Riau Book - Bagi Hermansyah, kepedulian terhadap lingkungan adalah harga mati, walau mati karena tak bergaji. Sementara bagi Harianto, loyalitas untuk menjaga harkat martabat bangsa ini harus tinggi, meski gajinya tak setinggi cita-citanya.
"Kami adalah Masyarakat Peduli Api Desa Tanjung Leban, Bangkalis. Bekerja sejak 2009, tanpa gaji," kata Hermansyah mengaku sebagai Ketua MPA di desa yang berada di pinggiran laut berbatasan dengan Selat Malaka itu, Jumat 16/110/2015) siang.
Kalimat itu seakan deklarasi perjuangan tanpa pamrih, demi lingkungan, dan demi harkat dan martabat bangsa.

Foto: Pemadaman
Hermansyah, mengikuti kisah bencana asap yang tragis sejak enam tahun silam. Bersama timnya yang berjumlah 20 orang, dia menyatakan siap untuk menjaga lahan gambut yang berada di desa dengan daratan seluas kurang lebih 25 ribu hektare itu agar tidak membara.
Sepeda motor butut jenis bebek menjadi saksi perjalanan Hermansyah, Harianto (Wakil Ketua MPA) dan teman-teman seperjuangan lainnya. Mereka selalu patroli, tak kenal waktu, pagi, siang dan malam, meski untuk membeli seliter minyak kendaraan sajapun "megap-megap".
"Memang, dalam setahun itu kami mendapatkan dana bantuan pemerintah yang nilainya Rp70 juta. Tapi belum lagi berganti tahun, dana itu sudah tersedot, habis," katanya.

Foto: Pemadaman menggunakan ember
Bayangkan, lanjut pria berkumis tipis itu, dalam setahun ada banyak kejadian kebakaran lahan di desa ini. Dalam satu kali operasi pemadaman saja, memakan biaya paling sedikit Rp10 juta. Artinya apabila dalam setahun terjadi tujuh kali kebakaran lahan saja, dana itu pun lenyap.
Lantas gaji atas jirih payah? "Hanya tuhanlah yang tahu," kata pria kurus itu menjawab dengan nada sangat pelan.
Selama tiga tahun tercatat sejak 2009 hingga 2011, Hermansyah mengakui, dia dan 19 orang anggota MPA bekerja secara suka rela, kerja bhakti, sesuai slogan Jokowi; "Kerja, kerja, kerja".
Suka, dan rela mati jika suatu saat gambut terbakar dan menelan tubuh dekilnya, kerja dengan bhakti negara yang terbukti kurang mempedulikan nasibnya.

Foto: MPA membuat skat kanal
"Jangankan untuk gaji, selama tiga tahun itu kami sudah banyak mengajukan permohonan, mungkin ribuan permohonan untuk penambahan peralatan, tak satupun ditanggapi. Hanya ada bantuan beberapa mesin penyemprot murahan merk robin, itupun diberikan sejak pertama dibentuk MPA ini. Setelah itu? kami suka rela, kerja bhakti bahkan tanpa alat yang lengkap, sudah rusak," katanya.
Barulah pada tahun 2012, pemerintah daerah kemudian menganggarkan gaji untuk MPA. Lumayan, awlanya Rp250.000 sebulan, kemudian dalam setahun ini sudah naik jadi Rp300.000 sebulan. Gaji tersebut jauh lebih kacil dibandingkan gaji pebantu rumah tangga. "Namun jika dibandingkan gaji sama uang masuk anggota dewan, mengerikan," katanya.
"Mau makan apa?" Hermansyah dan rekannya itu hanya diam.

Foto: Pemadaman
Hermansyah, Harianto dan belasan anggota MPA Tanjung Leban, sehari-hari mereka bekerja sebagai nelayan di laut yang kini mulai tercemar limbah idustri, ikan pun kian sulit didapat.
"Kalaupun ada cukup untuk makan saja," kata Jumani, anggota MPA yang turut duduk di kedai nasi sederhana di pinggir jalan, tepi laut. Siang itu cuaca terik, asap tipis masih menyelimuti sebagian besar kawasan meski musim kebakaran lahan sudah usai.
Jumani melanjutkan kisah heroiknya. Pernah suatu malam, dimusim kemarau tahun ini, terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan beberapa hektare lahan, api menyala, berkobar, namun tak melebihi semangat juang sang heroik.
Waktu itu, kebakaran berlangsung lama karena upaya pemadaman sangat tidak didukung oleh peralatan. "Tapi ini adalah tanggung jawab. Kami yang tanggung bebannya, yang jawab biasanya pilitikus," kata dia.
Jumani selaku ketua regu pada Tim MPA Tanjung Leban mengerahkan kemampuan penuh, namun kobaran api kian parah. "Terpaksa kami meminta bantuan dari tenaga pemadam dari perusahaan tetangga," katanya.

Foto: Pemadaman
Tidak lama kemudian, tim pemadam dari PT Bukit Batu Hutani Alam (BBHA) datang dengan peralatan mencukupi. "Hingga pukul 02.00 dini hari, kami pekerja, mengupayakan agar api tidak menjalar ke lahan yang lebih luas lagi," kata dia.
Dengan bantuan tim dari perusahaan tetangga, lanjut dia, api akhirnya dapat dipadamkan. "Anda tahu? itu adalah lahan yang dibeli orang luar dari warga desa kami, namun kemudian diterlantarkan begitu saja. Terbakar, tak tahu tuannya," kata dia.
Lahan di Desa Tanjung Leban, Bengkalis terlihat memang sudah tidak dalam berbentuk hutan perawan. Kalaupun ada, sudah dalam bentuk semak berlukar, hutan janda yang tinggal pergi pemiliknya. "Tidak lama lagi pasti sudah jadi kebun sawit," katanya.
"Yang jelas, hampir 80 persen dari luas daratan di desa ini, adalah lahan perkebunan karet dan sawit. Lahan karetnya kebanyakan milik warga tempatan, sementara kebun sawit kebanyakan milik orang luar," kata Herianto menyambung kalimat rekannya itu.
Dia katakan, sebanyak 40 persen dari lahan yang telah menjadi perkebunan itu, adalah milik warga luar desa yang kebanyakan tinggal di perkotaan. Mereka membelinya dari warga desa, kemudian bekas pemiliknya itu diminta untuk menjadi buruh lepasnya.
Sungguh malang, warga desa harus menjadi buruh lepas, menjaga lahan yang dijualnya ke pihak luar akibat himpitan ekonomi yang luar biasa. Heroik, sebutan yang pantas bagi mereka yang rela berkorban, menjaga lahan bukan milik mereka dari lalapan api pengepul asap yang sejak beberapa pekan dihirup jutaan jiwa, bahkan membuat harkat dan martabat bangsa ini terperosok, jauh.
Heroik, jasamu tak lekang karena waktu, tak pula lumpuh terpapar asap, dan tetap akan utuh meski kelak bara api mencelakakan mu, dan negara baru menyadari pentingnya keberadaan kalian. (RB)Baca juga:Jokowi mulai sangar karena asap
Puisi derita asap
Petinggi perusahaan dicekal karena asap
Peduli asap
Dokter korban asap



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…