RIAUBOOK.COM - Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Riau Yusri, memberikan paparan data terkait kinerja Bank Riau Kepri (BRK) dalam konfrensi pers yang diadakan pada Senin (9/4/2018), dirinya siap mempertaruhkan jabatannya dalam menjamin data yang disampaikannya.
"Data yang kami sampaikan adalah data hasil pengawasan kami, saya nyatakan, bahwa apa yang saya lakukan hari ini, apa yang saya sampaikan hari ini, kami lakukan secara profesional, tidak ada kepentingan pihak manapun yang kami bawa kesini, kami sebagai otoritas pengawas yang diamanatkan Undang-Undang bekerja secara independen dan profesional, tidak satu pihak pun yang kami lindungi disini, kami menyampaikan data apa adanya, kami hanya meluruskan berita-berita keliru yang selama ini ada diluar.
Ini saya pertanggung jawabkan secara jabatan saya, secara profesional, tolong itu dicatat," tegas Yusri.
Berdasarkan data yang dipaparkan OJK, Yusri menyimpulkan, saat ini Bank Riau Kepri dalam keadaan sehat dan tidak terdapat sinyal-sinyal kebangkrutan.
Dari segi kepengurusan, saat ini BRK memiliki tiga orang Komisaris, dua orang Dewan Pengawas dan tiga orang Direksi, OJK menilai, kepengurusan tersebut sudah memenuhi syarat dan ketentuan minimal jabatan Direksi di BPD (Bank Pembangunan Daerah), meski jabatan Direksi idealnya adalah 5 orang.
"Meski kekurangan dua Direksi, Direktur Dana dan Jasa serta Direktur Kredit dan Syariah, tapi kekurangan dua Direksi ini sudah dirangkap oleh Direksi lainya, secara ketentuan jumlah Direksinya sudah terpenuhi," kata dia.
Bank Riau Kepri dimiliki 21 pemegang saham, terdiri dari dua provinsi (Riau dan Kepri) dan kabupaten/kota yang berada dalam provinsi tersebut, pengendali saham saat ini adalah Pemprov Riau dengan komposisi kepemilikan saham sebesar 32,66 persen.
Total modal disetor saat ini adalah 1,56 triliun, modal itu adalah modal-modal yang benar-benar telah disetorkan oleh pemegang saham.
Untuk jaringan kantor, BRK telah mengalami perkembangan sejak tahun 2015, diantaranya adalah Kantor Cabang, tahun 2015-2016 BRK hanya memiliki 19 Kantor Cabang, sementara pada tahun 2017 BRK telah memiliki 20 Kantor Cabang.
Pada tahun 2015 BRK hanya memiliki Kantor Cabang Pembantu (Capem), di tahun 2017 BRK telah memiliki 77 Capem, tahun 2015 BRK hanya memiliki 36 Kantor Kas, pada tahun 2017 BRK telah memiliki 41 Kantor Kas.
BRK pada tahun 2015 hanya memeliki 7 Point Payment, ditahun 2017 BRK menambah 1 Point Payment menjadi 8.
Tolat ATM/CDM BRK ditahun 2015 sebanyak 198, ditahun 2017 mengalami penambahan menjadi 215, sedangkan untuk ULS (Unit Layanan Syariah) dari tahun 2015 tidak terjadi penambahan yakni sebanyak 52 unit, sama halnya dengan Kas Keliling yang dari tahun 2015 hanya terdapat 6 unit.
"Dari jaringan kantor termasuk ATM, kami menilai BRK sudah mampu untuk melayani masyarakat yang ada di dua provinsi, Riau dan Kepri" kata Yasri.
Untuk kinerja keuangan, per Desember 2011 aset BRK senilai Rp 17,1 triliun, sementara per Desember 2017, aset BRK sudah mencapai Rp 25,6 triliun.
"Dari grafiknya, selama 5 tahun terakhir tumbuh sebesar 30, 41 persen," kata Yusri.
Total kredit BRK per Desember 2011 sebanyak Rp 8,6 triliun, pada Desember 2017 telah mencapai Rp 15, 5 triliun, hal tersebut menunjukan kredit di BRK mengalami pertumbuhan sebesar 30,17 persen.
Dana pihak ketiga (DPK), selama 5 tahun terakhir mengalami pertumbuhan sebesar 21,09 persen, dari Rp 13, 2 triliun (Desember 2011) menjadi Rp 16,5 triliun (Desember 2017).
Untuk Modal, tahun 2011 BRK memiliki modal Rp 1,4 triliun, sedangkan pada tahun 2017 BRK telah memiliki modal sebesar Rp 2,7 triliun.
"Ini modal keseluruhan, ada dana cadangan, ada laba tahun berjalan, laba yang belum dibagi, ini ada disini, 2017 modalnya sudah Rp 2,7 triliun, artinya ini Bank ini sudah masuk katrgori Bank Buku 2 (Bank Umum Kelompo Usaha), peningkatan modalnya dalam 5 tahun terakhir 40,50 persen dan itu sangat tinggi sekali dalam peningkatan modalnya, selama tahun 2017 peningkatan modalnya ada 26,35 persen," tutur Yusri.
