KEKUATAN politik layaknya alutsista, diukur dari seberapa tangguh amunisi yang dimiliki untuk menghancurkan musuh-musuhnya.
Dalam pertarungan Pilpres 2019, tidak dipungkiri pasangan Joko Widodo - Ma'aruf Amin (Jokowi-Amin) memiliki segalanya, layaknya Rusia dalam persiapan perang dunia ke III.
Berbeda dengan 01, pasangan 02 Prabowo Subianto - Sandiaga Salahudin Uno (Prabowo-Sandi) yang menjadi rival tunggal, dalam analisa kekuatan perang politik lebih mengandalkan intelijen propaganda darat dan peperangan udara, layaknya AS.
Kapal Induk
Sejak ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada akhir September 2018, pasangan 01 mulai menata kekuatan politik dengan membangun kapal induk canggih.
Layaknya Kapal Induk Admirak Kuznetsov milik Rusia, 01 memiliki pertahanan 'antirudal' yang mampu menahan gempuran udara lawannya.
Sejumlah tokoh politik dan tokoh militer terbaik menjadi benteng kuat dalam pertahanan 01.
Sebut saja Luhut Binsar Panjaitan, pendiri Pusat Intelijen Strategis/Pusintelstrat, BAIS ABRI (1983) ini bertugas sebagai Punggawa I atau perisai utama dengan membentuk pasukan bayangan, layaknya Tank Armata Rusia.
Kemudian Wiranto, mantan Panglima ABRI (Pangab) diakhir Era Soeharto ini memposisikan diri sebagai Punggawa II, bertugas sebagai pelindung sekaligus amunisi penghancur rudal musuh, layaknya kapal jelajah Pyotr Velikiy.
Selanjutnya Moeldoko, mantan Panglima TNI era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini menjadi Punggawa III yang mengambil tindakan progresif seperti Roket Hipersonik YU-71.
Selaku Punggawa IV pasangan 01, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (2001-2004) Hendropriyono berperan sebagai ahli strategi yang menganalisa kemungkinan-kemungkinan masa depan.
Dan punggawa terakhir Jokowi-Ma'aruf adalah Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) saat ini, Budi Gunawan yang memiliki peranan sebagai mekanik yang bertugas memperbaiki sejumlah kerusakan alat politik.
Baik Hendropriyono maupun BG layaknya Kapal Selam Nuklir Yury Dolgorukiy yang mampu memetakan situasi dan kondisi sebelum penyerangan musuh begitu mematikan.
Dengan kondisi penguasaan dan kecanggihan alutsista yang ada, maka di atas kertas pasangan 01 akan memenangkan pertempuran Pilpres 2019 dengan terstruktur, sistematis dan masif.
Hal itu diperkuat pula dengan hasil sejumlah lembaga survei yang menempatkan pasangan Jokowi-Ma'aruf pada posisi di atas angin.
Kekuatan Darat dan Udara
Meski digambarkan memenangi Pilpres 2019, namun pasangan 01 tampaknya harus mewaspadai serangan darat dan udara yang kini sedang digencarkan para militan dan ahli strategi perang 02.
Layaknya kekuatan udara Amerika Serikat (AS), kekuatan alutsista pasangan Prabowo-Sandi mampu memenangkan pertempuran dunia maya.
Hal itu dibuktikan raihan survei di sejumlah media sosial yang rata-rata menggambarkan dominasi kemenangan bagi pasangan Capres 02.
Begitu juga dengan upaya serangan darat 02 yang begitu masif. Kondisinya persis dengan kekuatan alutsista darat milik AS yang begitu menakutkan.
Berbeda dengan paslon 01, para punggawa pasangan Prabowo-Sandi merupakan para militan yang merancang pergerakan dari kalangan mayoritas.
Sebut saja Muhammad Rizieq Shihab. Pendiri Front Pembela Islam (FPI) ini layaknya bom waktu bagi pasangan 01, ledakannya terbukti mampu membangkitkan amarah ulama untuk menentang rezim lewat pergerakan tagar (#) 2019GantiPresiden.
Namun puncak dari pertempuran dua kekuatan itu baru akan terjadi pada pertengahan April mendatang.
Kemungkinan menang pasangan 01 lebih besar, namun posisi kekuasaan pada saat itu bisa jadi berada di tangan 02.
#fzr


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…