Riau Book - Pengelolaan Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) menjadi yang pertama dan ini alternatif untuk mengatasi krisis listrik nasional yang sejauh ini masih mendera.
Nah, PLTBG dibangun pertama kali di DK-1 SKPF Desa Rantau Sakti, Kecamatan Tambusai Utara, Rokan Hulu (Rohul), Riau, dengan kapasitas 1 Mega Watt (MW), dan dinilai berhasil. Kini jadi pilot project atau percontohan di Indonesia. (Baca: Bus adu kambing)
Hal tersebut dijelaskan Kasi Analisa dan Evaluasi Program Bio Energi dari Direktorat Jenderal EBTKE Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Trois Dilisusendi ST ME, di Hari Ulang Tahun (HUT) perdana PLTBG Rantau Sakti di kantor Desa Rantau Sakti, Tambusai Utara, Rohul, Kegiatan HUT ke 1 PLTBG juga diwarnai dengan pemotongan nasi tumpeng.
Kades Rantau Sakti, Purwadi menyatakan, PLTBG di desanya yang menggunakan limbah cair atau POME dari PT Arya Rama Prakasa diresmikan Wakil Menteri ESDM Soesilo Siswoutomo pada 16 September 2014 lalu. Satu tahun beroperasi, PLTBG ini telah menerangi sekira 1.870 rumah di Desa. Rantau Sakti, dan dua desa tetangga, yakni Rantau Kasai Desa Tambusai Utara dan Desa Mahato Sakti. "Target awal, dengan adanya PLTBg bisa terangi 1.050 KK atau rumah. Namun, pelanggannya sudah capai 1.870 rumah," sebut Purwadi.
Katanya lagi, arus PLTBg sama besarnya dengan arus listrik PLN. Namun, biaya iuran lebih mahal dari listrik PLN, karena untuk menggaji karyawan. Diakuinya, dari daya 1 MW baru 50 persen arus terpakai untuk menerangi sekira 1.870 KK. Ia memperkirakan, daya 1 MW ini bisa menerangi sekira 3.000 rumah di Tambusai Utara. (Baca: Polisi main judi)
Purwadi menambahkan, sebelum ada PLTBg, penerangan warga di desanya masih memakai Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) yang masih memakai solar subsidi sekira 2.000 liter per malam. Begitu pun, biaya iuran lebih mahal dari iuran PLTBG.
Selain memudahkan warga, Purwadi mengharapkan bantuan kompor listrik dari Kementrian ESDM. Ia menjelaskan, dari data desa, sekira 7.500 tabung gas terpakai per bulan. Namun, karena gas juga kadang sulit ditemukan, alangkah baiknya warga memakai kompor listrik.
Sementara, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Rohul Drs. Yusmar M.Si yang mewakili Bupati Rohul Drs H Achmad M.Si mengatakan, Rohul diuntungkan jika dibangun PLTBG, sebab luas perkebunan kelapa sawit sekira 422.995 hektar milik 58 perusahaan.
Katanya lagi, dengan produksi crude palm oil (CPO) tersebar di 34 pabrik kelapa sawit (PKS) mencapai 1.035.749 ton per tahun, tentu akan sangat membantu PLTBG dalam penyediaan limbah cair atau POME. (Baca: Jokowi marah)
Kemudian, selain PLTBG Rantau Sakti, rencananya Pemkab Rohul akan membangun PLTBG di Desa Payung Sekaki, Tambusai Utara, berkapasitas 1,5 MW. Pembangkit ini masih proses izin dan menunggu pembangunan.
Dimana pembangunan PLTBG bekerjasama dengan PT Merangkai Artha Nusantara, akan dibiayai penuh oleh PT Pasadena Engineering Indonesia (PEI) selaku investor, dengan perkiraan dana antara Rp 40 miliar hingga Rp 45 miliar. "Untuk tahap studi kelayakan sudah, namun masih menunggu proses perizinan," ucap Yusmar.
Yusmar juga mengakui, pembangunan PLTBG Rantau Sakti dimulai studi kelayakan dan kontruksi mulai 2012 hingga Juni 2013. Awal 2014, mulai tahap uji coba operasional (commissioning), dan 16 September baru diresmikan oleh Wamen ESDM. Dimana tahun ini juga, masih dilakukan pengembangan PLTBG
Kasi Analisa dan Evaluasi Program Bio Energi dari Direktorat Jenderal EBTKE Kementrian ESDM, Trois Dilisusendi akui, di Indonesia baru berdiri sekitar 800 PKS. Bila setiap PKS bisa membangun PLTBG, dipastikan ketersediaan listrik akan terpenuhi, sebab rasio elektrivitas di Indonesia sudah mencapai sekira 84 persen.
Trois sebutkan, bahwa potensi PLTBG dengan memanfaatkan POME sebenarnya ada di seluruh daerah, namun yang terbesar di Indonesia saat ini ada di Sumatera dan Kalimantan.
Rencananyanya, ditahun ini Kementrian ESDM melalui APBN akan membangun 2 unit PLTBG di Sumatera Utara, dan 3 unit PLTBG di Kalimantan. "Ini merupakan program Kementrian ESDM. dalam mengembangkan energi terbarukan di daerah," jelasnya.
Katanya lagi, PLTBG juga membuka akses listrik di daerah dan menyerap tenaga kerja sekira 90 persen. Adanya PLTBG tentu akan industri perumahan semakin tumbuh, dan ikut pengaruhi tingkat pendidikan masyarakat.
"Berharap, dengan dibangunnya PLTBG Rantau Sakti ini jadi motivasi bagi Pemerintah Daerah dalam mengembangkan PLTBG lainnya," harapnya.
Trois mengaku, bahwa pembangunan PLTBG melalui dana APBN berdasarkan proposal pengajuan Pemerintah Daerah. Pemda harus melampirkan DED, lahan, dan ada kerjasama dengan PKS. Bahkan menurutnya, PLTBG Rantau Sakti berhasil dan sudah dijadikan percontohan. Adanya percontohan, dan diharapkan dikembangkan oleh Pemerintah Daerah di PKS lainnya di Indonesia.
Pada HUT pertama PLTBG Rantau Sakti, juga dihadiri Camat Tambusai Utara Gorneng, Kapolsek Tambusai Utara AKP Juli Afdal, sejumlah Kepala Desa di Tambusai Utara, Tokoh Masyarakat, dan warga setempat. Dimana Distamben Rohul, juga sudah mengundang Distamben Provinsi Riau, Distamben Siak, Distamben Pelalawan, Distamben. Bengkalis, namun hanya perwakilan dari Distamben Rokan Hilir yang hadir.
Bentuk ucapan terima kasih ke pelanggan, usai acara HUT, pihak pengelola PLTBG Rantau Sakti membagikan door prize kepada pelanggan yang taat membayar iuran listrik. Berbagai hadiah sediakan oleh pihak pengelola.



Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…