RIAUBOOK.COM - Penggerebekan pesta seks gay di Atlantis Gym, Kelapa Gading menguak fakta mengejutkan. Meskipun seperti tempat kebugaran pada umumnya, namun tempat ini merupakan arena pesta seks kaum gay.
Seperti dikutip dari vivanews.com, Selasa (23/5/2017), tempat ini lebih utama dipergunakan sebagai arena para pria penyuka sesama jenis melampiaskan hawa nafsunya.
"Saya juga kaget ini tiba-tiba datang ini sudah ada garis polisi begini," kata Obi, salah seorang pekerja di ruko sebelahnya.
Diungkapkan Obi, pada hari biasa Senin hingga Jumat, tempat ini selalu sepi. Tapi, di hari libur akhir pekan, Sabtu dan Minggu, terutama menjelang malam hari, tempat itu selalu dibanjiri pengunjung. Bahkan, banyak pengunjung berwajah Arab dan India yang datang.
"Ramai itu kalau weekend, kalau hari-hari biasa mah sepi saja. Jadi yang datang itu ganteng-ganteng, kekar-kekar, kelimis. Mereka macam-macam sih ada orang sini (Indonesia), ada yang India, ada yang kaya Arab juga," kata dia.
Sayangnya tidak ada yang curiga dan mengetahui apa yang dilakukan pria-pria itu di ruko yang tak begitu luas tersebut.
Padahal, berdasarkan penyelidikan petugas kepolisian, setiap hari pengelola arena fitnes menggelar bermacam-macam pesta khusus untuk kaum gay.
Bahkan, dalam sebulan terakhir ini, pengelola terungkap telah menggelar tiga acara besar dengan jumlah peserta mencapai ratusan orang.
Menurut AKBP Nasriadi, untuk menjadi tempat bisnis seks kaum gay, pengelola fitnes menempuh perjalanan gelap yang cukup panjang, berdasarkan penyelidikan, pengelola baru menggelar pesta seks gay di tahun kedua berdirinya Atlantis Gym.
Di tahun pertama ruko beroperasi, lokasi itu memang difungsikan untuk tempat kebugaran. Tapi, lama kelamaan, karena pengunjung fitnes kebanyakan berasal dari kaum gay, pengelola memanfaatkan kondisi itu dengan menggelar pesta-pesta seks untuk meraup keuntungan.
"Tahun kedua dan ketiga baru mulai gituan (pesta gay)," kata Nasriadi.
Tak hanya itu, pengelola fitnes juga mulai berani menyediakan tempat khusus untuk kaum gay. Hal itu semakin memicu kaum gay untuk berdatangan. Apalagi pengelola tak hanya menyediakan tempat berbincang.
Ada tiga lantai, dan masing-masing lantai memiliki fungsi berbeda-beda. Di lantai satu, merupakan lantai utama untuk berbincang. Di lantai dua pengelola menyediakan ruangan khusus untuk menggelar tarian telanjang. Sementara di lantai paling atas, pengelola menyediakan fasilitas khusus bagi kaum gay untuk melampiaskan hasratnya.
Kuat dugaan fitnes hanya modus awal bagi pengelola untuk membuka tempat khusus pesta seks untuk gay. Karena, keuntungan dari menggelar pesta seks ini cukup besar.
Keuntungan yang diraih pengelola dalam satu kali menggelar pesta seks ditaksir bisa mencapai puluhan juta rupiah. Hal itu bisa dihitung dari jumlah peserta pesta seks dan tarif-tarif yang dikenakan.
Seperti saat digerebek, jumlah peserta pesta seks mencapai 140 orang. Sedangkan tarif yang dikenakan kepada satu orang pengunjung tidaklah murah, bahkan, tarif untuk masuk ke dalam tempat fitnes saja, melebihi tarif nonton di bioskop. Sekelas bioskop terkenal di mal besar, tiket menonton hanya berkisar antara Rp50 ribu sampai Rp70 ribu.
Tapi untuk bisa masuk ke ruang pesta seks gay, pengelola membanderol tiket masuk paling murah Rp125 ribu untuk dewasa dan Rp70 ribun untuk anak di bawah umur.
Belum lagi tarif juga disesuaikan dengan hari dan jam-jam pesta digelar. Tarif masuk termahal berlaku hari Minggu untuk peserta pesta seks yang melakukan registrasi setelah jam 4 sore, yaitu sebesar Rp185 ribu.
Dapat dibayangkan, untuk tiket masuk saja pengelola sudah mengantongi penghasilan belasan juta rupiah per acara.
Belum lagi untuk tarif melihat tarian telanjang, dalam pemeriksaan kepolisian, enam penari telanjang memasang tarif yang cukup besar dalam setiap kali beraksi. Tarif dipatok dari harga Rp800 hingga Rp1,2 juta.
Dalam proses hukum pada kasus ini, kepolisian telah menetapkan 10 orang sebagai tersangka dalam pesta seks ini, mereka yang menjadi tersangka di antaranya, pengelola fitnes, dua kasir, sekuriti dan enam pria yang berprofesi sebagai penari telanjang.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana akan mencabut izin usaha dari tempat kebugaran Atlantis Jaya, Kelapa Gading, Jakarta Utara. Hal itu dianggap sebagai penyalahgunaan perizinan.
"Saya minta itu dicabut izinnya, kalau pidananya itu dari Polisi tapi kalau perizinannya dari kami," ucap Pelaksana tugas (Plt) Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat.
Mantan Wali Kota Blitar menegaskan bahwa pencabutan merupakan hak dari Pemprov. Apalagi, kata dia hal tersebut sangat mencemarkan ibu kota.
"Izin usaha kita cabut, kita ambil alih. (Soalnya) sangat mencemarkan nama baik," tegas Politisi PDI Perjuangan. (viva/lip6)
Follow News : Riau | Kampar | Siak | Pekanbaru | Inhu | Inhil | Bengkalis | Rohil | Meranti | Dumai | Kuansing | Pelalawan | Rohul | Berita Riau


Popularitas Film Adaptasi Game dan Komik Meningkat, Penonton Global Semakin Antusias
Riaubook.com-Industri film global terus mengalami perkembangan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu tren yang semakin menonjol adalah meningkatnya…