Untuk Net Income (kemampuan Bank dalam meningkatkan laba), pada tahun 2011, tercatat laba di BRK sebesar Rp 280 miliar, sementara pada tahun 2017 sudah meningkat mencapai Rp 412 miliar.
"Kalau kita lihat dari sisi pertumbuhannya memang ada pertumbuhan negativ, kenapa bisa seperti itu?, karena ada kebijakan pemerintah, ada imbauan pemerintah kepada Perbankan untuk menurunkan suku bunga kredit, ketika suku bunga kredit diturunkan pasti berdampak pada penurunan laba di Perbankan, disisi lain, penurunan pihak ketiga itu tidak secepat dengan penurunan suku bunga, sehingga penurunan net income nya masih bagus, kita bisa lihat dari sisi rasionya," Yusri menjelaskan.
Kata Yusri, kalau mau mengetahui Rasio Perbankan, harus melihat sisi rasio Bank tersebut.
"Kita lihat CAR (Capital Adequecy Ratio) nya, Bank ini pada tahun 2011 itu sebesar 19,58 persen, OJK mensyaratkan CAR Bank itu minimal 8 persen, sementara CAR BRK tumbuh dari yang tadinya di 2011 sebesar 19,58 persen menjadi 22,09 persen, artinya itu cukup aman untuk mengcover berbagai resiko yang akan muncul seperti peningkatan kredit yang bermasalah, gangguan makro ekonomi dan lain sebaginya," kata Yusri.
Yusri juga menyatakan, dengan besaran nilai CAR yang dimiliki oleh BRK saat ini, Bank tersebut cukup aman untuk melakukan ekspansi kredit.
"Karena dia punya CAR yang kuat, CAR nya tumbuh 29,3 persen selama 5 tahun, CAR 29,3 persen ini sama dengan CAR Perbankan Nasional, hal itu sangat baik dan sangat sehat sekali," tutur Yusri.
Dari sisi NPL (Non Performing Loan) BRK yang pada angka 3, 92 persen, OJK masih mentolerir hal tersebut dikarenakan OJK menentukan target indikativ NPL maksimal Perbankan sebesar 5 persen.
"Ini NPL Gross, kalau kita melihat NPL Net nya, itu hanya 0,10 persen artinya semua kredit yang bermasalah itu sudah tercover dengan dana cadangan yang cukup, kalau mau diselesaikan, itu tidak akan mengganggu permodalan Bank," kata Yusri.
Dari sisi ROA (Return of Asset) atau kemampuan Bank untuk menghasilkan laba, ROA BRK saat ini tercatat 2,28 persen.
"ROA ini masih sehat, ROA yang sehat itu minimal 1,4 persen ini jauh diatas persyaratan minimal ROA sehat," ujarnya.
Untuk ROE (Return Of Equity) atau kemampuan Bank menghasilkan laba terhadap modal Bank, saat ini BRK tercatat memiliki angka ROE sebesar 13,61 persen.
"Ini adalah angka yang sehat, walaupun terjadi penurunan dari 18,21 persen menjadi 13,61 persen, ini masih angka yang sehat sekali, kalau kita bandingkan dengan Suku Bunga Deposito sekarang sebesar 5-6 persen, sementara BRK mampu melahirkan 13,61 persen dibandingkan terhadap modal Bank," tuturnya.
Dari sisi BOPO ( Biaya Oprasinal Pendapatan Oprasinal) yang mencerminkan efisiensi pengelolaan Bank, BRK mengalami penurunan nilai BOPO, tahun 2011 BOPO BRK 84,38 persen, sementara di tahun 2017, nilai BOPO BRK ada pada angka 77,06 persen.
"Semakin kecil BOPO ini, mencerminkan bahwa Bank itu efisien, kalau kita lihat angka tersbut, pengelolaan BRK sudah dilakukan secara efisien," ujar Yusri.
Sedangkan dari sisi LDR (Lone to Deposite Ratio) yang mencerminkan intermediasi dari Perbankan, terkait jumlah dana yang diterima, jumlah dana yang di input dan disalurkan kembali kepada masyarakat, BRK memiliki angka 94, 10 persen.
"Artinya, pengelolaan fungsi intermediasinya sudah berjalan efektif diangka tersebut, dan Net Interest Margin nya dari BRK ini di angka 5,22 persen, dan ini adalah angka yang sangat baik," kata Yusri.
Yusri mengatakan, data dan hasil penilaian terhadap BRK tersebut, juga merupakan data disampaikan pihaknya kepada Komisi C DPRD Riau.
"Data yang saya paparkan tadi sudah saya paparkan kepada seluruh anggota Komisi C pada Kamis yang lalu, ada Ketua dan ada Wakil ketua DPRD Riau pak Sunaryo, artinya, data-data saya sudah saya dibahas dan saya diskusikan dengan Komisi C, data saya ini bisa saya pertangguang jawabkan, dalam bentuk kordinasinya, ketika Komisi C membutuhkan penjelasan kita siap memberikan penjelasan kepada komisi C terkait kinerja BRK dan Bank-Bank lain yang ada di Riau berdasarkan tugas-tugas OJK" demikian Yusri. (RB/Dwi)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…