RIAUBOOK.COM - Nilai tukar mata uang asing terhadap rupiah semakin tinggi, saat ini mencapai lebih dari Rp 14.000 per 1 USD (Dolar Amerika), hal itu diharapkan bisa berdampak baik bagi Provinsi Riau yang notabene menjadi daerah dengan komoditi ekspor.
" Kita akan diskusikan dengan Bank Indonesia (BI), sekarang kurs sudah Rp 14.250, apa dampaknya bagi perekonomian Riau, karena Industri kita kan tidak berbahan baku impor, komoditi kita itu berorientasi ekspor, berbahan baku domestik, apalagi berbasis sumberdaya alam, mestinya kenaikan kurs Dolar itu berdampak baik bagi perekonomian," kata Sekertaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Riau Ahmad Hijazi, Jumat (25/5/2018).
Kata Sekda, secara teori, harusnya selama dua bulan kedepan Provinsi Riau mengalami peningkatan nilai ekspor.
"Kita berbeda dengan Batam yang kebutuhan bahan baku industrinya masih dominan dengan impor, ketika terjadi pelemahan terhadap rupiah, akan sangat sangat signifikan dampaknya bagi keberlangsungan industri mereka," ujarnya.
Sementara, dihari yang sama, Kepala Dinas Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Riau Indra Agus Lukman mengatakan, kalau dilihat dari sektor Migas, pengaruh kenaikan Dolar terhadap Rupiah tidak terlalu besar dampaknya bagi pendapatan daerah.
"Kalau naiknya fluktuatif seperti itu, dia akan tetap hitungannya seperti sebelumnya, karena lifting kita kan per triwulan, tapi kalau dilihat sebagai komoditi ekspor itu mempengaruhi, secara langsung dan tidak langsung, kenaikan Dolar ini juga kan tidak hanya terhadap Rupiah, semua mata uang asing juga seperti itu," kata Indra kepada RiauBook.com. (RB/Dwi)



Riau Pesisir: Merancang Garis Depan Kemakmuran
SAYA menulis catatan ini bukan dari ruang seminar, tapi dari jalan lintas ke Dumai yang hampir tiap pekan saya lewati.…