RIAUBOOK. COM -Pelantikan badan pengurus daerah Himpunan Pengusaha Muda (HIPMI) Provinsi Riau periode 2017-2020 diisi dengan peluncuran dan bedah buku "Bangkitnya Enterpreneur Nasionalis" karya Abdul Latief, di hotel Pangeran, jalan Sudirman, Pekanbaru (9/11/2017).
Acara tersebut dihadiri oleh ketua umum HIPMI, Bahlil Lahadalia, ketua DPH LAM Riau, Syahril Abu Bakar, Wakil Wali Kota Pekanbaru dan Badan Eksekutif Mahasiswa se-Provinsi Riau.
Abdul Latief sebagai penulis, menceritakan mulai dari awal niatnya menjadi seorang entrepreneur hingga keingininan kuat dirinya untuk membangkitkan martabat bangsa, hingga perjalanan seorang Abdul Latief mendirikan Hipmi pada tanggal 2 Juni 1972 hingga sekarang.
"Buku tersebut saya tulis atas banyak permintaan dari teman-teman untuk saya menuliskan sebuah buku, Hipmi itu lahir mulai dari satu Proklamasi, karena itu menjadi bagian hidup saya, hidup orang tua saya," kata Abdul.
Dikatakannya, sejak usia 13 tahun ia sudah mendengar kalimat proklamasi, saat itu ia lantas bertanya pada diri sendiri "apaka kita sudah merdeka?"
Sampai 72 tahun Indonesia merdeka, lanjut Abdul Latief ekonomi belum bisa dikuasai, ekonomi masih dikuasai korporasi asing.
"Saya terkejut bahwa negara maju memiliki minimal 14% Enterpreneur, mereka mau membangun usaha dengan mengambil resiko, kita hanya 1 % dan paling rendah dibandingkan Malaysia, Singapura, jepang, Cina," kata mantan menteri tenaga kerja era Presiden Soeharto tersebut.
Menurut Abdul Latief pengangguran bisa diatasi karna ada kesempatan kerja, kesempatan kerja ada karena para pengusaha dan ada empat pola pengusaha, yaitu, seorang yang mewarisi usaha orang tuanya, seorang yang bercita-cita dan belajar jadi pengusaha, seorang anak pejabat yang difasilitasi menjadi pengusaha oleh orang tuanya, dan prang yang putus asa karena tidak mendapat pekerjaan.
Pada akhir pemaparannya, ia mengatakan kalau saat ini dirinya masih cemas, karena banyaknya perusahaan besar yang belum tergabung ke HIPMI dan belum memberikan kontribisi yang berarti bagi masyarakat, Hipmi juga harus menjadi akademi kepemimpinan.
"Saya masih belum happy, karena masih banyak korporasi-korporasi besar nelum anak Hipmi, kita masih dijajah, maka itu saya akan terus awasi itu," ujarnya.
Sementara itu, pada kesempatan tersebut, ketua DPH LAM, Datuk Seri Syahril Abu Bakar mengingatkan kepada putra-putri Melayu untuk kembali menjadi pengusaha.
"Balik ke jati diri kita sebagai orang melayu, melayu ini adalah orang berniaga, melayu adalah saudagar," sebut Syahril. (RB/Dwi)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…