RIAUBOOK.COM - Meski dihadapkan dataran tandus dan cuaca panas ekstrim hampir sepanjang tahun, namun kondisi itu tidak meyurutkan ambisi Dubai untuk mewujudkan proyek prestiusnya, seperti halnya beternak ikan Salmon di tengah gurun pasir.
Negeri 'Petro Dolar' ini memang tak asing dengan proyek ambisius, sebelumnya mereka membuat pulau berbentuk palem di lepas pantai, lereng ski berskala penuh dibuat di dalam mal.
Kini, Dubai berusaha menciptakan hangatnya matahari terbit dan terbenam seperti di Norwegia serta membuat rekayasa pergerakan arus seperti di Samudera Atlantik sehingga memungkinkan menjadi habitat ikan Salmon agar bisa tumbuh sehat.
"Tetapi beternak salmon di padang pasir adalah sesuatu yang tak bisa dibayangkan oleh siapa pun," kata Bader bin Mubarak, kepala eksekutif Fish Farm, dilansir RiauBook.com dari CNN Indonesia mengutip AFP, Rabu (20/11/2012).
"Ini persis apa yang kami lakukan di Dubai." tambahnya.
Fish Farm membeli sekitar 40 ribu benih ikan Salmon dari tempat penetasan di Skotlandia untuk dibesarkan di tangki terbuka di selatan Dubai, Jebel Ali.
Kombinasi sejuknya cuaca Norwegia dan arus berfluktuasi dari Atlantik diciptakan di panasnya gurun Dubai untuk 'memanjakan' ribuan ikan Salmon dalam tangki.
"Kami memberikan mereka matahari terbit, terbenam, pasang arus kuat atau arus sungai sederhana, dan kami punya perairan yang dalam dan dangkal," kata Mubarak kepada AFP.
"Kami memberikan pencahayaan dan mirip laut dalam, arus kuat seperti lautan dengan salinitas (garam) dan suhu Atlantik yang sama."
Bahkan bagi Dubai, membangun peternakan ikan di sepanjang perbatasan selatan Emirat adalah upaya yang sangat menantang.
Salmon biasanya hidup di perairan dingin seperti di Islandia, Norwegia, Skotlandia, dan Alaska. Kondisi ini berbaning terbalik dengan suhu di Dubai yang bisa mencapai 45 derajat Celcius. Inilah sebabnya budidaya Salmon di gurun adalah tantangan besar.
"Menciptakan lingkungan untuk Salmon adalah hal tersulit yang kami hadapi," kata Mubarak.
Tangki-tangki ini diisi dengan air laut yang dibersihkan dan disaring. Setiap bulannya tambak ikan salmon ini menghasilkan 10-15 ribu kilogram salmon. Jumlah yang cukup fantastis.
Tambak ikan ini didirikan pada 2013 dengan dukungan Putra Mahkota Dubai Sheikh Hamdan bin Mohammed bin Rashid Al-Maktoum. Selain salmon mereka juga beternak ikan amberjack Jepang yang dipakai untuk menyiapkan sushi.
Meski dianggap fantastis dan revolusioner, namun ada pro dan kontra ekologis dari budidaya ikan di 'darat' dibanding di ekosistem aslinya.
"Ada kekhawatiran kesejahteraan hewan tentang memelihara ikan yang seharusnya alami di laut tapi ini di tangki tertutup," kata Jessica Sinclair Taylor dari Feedback Global, kelompok lingkungan yang berbasis di London.
Selain itu beberapa pihak juga mengkhawatiran tentang kebutuhan energi dan emisi karbon terkait proyek tersebut.


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…