yang tak seberapa ini--justru lebih parah. Mengaku tak takut hantu tapi menggigil saban lihat daun pisang melambai ditiup angin saat lewat dekat kuburan dimana langit berbulan sepotong tertutup awan hitam dan dari kejauhan terdengar suara lolongan anjing.
Soal kelima adalah kategori artistik. Menyukai seni. Yups! Ini awak betul. Bangga mengaku jadi seniman --dan jebolan akademi kesenian-- meski tak ada karya dan bingung atas lapangan pekerjaan yang dijanjikan. Seniman di negeri ini sebetulnya sudah lama pergi. Keberadaan mereka telah digantikan pemborong.
Terakhir adalah soal lemah watak dan karakter. Mochtar Lubis pasti tak sedang bercanda. Karakter yang tak jelas itu setidaknya terangkum dari tulisan di atas. Saking lemahnya watak dari penulis kolom ini: hingga tulisan tak pernah menyinggung bahwasanya bangsa ini tengah sakit. Parah.
Kritis atas asumsi bahwa sesungguhnya kita semua sudah tahu tentang kemunafikan di sekeliling namun tak kuat dalam mengubahnya. Sebagian kita acuh, sibuk sendiri dengan hal-hal yang menguntungkan diri atau kelompok. Mempraktekkan standar iman paling rendah, yakni cukup melawan dalam hati. Diam saja saat dipungli. Tak mau melapor sebab tak mau rumit.
Kita keburu meganggap bahwa yang terjadi di negeri ini tak lebih dari tontonan —dan memosisikan diri sebagai saksi-bisu. Jika diminta berkomentar, maka paling tinggi cuma kalimat ikut prihatin.
Saat ada yang berdemo hinga berdarah-darah memperjuangkan agar harga BBM yang akan mengisi tangki mobil awak --tak naik, maka awak cuma memandang dari balik kaca mobil —salut mengapa ada orang demo hingga baju cabik —muka bengkak. Paling menggenaskan adalah saat mencoba beradaptasi dengan segala kebobrokan.
Muncul kesimpulan jika tak menyogok —lusa tak lagi dapat proyek. Jika tak menjilat tak dapat jabatan. Menjadi imun saat menyaksikan wajah para koruptor satu demi satu tersenyum di televisi. Menganggapnya sebagai orang sial saja —seraya meramal awak tak akan kena sebab main lebih ciamik. Menghindar dan mencoba mencari cantelan baru —saat pejabat yang selama ini dipuji-puji terkaing-kaing masuk bui.
Nah, di bagian mana Anda kena. Saya sendiri tak yakin apakah tulisan ini ditujukan buat Anda atau lebih banyak buat saya sendiri. Wew...
(*) Penulis Yusril Ardanis Sirompak(*) Redaktur Pelaksana RiauBook.com
(*)Ketua Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia/IJTI Riau.



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…