RIAUBOOK.COM - Nasib tragis bagi masyarakat pedalaman Provinsi Riau, mereka harus menanggung susah akibat infrastruktur yang memprihatinkan, namun disisi lain pemda justru menganggarkan nilai yang fantastis untuk membangun Mapolda dan Kantor Kejati Riau sebesar Rp250 miliar.
Pemprov Riau menggelontorkan dana pembangunan Gedung Kejati dan Polda Riau sekitar Rp 250 miliar pada APBD tahun ini, sementara sejumlah infrastruktur masyarakat seakan terabaikan. Di Desa Teluk Kiambang, Tempuling, Inhil ada juga jembatan yang lapuk.
Untuk diketahui, saat ulini proyek pembangunan dua gedung megah masih berjalan. Proyeknya ada dua yakni gedung Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau di Jl Sudirman, persis posisinya di berseberangan dengan Kantor Gubernur Riau. Untuk sementara karena lagi dibangun gedung baru, Kantor Kejati Riau pindah sementara ke Jl Arifin Achmad, Pekanbaru.
Proyek pembangunan gedung kejaksaan dengan nilai lelang proyek sekitar Rp 89 miliar. Pembangunan yang sama dari dana APBD Riau juga digelontorkan untuk gedung Polda Riau. Nilai proyeknya sekitar Rp 161 miliar. Kedua gedung ini, masih sama-sama dikerjakan. Pembangunan gedung Polda Riau ini berada di eks Sekolah Polisi Negara (SPN) Polda Riau, di Jl Pattimura, kawasan Gobah, Pekanbaru.
Di tengah pembangunan kedua gedung instansi vertikal yang didanai Pemprov Riau ini, tidak sebanding dengan kondisi jembatan usang di Kab Inhil Riau itu. Jembatan yang melintang di atas sungai itu terbuat dari pancang-pancang kayu. Jembatan itu dibiarkan begitu saja sebagai lintasan 'maut' warga setempat.
Di atas jembatan, dilintangkan juga papan-papan lapuk yang susunannya tak tentu arah. Jembatan ini pun mering ke kiri dan ke kanan tak beraturan. Di atas jembatan itu, akses warga saban hari.
Anak-anak SD saban hari melalui jembatan yang penuh risiko itu. Mereka berjalan tertatih-tatih karena tak ada tiang untuk berpegangan. Mereka berjalan kadang membentangkan kedua tangannya untuk penyeimbangan badan agar tidak jatuh. Sungguh miris.
"Yang kami khawatirkan itu kalau-anak-anak pergi dan pulang sekolah. Mereka jarang ditemani orang tuanya, karena orang tuanya juga sibuk bekerja," kata Ketua RT setempat, Masrial dalam perbincangan dengan detikcom, Selasa (7/8/2018).
Jembatan kayu ini sudah 10 tahun tak terurus dengan baik. Jika ada papan yang lapuk, warga pun menggantinya secara swadaya. Belum ada perhatian dari Pemprov Riau atau Pemkab Inhil.
"Kita bergotong royong kalau ada papan-papan yang mulai lapuk. Tapi ya gitulah, kondisinya tetap saja membahayakan buat anak-anak yang melintas," kata Masrisal.
Saban hari, ada 30 anak SD yang melintasi jembatan ini untuk pergi dan pulang sekolah. Sebenarnya ada jembatan yang layak dilalui dengan kendaraan roda dua dan roda empat. Hanya saja, jaraknya sekitar 2 Km dari desa itu.
Sehingga, jembatan papan yang busuk itu tetap menjadi primadona sebagai akses utama warga setempat. Termasuk para orang tua di sana. Untuk salat jumat, mereka juga harus melintas di jembatan itu.
"Masjid untuk salat jumat ada di seberang RT kami, ya jadi memang jembatan ini buat akses semua warga di desa kami," kata Masrisal.
sumber detik


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…